Latest News

Thursday, May 31, 2012

17 Mantan Imam Anglikan Ditahbiskan Jadi Diakon Katolik




Tiga mantan iman Anglikan yang diangkat sebagai uskup oleh Paus Benediktus XVI
Sebanyak 17 mantan imam Anglikan ditahbiskan menjadi diakon, yang merupakan salah satu kelompok tahbisan terbesar dalam sejarah Gereja Katolik di Inggris.

Semua diakon itu akan melayani di Ordinariat Pribadi Santa Perawan Maria Walsingham. Mulai Januari 2011 Ordinariat itu menjadi yang pertama yang dibentuk berdasarkan �Anglicanorum coetibus,� sebuah konstitusi apostolik yang dikeluarkan Paus Benediktus XVI pada bulan November 2009 untuk memungkinkan penerimaan kelompok Anglikan yang berniat masuk Gereja Katolik.

Pastor James Bradley, juru bicara Ordinariat itu, mengatakan kepada Catholic News Service dalam sebuah wawancara telepon pada 29 Mei bahwa ia telah melakukan beberapa penelitian dari data keuskupan di Inggris dan Wales dan tidak menemukan pentahbisan seperti itu dalam sejarah Gereja.

Ia berharap bahwa semua diakon yang mana sekitar setengah dari mereka sudah menikah, akan ditahbiskan menjadi imam Katolik selama musim panas ini.

�Mereka akan ditahbiskan secara terpisah,� tambahnya. �Mereka akan ditahbiskan oleh uskup lokal, tempat  dimana mereka tinggal.�

Pastor Bradley menambahkan: �Penahbisan ini merupakan momen yang sangat signifikan dalam kehidupan Ordinariat karena hal itu merupakan pertama kali dalam sejarah Ordinariat itu dan dalam Gereja.�


In Spiritu Domini

Wednesday, May 30, 2012

Yang Anda Harus Ketahui Tentang Gereja Katolik Timur


Berikut adalah hal yang harus kita pahami tentang Gereja Katolik Timur :

1) Gereja Katolik adalah Ibu dari Segala Gereja.
Karena itu, di dalam Gereja Katolik terdapat segala Tradisi, Pengungkapan Iman, Ajaran, yang terlengkap dan Apostolik, artinya berasal dari Para Rasul sendiri.
 
2) Gereja Katolik terdiri dari 23 Gereja Partikular, yaitu 1 Gereja Ritus Barat dan 22 Gereja Ritus Timur.
 Dan Para Bapa Konsili Vatikan II menyerukan kembali bahwa ke 23 Gereja tersebut memiliki derajat, kehormatan, kewajiban dan hak yang sama; berikut dengan kekayaan rohani yang dimilikinya.

3) Gereja Katolik Timur memiliki Kitab Hukum Kanonik sendiri, yang berbeda dengan KHK Gereja Katolik Roma, dikarenakan keunikannya.

4) Apakah Gereja Katolik Timur tunduk pada otoritas Paus Roma?
Ya! Tapi agak berbeda dengan Gereja Katolik Roma. Gereja Katolik Roma tunduk kepada Paus Roma karena memang beliaulah pemimpin langsung Gereja Katolik Roma. Paus Roma adalah Patriark Gereja Barat a.k.a. Gereja Katolik Roma. Dan sesuai Tradisi Suci, Paus Roma adalah Primus Inter Pares (Yang Pertama di antara yang Setara) dalam tata Gereja Universal, sebagaimana Rasul Petrus menempati tempat pertama dalam tata Para Rasul yang setara. Gereja Katolik Timur memiliki Pemimpin/Patriarknya sendiri, dan kepada mereka Gereja Katolik Timur tunduk secara langsung. Karena Gereja Katolik adalah keluarga Surgawi di atas bumi, bisa dianalogikan sebagai berikut : Paus Roma adalah anak ke1, Patriark Katolik Timur adalah anak ke 2 dst. Putra putri Gereja Katolik Timur tentu menghormati dan tunduk kepada Paus Roma sebagai yang dituakan, tapi berbeda dengan hormat dan tunduk putra putri Gereja Katolik Roma kepada Paus Roma. Demikian pula hubungan Patriark Gereja Katolik Timur terhadap Paus Roma. Paus Roma adalah Saudara Tertua yang pantas dihormati dan didengar suaranya. Maka sebaliknya Paus Roma terhadap Patriark Gereja Katolik Timur adalah sebagai Saudara Tertua yang meneguhkan saudara-saudaranya, sesuai sabda Tuhan kepada Petrus, "dan kamu, teguhkanlah saudara-saudaramu yang lain". Karena itu, sepanjang sejarah Gereja, sistem yang digunakan dalam Gereja Universal adalah sistem sinodal/konsili. 

5) Bagaimana pola pikir dan cara pandang Gereja Katolik Timur?
Gereja Katolik Timur adalah "Gereja Timur yang bersatu dengan Gereja Barat aka Gereja Katolik Roma dalam Gereja Katolik". Maka : I) GKT tetap memiliki dan mempertahankan, atau apapun yang terjadi akan kembali lagi, pada Tradisi, Pengungkapan Iman, Pendekatan Iman kekristenan Timur; sekaligus II) menerima seluruh ajaran dan pengungkapan iman GKR, tapi tidak mengadopsinya. Karena memiliki cara pengungkapan sendiri. Analoginya seperti ini : Semua orang tahu bahwa Karbohidrat adalah sumber tenaga yang esensial bagi tubuh. Orang Barat mengungkapkannya dengan Roti. Orang timur pun setuju dengan hal tersebut, tapi bukan berarti harus memakai Roti juga untuk memenuhi Karbohidrat, melainkan dengan Nasi atau Jagung sesuai dengan tradisi timur. Artinya 1 kebenaran yang diungkapkan dengan cara-cara yang berbeda yang tidak saling bertentangan.

By : David Constantiyn Senduk

Saturday, May 26, 2012

Pater, Pergilah Menerima Sakramen Tobat!


Ada empat alasan utama mengapa banyak imam meninggalkan imamatnya:

1. Karena mereka menolak berdoa setiap hari.

2. Karena mereka tidak berusaha menghindari dosa dan melupakan bahwa kebijaksanaan adalah sains dari Para Orang Kudus.


3. Karena mereka tidak memiliki kerendahan hati dan keberanian untuk menerima Sakramen Tobat yang kudus secara benar dan teratur.

4. Karena mereka hidup dalam keadaan berdosa berat tetapi tetap merayakan Ekaristi. Bila imam dalam keadaan berdosa berat tetap merayakan Misa Kudus, maka ia telah melakukan dosa sakrilegi (melecehkan hal-hal yang suci) sekalipun Misa yang dirayakannya tetap sah. Kemudian, bila imam berada dalam keadaan berdosa berat, bagaimana bisa ia memberi homili dalam inspirasi, terang dan kekuatan Roh Kudus? Bagaimana bisa ia memberi homili sementara ia terikat pada dosa berat?

Pesan dari dombamu: Romo/Pater, pergilah untuk menerima Sakramen Pengakuan yang kudus, dan kemudian jadilah pengkhotbah yang mengagumkan. Roh Kudus akan berbicara kepadamu dan melaluimu, dan engkau akan menyelamatkan ribuan jiwa yang sedang berjalan menuju neraka.

Suatu hari di sebuah paroki, St. Yohanes Maria Vianney, Imam Kudus dari kota kecil Ars, menerima kunjungan dari seorang imam muda. Imam muda ini memiliki ketertarikan yang besar untuk mengenal Imam Kudus dari Ars ini secara pribadi. Setelah makan siang, Imam Kudus ini berkata kepada imam muda tersebut: �Apakah dirimu bersedia untuk mendengarkan pengakuan dosa saya?� Imam muda ini seketika tersungkur dari kursinya mendengar permintaan dari Imam Kudus yang mengagumkan dan terkenal akan kekudusannya. Santo-Santa mengaku dosa, menerima Sakramen Tobat! Dan mereka yang menerima Sakramen Tobat menjadi Santo-Santa.

Remember...

If the priest is a saint, his people will be holy.
If the priest is holy, his people will be good.
If the priest is good, his people will be fair.
If the priest is fair, his people will be mediocre.
If the priest is mediocre, his people will be bad.

Silahkan sebarkan artikel ini kepada para imam kita sebab sebagai umat pun, kita mempunyai hak dan kewajiban untuk mengingatkan para imam kita agar mengusahakan kekudusan hidup mereka sendiri. Pax et Bonum

Artikel ini dimuat juga di Buletin Lentera Iman milik Komsos Keuskupan Agung Makassar edisi 41 Juni 2012

Friday, May 25, 2012

Katolik Kafetaria



Katolik Kafetaria? Apa itu? Aliran barukah? Gereja barukah?

Bukan, Katolik Kafetaria bukanlah aliran baru atau Gereja baru. Katolik Kafetaria bukanlah istilah resmi dalam Gereja Katolik, melainkan istilah yang dibuat oleh orang Katolik di barat sana untuk menggambarkan orang-orang Katolik yang memutuskan untuk taat dan mengimani  ajaran-ajaran Gereja Katolik yang mereka sukai dan menolak ajaran-ajaran Katolik yang mereka tidak sukai. Mereka menyukai suatu ajaran Katolik lalu menaatinya dan menggembar-gemborkannya kepada orang lain. Tetapi ajaran yang tidak mereka sukai, mereka tidak taati dan kemudian mereka abaikan serta tentu tidak mereka wartakan kepada orang lain.


Hal ini tentulah salah. Hal ini yang tepatnya dilakukan oleh Martin Luther dan Calvin pada abad ke-16. Martin Luther dan Calvin, dua "Bapa Reformator" pertama, mencintai dan mengimani ajaran-ajaran Katolik mengenai Bunda Maria, termasuk Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda dan Bunda Maria Perawan Selamanya. Tetapi, Martin Luther dan Calvin menolak dan membuang ajaran Api Penyucian (Purgatorium) dan Keutamaan Paus yang telah diajarkan oleh Gereja selama 1500 tahun pada masa mereka. Tentu, Martin Luther dan Calvin tidak punya otoritas untuk menentukan ajaran yang benar dan yang salah tetapi mereka menekankan opini pribadinya. Luther sendiri juga menyebut Paus sebagai Antikristus, dan Gereja Katolik sebagai Pelacur Babilonia. Dengan kata lain, Luther adalah salah seorang Katolik Kafetaria.

Katolik Kafetaria masa sekarang tidak ada bedanya dengan Martin Luther dan Calvin, kecuali mereka tidak meninggalkan dan mendirikan gereja mereka sendiri yang dinamai dengan nama mereka. Tidak sedikit pula dari mereka yang menentang Paus dan menolak otoritas mengajar Gereja Katolik seperti yang tertulis pada Katekismus Gereja Katolik. Orang Katolik yang berpandangan liberal sangat menyukai ajaran Gereja mengenai keadilan sosial, imigrasi, dan pelayanan kesehatan, tetapi mereka sangat membenci ajaran Gereja Katolik mengenai kontrasepsi buatan, aborsi dan homoseksualitas. Jadi mereka dengan sendirinya menjadi �Paus� bagi diri mereka sendiri, menentukan apa yang benar dan apa yang salah bagi diri mereka sendiri.

Di sisi lain, orang Katolik yang berpandangan ultra-tradisional mencintai ajaran Gereja mengenai Perayaan Ekaristi, Para Malaikat, Liturgi tetapi mereka sendiri juga menolak Paus, terutama karena �Misa Baru� yaitu Misa Forma Ordinaria/Novus Ordo yang Gereja Katolik rayakan secara luas sekarang. Mereka juga menolak Konsili Vatikan II dan menganggap konsili ini sesat. Mereka hanya menginginkan Misa Latin Tradisional/Tridentinum dan percaya dalam hati mereka bahwa Misa yang sekarang adalah sesat. Mengenai hal ini, Gereja Katolik menyatakan bahwa Misa Forma Ordinaria/Novus Ordo dan Misa Forma Ekstraordinaria/Tridentinum/Misa Latin Tradisional adalah sama-sama sah dan tidak dilarang untuk dirayakan di seluruh Gereja Katolik yang ada di dunia. Mereka ini disebut sedevacantist, yaitu orang yang percaya bahwa Tahta St. Petrus saat ini masih kosong sejak tahun 1958 ketika Paus Pius XII meninggal. Bagi mereka, Paus sesudah Paus Pius XII adalah paus sesat (yaitu Paus Yohanes XXIII, Paus Paulus VI, Paus Yohanes Paulus I, Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI)

Kedua tipe orang Katolik seperti ini adalah salah. Kita sebagai awam tidak mengambil dan memilih mana ajaran-ajaran Gereja Katolik yang ingin kita percayai dan mana yang tidak. Yesus mendirikan Gereja Katolik pada tahun 33 AD, di mana Ia memberikan kunci-kunci Kerajaan Surga kepada Petrus, yang meneruskan kunci-kunci tersebut kepada para paus penggantinya. Yesus berkata bahwa alam mau tidak akan menguasai Gereja-Nya. (bdk Mat 16:18-19). Berkata bahwa paus setelah tahun 1958 adalah sesat maka hal ini berarti bahwa alam maut telah berhasil melawan Gereja-Nya.

Yesus juga menjanjikan bahwa Roh Kudus akan membimbing Gereja-Nya kepada kebenaran. Meyakini bahwa ajaran Gereja salah mengenai kontrasepsi buatan dan aborsi, berarti meyakini bahwa Roh Kudus membimbing Gereja pada kekeliruan.

Gereja Katolik bukanlah seperti kafe di mana kita dapat memilih mana yang kita suka dan mana yang tidak. Dalam Gereja Katolik, kita tidak dapat memutuskan mana ajaran resmi Gereja yang benar dan mana yang tidak berdasarkan penafsiran kita pribadi atas Kitab Suci dan Tradisi Suci. Seperti kata Uskup Agung Charles Chaput, OFM. Cap., Uskup Agung Philadelphia: �If they don�t believe what the church teaches, they�re not really Catholic.� dan seperti kata St. Ignatius Loyola yaitu bahwa kita harus �berpikir bersama dengan Gereja, sentire cum Ecclesia�, mengikuti pikiran Gereja.

Beberapa ayat Kitab Suci mengenai Ketaatan:

Mat 16:18-19 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Mat 28:19-20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Rom 1:5 Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.

2 Kor 9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,

2 Tes 2:15 Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada tradisi-tradisi yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.

1 Yoh 4:6 Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.

1 Pet 1:14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,

1 Pet 1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.


pax et bonum 


Inilah Persepsi Salah Masyarakat Tentang Lady GaGa


Setelah penolakan habis-habisan dari para pemuka agama, kini giliran Polda Metro Jay yang justru menyarankan bahwa konser Lady GaGa tidak digelar di Indonesia. Namun demikian, memang belum ada kepastian apakah konser yang akan digelar 3 Juni mendatang ini akan dibatalkan atau tidak.
Penolakan masyarakat memang bukan tanpa alasan. Banyak persepsi buruk yang memang berkembang di masyarakat soal penyanyi 26 tahun tersebut. Parahnya, persepsi yang sudah mengakar kuat ternyata tak didukung oleh bukti yang kuat. Apa saja persepsi itu?


1. Lady GaGa Waria
Gosip yang mengatakan bahwa wanita yang terlahir dengan nama Stefani Joanne Angelina Germanotta ini adalah waria telah berkembang sejak awal karirnya. Hal itu mungkin diperparah dengan munculnya alter ego Lady GaGa yang bernama Jo Calderone.

Namun demikian, munculnya alter ego jelas bukan pembuktian dalam hal ini, karena Jo Calderone sendiri hanya muncul untuk kepentingan syuting video klip dan pemotretan. Selain itu hingga kini tak ada bukti yang bisa membuktikan bahwa pelantun Born This Way ini adalah seorang lelaki.


2. Lady GaGa Pemuja Setan
Anggapan inilah yang kemungkinan besar membuat orang berpikir seribu kali untuk menerima Lady GaGa. Dia dan sejumlah artis lain seperti Beyonce Knowles, Jay Z dan Rihanna disinyalir sebagai pengikut aliran illuminati yang sedang merencanakan untuk menguasai dunia.

Kostum nyentrik GaGa pada akhirnya juga menjadi salah satu penguat bukti tersebut. Ditambah lagi, seorang petugas hotel pernah bersaksi bahwa dia menemukan banyak ceceran darah di kamar yang pernah disewa Lady GaGa.
Namun satu hal yang perlu dicatat, bukti yang kuat belum ditemukan tentang itu. Kostum unik belum tentu mengandung unsur setan, sedang soal ceceran darah, banyak yang beranggapan bahwa itu hanyalah ceceran cat yang sebelumnya digunakan GaGa dalam penampilannya.
Soal video-video yang dianggap memiliki unsur illuminati ternyata tidak disutradarai oleh GaGa, sedangkan video yang disutradarai GaGa ternyata malah tak mengandung unsur setan.


3. Lady GaGa Pemuja Wanita
Tak hanya pemuja setan, GaGa ternyata juga dianggap sebagai orang yang menganggap wanita sebagai Tuhan. Padahal faktanya, penganut Katolik yang sempat bersekolah di Convent of the Sacred Heart ini selalu menyebut nama Tuhannya, Yesus Kristus saat menggelar konser Monster Ball tahun lalu.


4. Lady GaGa Ikon Gay
Karena getol melakukan kampanye persamaan hak kaum lesbian, gay, transgender dan biseksual, dia pun mendapat tempat tersendiri di antara kaum tersebut. Hal itu juga diperkuat dengan pengakuan seorang remaja Inggris yang telah menjadi transgender atas dorongan Lady GaGa.

Sejatinya, GaGa hanya berusaha untuk menghargai hak sesama manusia, seperti yang diajarkan di semua agama. Sayangnya usaha Lady GaGa tersebut malah mendapat tudingan miring dari masyarakat. Dia malah dianggap sebagai icon gay!


5. Baju Daging Lady GaGa
Selain diprotes PETA, baju daging yang dikenakan GaGa beberapa tahun silam ternyata masih menyisakan kontroversi hingga kini. Banyak orang yang beranggapan bahwa baju tersebut sangat menjijikkan, bau, dan tentunya dipenuhi belatung.

Faktanya, hal itu salah besar! Baju daging yang rencananya juga akan dikenakan lagi dalam rangkaian tur Born This Way Ball tersebut ternyata terbuat dari 100% daging asli yang telah melalui proses pengawetan panjang. Tak hanya bebas belatung, baju itu juga berbau wangi. Tentunya takkan ada bintang yang mau mengenakan baju penuh belatung dan bau, kan?



6. Lady GaGa Selalu Tampil Seksi
Selalu tampil seksi, itulah yang mungkin dipikirkan orang tentang Lady GaGa. Faktanya hal itu tak sepenuhnya benar. GaGa juga kerap tampil di depan umum dengan gaya yang sangat sopan.

Saat tidak berada di atas panggung, GaGa juga kerap muncul dengan busana normal yang menutupi tubuhnya. Selain itu, dia pernah tampil dalam balutan yang 100% tertutup untuk penampilan di tur Born This Way Ball tahun ini.


7. Lady GaGa Lakukan Operasi Plastik
Beberapa orang sempat menyebut GaGa sempat melakukan operasi plastik di bagian wajah, serta memasang tanduk di wajahnya. Faktanya hal itu sama sekali salah. GaGa selalu mengajarkan fans untuk mencintai tubuh apa adanya.

Jangankan operasi plastik, GaGa bahkan menganjurkan fans untuk tak melakukan diet. Terkait tanduk di wajahnya, itu hanyalah aksesoris yang kini sudah tak dikenakan lagi.


8. Lady GaGa Tidak Bermoral
Entah dari mana asal persepsi yang menyatakan GaGa tidak bermoral. Satu hal yang pasti, dia adalah sosok yang sangat dikagumi karena perjuangannya melawan bullying.

Selain itu, dia juga aktif memberdayakan kaum muda lewat Born This Way Foundation miliknya. Tak hanya itu, dia juga beberapa kali membantu korban bencana alam. Selain membantu korban gempa Haiti (2010) dan gempa Tohoku (2011) masih banyak lagi aktivitas sosial yang mungkin tak dipublikasikan.


9. Lagu Yang Menyesatkan
Lagu-lagu seperti Born This Way,Judas dan Alejandro seringkali menjadi sasaran empuk banyak pihak yang memutar balikkan arti di baliknya. Lagu Alejandro misalnya, banyak orang menganggap lagu tersebut sebagai berikut, Alejandro adalah Allah, Fernando adalah yesus, Roberto adalah roh suci.

Faktanya, Alejandro adalah Alexander McQueen (alm), Fernando adalah Fernando Garibay dan Roberto adalah Rob (Roberto) Fusari. Semuanya adalah teman-teman GaGa. Alexander yang dalam bahasa Spanyol berarti Alejandro. Hal itu dijabarkan oleh salah satu Little Monster yang menulis di laman Lady GaGa Indonesia.
Berbagai kesalahan persepsi tersebut pada akhirnya menimbulkan fanatisme negatif yang berdampak kurang baik. Setelah membaca fakta-fakta tersebut di atas, tentunya Anda sendiri yang bisa menilai. Bagaimana?





Thursday, May 24, 2012

Hidayat Nurwahid Siap Rangkul Umat Katolik




Menyelesaikan persoalan sosial di Jakarta harus menggandeng banyak pihak, tanpa melihat latar agama atau suku. Banyak titik kesamaan yang bisa ditemukan dalam keberagaman.

Hal ini disampaikan cagub DKI Hidayat Nurwahid dalam dialog Cagub�Cawagub DKI Jakarta yang dihelat Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta (FMKI � KAJ) di Aula Gereja Katedral, baru-baru ini.

�Terlalu banyak titik temu yang harus kita tumbuh kembangkan, yang bisa kita lakukan untuk membina kerukunan antarumat beragama,� tutur Hidayat.

Mantan Ketua MPR ini mengatakan, ada banyak visi dirinya yang sejalan dengan visi umat Katolik Jakarta. Visi itu seperti keberpihakan terhadap masyarakat miskin dan lemah,  kesetaraan pendidikan, kesehatan, dan juga kesetaraan ekonomi.

Hidayat berkomitmen akan selalu melibatkan umat agama apapun, termasuk Katolik untuk terlibat aktif dan positif dalam berbagai program pembangunan Ibu Kota.

Pria yang selalu berseragam batik orange ini pun mengatakan bahwa ketika ia menjadi ketua MPR RI, orang nomor 2 di kesekjenan adalah orang beragama Katolik.

Lebih dari itu, ketika ia memimpin PKS, saat terjadi banjir besar di Jakarta, banyak gereja-gereja yang mempercayai PKS untuk menyalurkan bantuan korban bencana banjir.
�Bahkan gereja-gereja dari luar negeri sekalipun,� pungkas Hidayat.


Sumber :

Tuesday, May 22, 2012

Film SOEGIJA Jadi Kontroversi

Banyak orang menilai bahwa film ini akan mempengaruhi iman seseorang jika menontonnya.

Di BIOSKOP mulai 7 Juni 2012

Kontroversi mengenai film Soegija marak dibicarakan di dunia maya dan Blackberry Messenger (BBM). Banyak orang menilai bahwa film ini akan mempengaruhi iman seseorang jika menontonnya. Mendengar hal itu, salah satu pemain dalam film ini, Butet Kertaradjasa menyayangkan adanya pendapat seperti itu.

"Tidak akan ada iman seseorang itu berubah hanya karena menonton karya seni. Saya kasihan kenapa orang berpikir sedangkal itu. Sama halnya dengan orang beli makan nanya ini yang masak agama apa, udah sunat belum? Kan lucu. Gosip itu saya anggap promosi gratisan aja," tutur Butet saat ditemui di Ballroom Hotel Gran Melia, Kuningan, Selasa, 16 Mei 2012.

Pemain teater yang juga komedian ini juga menambahkan bahwa film garapan Garin Nugroho ini bukanlah film tentang keagamaan seperti yang ramai dibicarakan.

"Ini film tentang manusia yaitu seorang uskup pertama di zaman perang. Banyak perannya untuk negara ini salah satunya menghentikan perang 5 hari di Semarang antara Jepang, gerilyawan, dan pasukan Belanda," katanya.

Di film ini, Butet berperan sebagai Koster Toegimin. Untuk mendalami karakternya tersebut, ia bertemu langsung dengan seorang koster di salah satu gereja. Film yang juga melibatkan sejumlah seniman ternama seperti Landung Simatupang, Djaduk Ferianto, Nirwan, dan Olga Lidya ini akan tayang 7 Juni 2012 mendatang.

Butet berharap film ini dapat menumbuhkan semangat nasionalisme dan memberi inspirasi tentang multikultural dalam basis nasionalisme.

"Jadi film ini tujuannya untuk menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme, kemanusiaan dan bagaimana harus bersikap dalam situasi yang tidak stabil," tambahnya.

Sumber :

Saturday, May 19, 2012

Ajaran Sesat Collyridianisme

St. Epifanius dari Salamis

Hampir semua ajaran sesat yang menyerang pada abad-abad pertama Gereja Katolik berkaitan dengan Tritunggal atau Kristologi. Namun ajaran sesat Collyridianisme berbeda. Ajaran sesat ini berkaitan dengan Mariologi di mana sekte Collyridianis ini mengajarkan penyembahan dan penuhanan terhadap Bunda Maria.

Bidaah ini hadir pada sekitar tahun 350-450 di wilayah Arabia. Tidak diketahui siapa pendiri sekte ini dan sedikit sekali informasi yang bisa kita ketahui sekarang tentang sekte ini. Selain itu, tampaknya karena bidaah ini hadir pertama-tama di Arabia, maka orang-orang di sana kemudian menyangka bahwa Allah Tritunggal adalah Bapa, Yesus Kristus dan Bunda Maria. Sampai sekarang pun kita masih bisa mendengar sangkaan seperti ini.


Kesesatan Collyridian ini sederhana: Mereka menyembah Bunda Maria. Hal ini secara langsung bertentangan dengan pengajaran Gereja Katolik yang mengutuk penyembahan berhala yang juga telah dikutuk oleh Allah sendiri: �Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.� (Kel 20:3; Ul 5:7) Devosi terhadap Bunda Maria dalam sekte ini kemudian dikembangkan sebagai Penyembahan (Idolatri/Pemberhalaan) terhadap Bunda Maria. Gereja Katolik memang mengajarkan penghormatan tinggi (hiperdulia) terhadap Bunda Maria yang diyakini Perawan Selamanya, Bunda Allah, Pengantara Segala Rahmat, dll. Tetapi sekte ini melewati batas seharusnya dalam penghormatan terhadap Bunda Maria sehingga mereka malah jatuh kepada penyembahan terhadap Bunda Maria.

Detail mengenai Collyridianisme ini sangat sedikit tetapi secara spesifik kita bisa mengetahui bahwa sekte ini mempersembahkan Kurban Ekaristi kepada Bunda Maria. Hal ini bertentangan dengan Gereja Katolik yang selalu mempersembahkan Kurban Ekaristi kepada Allah dan tidak kepada yang lain termasuk Bunda Maria. Illustrasinya demikian: Dalam Doa Syukur Agung I (Pertama) terdapat teks:
Oleh karena itu ya Bapa, kami mengenangkan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang telah menderita bangkit dari alam maut dan naik ke surga dengan mulia. Kami, umat-Mu, mempersembahkan kurban yang suci murni, yakni Roti Kehidupan Abadi dan Piala Keselamatan Kekal.�

Namun, dalam sekte ini, doa ini digubah sedemikian rupa sehingga kira-kira menjadi demikian untuk menunjukkan kurban Ekaristi dipersembahkan kepada Bunda Maria,
Oleh karena itu ya Bunda Maria, kami mengenangkan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang telah menderita bangkit dari alam maut dan naik ke surga dengan mulia. Kami, umat-Mu, mempersembahkan kurban yang suci murni, yakni Roti Kehidupan Abadi dan Piala Keselamatan Kekal.�

Para Bapa Gereja Katolik dengan segera mengetahui keberadaan ajaran sesat ini dan mereka menolaknya. Tokoh terkemuka penentang ajaran Collyridianisme ini adalah Bapa Gereja Epifanius (315-403), Uskup Salamis. Epifanius terkenal sebagai orang yang sangat terpelajar dan pertapa suci. Ia adalah teman dekat St. Hieronimus, seorang Bapa Gereja Barat yang terkenal yang menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke bahasa Latin atas perintah Paus St. Damasus I. Namun, Epifanius ini adalah orang yang dikenal sangat bertemperamen tinggi dan keras sehingga tidak sedikit pula uskup lain yang kesal terhadapnya.

Epifanius membuat tulisan melawan ajaran sesat Collyridianisme dalam buku apologetiknya yang terkenal, Panarion (artinya Kotak Obat-obatan). Buku ini berisi sanggahan-sanggahan Epifanius terhadap lebih dari 80 jenis ajaran sesat yang dia ketahui pada zamannya. Dalam buku ini, dia menyanggah dua ajaran sesat ekstrim dan saling bertolak-belakang mengenai Bunda Maria, yaitu Collyridianisme (yang menuhankan Bunda Maria) dan Antidicomarianitisme, sebuah sekte Arab yang merendahkan dan melecehkan status dan kebajikan Bunda Maria serta mengklaim bahwa Bunda Maria melakukan hubungan suami istri dengan Yosef sehingga Bunda Maria tidak dapat diyakini Yang Tetap Perawan Selamanya. (bdk: Panarion 78:1)

Anggota sekte Collyridianisme adalah pertama-tama para wanita yang mengembangkan kombinasi sinkretistik antara Tradisi Katolik dengan tradisi pemujaan terhadap dewi-dewi pagan. Epifanius menulis:
�Beberapa wanita di Arabia telah memperkenalkan pengajaran yang tak masuk akal dari Thracia: [yaitu] bagaimana mereka mempersembahkan kurban roti dalam nama Maria yang Perawan Selamanya, dan semua [dari mereka] mengambil bagian dalam roti ini.� (Panarion 78:13).

Epifanius menekankan perbedaan antara Bunda Maria dan Allah:
�Sekarang tubuh Bunda Maria memang adalah suci, tetapi itu bukanlah Allah; Perawan [Maria] memang adalah seorang perawan dan dihormati, tetapi ia tidak diberikan bagi kita untuk disembah, melainkan ia sendiri menyembah Dia yang lahir dalam daging dari ia. ... Menghormati Maria, tetapi hendaklah Bapa, Putera dan Roh Kudus disembah, hendaklah tidak seorang pun menyembah Maria, ... sekalipun Maria adalah tercantik dan kudus dan terhormat, tetapi ia ada tidak untuk disembah.� (Panarion 79:1,4)

Bersama Epifanius, kita dapat berkata bahwa siapapun yang menyembah Maria atau ciptaan lainnya berarti telah melakukan penyembahan berhala dan harus ditegur. Kita sebaiknya melihat ke dalam Kitab Suci, pada kasus di mana malaikat menegur St. Yohanes karena tindakannya menyembah malaikat: �Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! ... � (Wahyu 19:10) Tidak diragukan lagi bahwa Santa Perawan Maria sendiri akan berkata hal ini kepada siapapun yang berusaha menyembah dia.

Collyridianisme Modern

Collyridianisme dapat dilihat sekarang dalam berbagai bentuk. Kelompok �Hiper-Marian� dan para penulis yang terlalu meninggikan Bunda Maria dan sangat fokus terhadapnya sehingga tidak jarang mengecualikan Kristus dapat dikatakan bersalah atas usaha penyembahan berhala atau pemuliaan Maria melebihi Kristus. Di samping itu, muncul pula gerakan feminisme modern yang memuja seorang wanita sebagai yang ilahi dan berusaha menggambarkan kembali Allah dalam konteks dan istilah feminis seperti beberapa kelompok wanita Korea di Bandung yang menyebutkan �Allah itu ibu kita.� dsb.

Di samping itu, devosi yang berlebihan oleh umat Katolik dapat dianggap penyembahan berhala. Contoh sederhana ketika kita lebih memilih duduk berdoa Rosario di gua Maria ketimbang melaksanakan kewajiban kita mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari Minggu. Dapat pula devosi berlebihan ini ditunjukkan oleh gelar dan ucapan kita kepada Bunda Maria. Tidak jarang kita mendengar umat Katolik menyebutkan, �Bunda Maria, sumber segala rahmat, ampunilah dosa kami.� Padahal, Sumber Segala Rahmat itu adalah Allah sendiri sedangkan Bunda Maria hanya dapat digelari Pengantara Segala Rahmat karena mengandung Yesus, Putera Allah, Sumber Segala Rahmat itu sendiri. Juga, kita tidak bisa memohon ampun dosa kepada Bunda Maria karena Bunda Maria tidak punya hak untuk itu. Kita dapat meminta Bunda Maria mendoakan kita atau melindungi kita, tetapi meminta ampun dosa tidak dapat kita lakukan kepada Bunda Maria.

Gereja Katolik dalam usaha mencegah devosi berlebihan dan keliru ini, menetapkan agar semua buku doa dan buku devosi mendapatkan Nihil Obstat dan Imprimatur dari hierarki setempat sehingga ada jaminan aman untuk digunakan oleh umat Katolik dan umat Katolik dapat mengetahui gelar apa dan ucapan apa yang diperbolehkan untuk kita berikan terhadap Bunda Maria. Hal ini juga untuk menunjukkan kepada umat non-Kristen Katolik bahwa Gereja Katolik tidak menyembah Bunda Maria seperti yang dilakukan oleh Collyridianis. Juga, umat Katolik dapat berargumen membela ajaran Gereja bahwa Katolik tidak menyembah Bunda Maria dengan menunjukkan fakta bahwa Ekaristi, Puncak Kehidupan orang Katolik, hanya dapat dipersembahkan kepada Allah, tidak kepada Bunda Maria.  


Pax et Bonum. Artikel ini ditulis oleh Indonesian Papist untuk memperingati Bulan Maria, Mei 2012.

Referensi:
Collyridianism oleh Patrick Madrid dalam Majalah Katolik, �This Rock� edisi tahun 1994 yang diterbitkan di Amerika Serikat.

Lihat juga:
Diskusi Indonesian Papist dengan umat Protestan yang menganggap Gereja Katolik menuhankan Bunda Maria karena Gereja Katolik mengajarkan Bunda Maria Tanpa Noda Dosa.

Thursday, May 17, 2012

Respon terhadap Respon Romo Daniel Bambang dari Gereja Orthodox Indonesia

Para Kepala Gereja Katolik Timur

Hari ini, Kamis 17 Mei 2012, tepat pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus, saya menghadiri seminar sehari di Bandung yang diadakan oleh Gereja Orthodox Indonesia dengan Romo Daniel Bambang sendiri selaku Pemimpin Gereja Orthodox Indonesia sebagai narasumber utamanya (Di Ortodoks, terdapat pula hierarki seperti Diakon, Imam dan Uskup). Judul seminar itu adalah �Di Manakah Gereja Para Rasul Sekarang?�. Dalam seminar ini, hadir berbagai peserta dari berbagai latar belakang agama berbeda. Ada dari agama Islam, Protestan, Konghucu, Buddha dsb. Seminar ini diadakan hasil kerjasama Gereja Orthodox Indonesia bersama Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama) dan komunitas Layar Kita.


Karena ini adalah seminar mengenai Ortodoks Timur, maka yang dibahas di sini tentulah sejarah, tradisi, dan teologi berdasarkan pemahaman Ortodoks Timur. Saya maklum soal ini. Tetapi, dalam seminar ini sendiri juga mau tidak mau pembahasan tentang agama lain juga ikut diangkat dan dibandingkan dengan Ortodoks Timur, termasuk mengenai Gereja Katolik.

Dalam artikel ini saya hendak membahas mengenai respon Beliau terhadap koreksi saya atas pernyataan Beliau. Artikel ini sengaja saya tulis dan publikasikan di blog agar dibaca lebih banyak orang. Hal ini karena kekeliruan tentang Ekklesiologi Katolik (mungkin karena ketidaktahuan) yang Beliau katakan di dalam seminar telah didengar oleh banyak orang dari berbagai agama sehingga berpotensi menimbulkan meluasnya pandangan yang keliru mengenai Gereja Katolik.

Dalam buku seminar yang dibagikan dan dalam pemaparan lisan Beliau selama seminar, saya membaca dan mendengar sebuah istilah yang sebenarnya tidak menggambarkan Gereja Katolik secara utuh. Istilah tersebut adalah �Kristen Roma Katolik� dan �Gereja Roma Katolik�. Contoh berikut saya kutip dari buku seminar halaman 9: �Setelah perpecahan itu (Skisma Timur, Red), Gereja Barat itu akhirnya disebut sebagai Gereja Roma Katolik sedangkan Gereja Timur disebut sebagai Gereja Orthodox.� Selanjutnya dalam pemaparan lisan, Beliau dalam usaha mengoreksi pemahaman kata �Kristen� yang kerap diidentikkan dengan Protestan mengusulkan pembedaan nama demikian, �Kristen Roma Katolik, Kristen Ortodoks, dan Kristen Protestan�.

Terminologi �Kristen Roma Katolik� dan �Gereja Roma Katolik� adalah terminologi yang sama sekali tidak menggambarkan Gereja Katolik seutuhnya bahkan hanya mereduksi Gereja Katolik menjadi sebatas Gereja Katolik Roma saja. Padahal, dalam kenyataannya Katolik Roma hanyalah satu dari 23 Gereja Partikular yang sui iuris (otonom/mandiri) di dalam Gereja Katolik (Gereja Universal) di mana Gereja Katolik adalah Bunda Gereja dan 1 Katolik Roma bersama 22 Katolik Timur adalah Puteri dari Bunda Gereja ini. Saya telah membahas mengenai Gereja Universal dan Gereja Partikular ini di artikel berikut ini. Dalam seminar ini, Romo Daniel Bambang telah menyampaikan hal yang keliru mengenai Gereja Katolik dengan menggunakan terminologi tersebut.

Menyadari kekeliruan ini, saya sengaja mengangkat tangan pada sesi tanya jawab untuk bertanya sekaligus mengoreksi kekeliruan ini secara terbuka. Apa yang saya katakan adalah bahwa istilah �Kristen Roma Katolik� bukanlah istilah yang tepat bagi Gereja Katolik karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa Gereja Katolik bukan hanya Katolik Roma saja, tetapi ada pula 22 Gereja Katolik Timur di dalam Gereja Katolik. Gereja-gereja Katolik Timur ini memiliki tradisi yang relatif sama dengan Gereja Timur lainnya seperti Ortodoks (baik Timur maupun Oriental) dan Timur Assyria namun mereka berada dalam persatuan penuh dengan Paus Roma.

Saya pikir koreksi ini kemudian akan diiyakan oleh Sang Romo tetapi yang terjadi justru di luar dugaan saya. Romo Daniel malah menjawab: �Istilah �Kristen Roma Katolik� jangan dipandang dari sisi geografis (Dengan segala hormat, tampaknya Romo Daniel tidak menangkap esensi dari pertanyaan saya. Saya tidak berbicara hal ini dalam konteks geografis tapi dalam konteks ekklesiologi Gereja Katolik). Memang benar bahwa di dalam Roma Katolik ada Gereja Katolik Timur tetapi mereka secara pola pikir dan semangat sama seperti Roma Katolik. Mereka terikat pada hukum kanonik yang sama dengan Roma Katolik dan mereka tunduk pada otoritas Paus Roma. Mungkin mereka secara tradisi sama dengan Ortodoks Timur tetapi mereka secara semangat dan pola pikir adalah Roma Katolik. Mereka tidak sama dengan Ortodoks.�

Di atas adalah jawaban dari Romo Daniel Bambang merespon koreksi terbuka saya kepada Beliau. Menarik melihat bahwa Romo Daniel, dengan segala hormat, tidak memahami dan tidak mengerti tentang Gereja Katolik sehingga menekankan istilah �Kristen Roma Katolik� atau �Gereja Roma Katolik� sebagai istilah yang sesuai untuk Gereja Katolik. Gereja Katolik Timur, secara ekspresi teologi dan tradisi, lebih dekat dan lebih mirip dengan Ortodoks ketimbang dengan Katolik Roma. Gereja Katolik Timur mengimani semua dogma Katolik namun memahaminya berdasarkan teologi dan tradisi Timur mereka sendiri yang khas, bukan berdasarkan teologi dan tradisi Roma. Contoh sederhana adalah mengenai Dogma Maria Diangkat ke Surga. Dalam mengimani dogma ini, Gereja Katolik Roma menekankan pada Diangkatnya Maria ke Surga (Assumption) sementara Gereja Katolik Timur mengimani dogma ini pula tetapi menekankan pada Tertidurnya Maria (Dormition). Dari sini bisa terlihat bahwa ajarannya Katolik Timur dan Katolik Roma adalah sama tetapi ekspresi teologi dan tradisinya berbeda. Silahkan lihat East 2 West tentang pendekatan teologi dan tradisi terhadap dogma dan doktrin Gereja Katolik yang berbeda antara Katolik Roma dan Katolik Timur, namun memiliki inti ajaran yang sama.

Sementara itu, klaim Romo Daniel Bambang bahwa Gereja Katolik Timur terikat pada hukum kanonik yang sama dengan Katolik Roma juga adalah keliru karena Gereja Katolik Timur memiliki kitab hukum kanonik mereka sendiri yang berlaku untuk mereka sendiri, sementara Katolik Roma punya kitab hukum kanonik tersendiri pula. Kitab hukum kanonik Gereja Katolik Timur yang berlaku saat ini disebut Codex Canonum Ecclesiarum Orientalium (Kitab Kanonik Gereja-Gereja Timur). Sedangkan kitab hukum kanonik Gereja Katolik Roma yang berlaku saat ini disebut MCMLXXXIII Codex Iuris Canonici (Kitab Hukum Kanonik 1983). Isi antara kedua kitab hukum kanonik ini jelas berbeda satu sama lain.

Gereja Katolik Timur tidak tunduk pada Paus tetapi bersatu penuh dengan Paus, bahkan mengatakan �Katolik Timur berada di bawah Paus� juga kurang tepat. Setiap Gereja Katolik Timur memiliki kepala Gereja mereka masing-masing. Sebagian dari Gereja-gereja Katolik, kepala Gereja mereka yang baru harus mengonfirmasi ulang persatuan mereka dengan Paus. Gereja Katolik Timur adalah Gereja sui iuris, Gereja yang otonom (self-governing) dan Paus tidak punya otoritas langsung atas Gereja-gereja Katolik Timur ini.

Demikianlah artikel ini saya buat untuk mengoreksi pemahaman yang tidak tepat mengenai Gereja Katolik. Mungkin bagi orang terkenal seperti Romo Daniel dan bagi orang-orang lain di luar sana, artikel ini tidak terlalu penting dan tidak perlu terlalu diperhatikan. Tetapi, dalam ketaatan terhadap Gereja Katolik, koreksi ini perlu saya lakukan dan publikasikan agar kita tidak jatuh atau terpengaruh pada pemahaman yang salah mengenai Gereja Katolik. Sekali lagi, Istilah �Kristen Katolik Roma� atau �Gereja Katolik Roma� sama sekali bukan istilah yang tepat untuk menyebut atau menggambarkan Gereja Katolik karena mereduksi Gereja Katolik menjadi sekadar Gereja Katolik Roma saja.

Pax et Bonum. Indonesian Papist.
Berbagai artikel tentang Katolik Timur bisa dibaca di link ini.

Tentang Kenaikan Yesus Kristus ke Surga


Pengarang Injil memberitakan kenaikan Yesus dengan sangat ringkas. Kisah Para Rasul menyampaikannya lebih luas. Ini berarti bahwa Para Rasul dan generasi Kristen pertama mempunyai kepercayaan yang kokoh dan kuat bahwa Yesus telah naik ke surga. Yesus telah hidup di surga. Kepercayaan mereka tentang hal ini tidak tergoyahkan lagi. Pandangan mereka hanya diarahkan ke atas, dari mana mereka mengharapkan kedatangan Penebus pada akhir zaman. Pemberitaan tentang kenaikan Yesus pada hari keempatpuluh tidak bersifat suatu perpisahan atau suatu pemutusan hubungan. Karena itu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. (Luk 24:52).


Markus dan Lukas memberi kesan seakan-akan kenaikan Yesus berlangsung pada hari kebangkitan itu sendiri. Yohanes memberikan suatu jangka waktu yang lebih panjang, sedangkan Kisah Para Rasul berbicara tentang empat puluh hari.

Rupa-rupanya Para Rasul sudah lebih mengerti daripada sebelumnya. Mereka mengerti bahwa Yesus tidak datang untuk mendirikan kerajaan yang sifatnya duniawi, materiil dan politis. Walaupun demikian mereka masih melekat juga kepada kebesaran lahiriah dan masih memegang kuat pendirian yang bersifat nasional israelitis. Mereka belum dapat berpikir secara universal. Hal itu dapat dilihat dari pertanyaannya: �Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?�. (Kis 1:6). Jawaban Yesus memberikan mereka suatu pandangan yang tepat dan dengan demikian menghilangkan mentalitas keliru yang masih ada. Yesus berkata kepada mereka: �Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea  dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.� (Kis 1:7-8). Jadi Yesus menolak untuk menentukan waktu. Yesus tidak mau membuat sensasi. Yesus hanya menggarisbawahi bahwa kebahagiaan sifatnya universal dan bahwa tugasnya tidak terbatas. Tugas mereka sebagai saksi harus dibawa sampai ke ujung bumi; itu berarti bahwa tugasnya mencakup seluruh bumi. Tetapi untuk tugas itu mereka tidak perlu bersandar pada kekuatan pribadi. Mereka akan menerima bantuan dari atas dalam waktu yang tidak lama lagi. Karena itu: Jangan tinggalkan Yerusalem, tetapi nantikanlah janji Bapa, yang telah kamu dengar. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. (Kis 1:4)

Kisah Para Rasul melukiskan dengan sangat sederhana saat kenaikan Yesus ke surga. Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka. Kis 1:9

Kita dapat mengerti bahwa mata mereka terus mengikuti Yesus dan bahwa hati mereka sangat merindukan kelanjutan kehadiran-Nya. Tetapi harapan mereka hanya tinggal harapan. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik, tiba-tiba berdirilah dua orang yang sedang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: �Hai, orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang naik ke surga meninggalkan kamu akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.� (Kis 1:9-10). Para Rasul mendengar pesan itu. Di dalam hati mereka tidak ada lagi sesal dan duka. Mereka kembali ke Yerusalem. Setelah tiba di sana, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Kis 1:13. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa wanita serta Maria, Ibu Yesus dan dengan saudara-saudara Yesus. (Kis 1:14). Mereka menantikan kedatangan Roh Kudus.

Kenaikan Yesus berlangsung sangat sederhana. Tidak ada keanehan kosmis yang dramatis: langit tidak terbuka: orang tidak melihat malaikat turun menjemput Dia: orang tidak melihat cahaya di langit. Sungguh suatu perbedaan besar dengan kejadian pada saat Ia dibaptis di sungai Yordan dan pada saat Ia dimuliakan di gunung Tabor. Di sini, di tempat kenaikan-Nya orang tidak melihat tanda-tanda kemuliaan Yesus. Ia naik; suatu awan datang menyelubungi Dia dan sejak itu orang tidak melihat-Nya lagi. Hanya sekianlah cerita tentang kenaikan Yesus.

Tetapi kenaikan Yesus mempunyai aspek lain ialah aspek kepercayaan kita. Kristus telah bangkit, bukan untuk menerima kembali kehidupan duniawi, tetapi untuk masuk ke dalam kemuliaan, yang telah diperoleh-Nya melalui kesengsaraan-Nya. Dengan kenaikan itu, Yesus secara definitif dan secara sempurna menerima kemuliaan untuk kemanusiaan-Nya. Kodrat kita memang lemah dan hina, sangat jauh dari Tuhan dan kurang rohani. Tetapi kodrat ini telah dipilih oleh Tuhan dan setelah hilang, dipungut kembali oleh Tuhan, sekalipun harus melalui Jalan Salib dan kematian. Kenaikan Yesus harus memberi kita pengharapan, karena Kristus berada di sana dengan kemanusiaan-Nya. Ia tinggal di sana untuk mempersiapkan tempat bagi kita. Di dalam peristiwa kenaikan Yesus tersisip perjanjian dan jaminan untuk kebahagiaan kekal bagi kita. Di dalam peristiwa kenaikan Yesus tersisip pula suatu peringatan, bahwa mulai dari sekarang kita harus hidup secara surgawi dan harus berpikir secara surgawi.

Pater Herman Embuiru, SVD dalam bukunya �Aku Percaya� halaman 113 dan 114.

Wednesday, May 16, 2012

12 Alasan Mengapa St. Yosef Menikah dengan St. Maria



Doktor Taylor Marshall, seorang Katolik eks-Anglikan, mempublikasikan sebuah artikel berisi penjelasan-penjelasan St. Thomas Aquinas Sang Doktor Para Malaikat mengenai alasan dibalik pernikahan St. Yosef dan St. Maria. Artikel ini bagus untuk diterjemahkan tetapi karena bahasanya cukup sulit, Indonesian Papist akan memberikan sejumlah keterangan tambahan pada bagian yang belum terlalu jelas. Berikut ini terjemahan bebas dari artikel tersebut.


St. Yosef dan St. Maria tentu menikah secara sakramen. Mengatakan bahwa Kristus lahir dari �ibu tanpa suami� adalah tidak benar. Kristus dilahirkan dalam pernikahan suci � pernikahan yang paling suci dalam sejarah kemanusiaan.

Minggu lalu, kami meneliti bagaimana St. Yosef berada dalam aturan Persatuan Hipostatis (persatuan dua kodrat, Allah dan manusia, dalam Yesus Kristus) dan minggu ini kami mengkaji mengapa St. Yosef berada dalam aturan Inkarnasi (Penjelmaan Allah menjadi manusia) dan mengapa adalah hal yang layak dan sepantasnya St. Maria menikah dengan St. Yosef.

St. Thomas Aquinas memberikan kita 12 alasan untuk kelayakan dan kepantasan ikatan mereka (St. Maria dan St. Yosef) dalam pernikahan suci. Salah satu yang paling penting adalah supaya Maria Bunda Allah yang sedang mengandung tidak dirajam di bawah hukum Taurat Musa.

Empat alasan pertama adalah untuk kepentingan Kristus. Tiga berikutnya untuk kepentingan St. Maria Bunda Allah. 5 terakhir untuk kepentingan kita umat-Nya.

Adalah hal yang patut dan sewajarnya bahwa Kristus seharusnya lahir dari seorang perawan bersuami:

1. Pertama-tama untuk kepentingan Kristus sendiri; kedua, untuk kepentingan Ibu-Nya; ketiga untuk kepentingan kita. Untuk kepentingan Kristus sendiri, ada 4 alasan. Pertama, supaya Kristus jangan ditolak oleh orang-orang kafir (unbeliever/yang tidak percaya) sebagai anak tidak sah; karena St. Ambrosius dari Milan berkata mengenai Lukas 1:26-27: �Bagaimana mungkin kita menyalahkan Herodes atau kaum Yahudi bila mereka tampaknya menganiaya seseorang yang lahir dari perzinahan?� (tambahan dari Indonesian Papist: Maksudnya adalah bila Maria tidak menikah dengan Yosef, maka Yesus akan dipandang sebagai anak hasil perzinahan. Dan demikian Herodes dan orang-orang Yahudi berhak merajam St. Maria dan dengan demikian membunuh Kristus. Dengan demikian, kita tidak punya hak dan alasan untuk menyalahkan atau marah kepada Herodes dan orang-orang Yahudi karena mereka menjalankan hukuman tersebut dalam ketaatan mereka terhadap hukum Taurat.)

2. Kedua, agar dengan berdasarkan cara adat istiadat, silsilah Yesus dapat ditelusuri melalui garis pihak laki-laki. St. Ambrosius berkata mengenai Lukas 3:23, �Dia yang datang ke dunia, berdasarkan kebiasaan dunia harus terdaftar sekarang untuk tujuan ini. Adalah laki-laki yang diperlukan karena mereka mewakili keluarga dalam senat atau pengadilan lainnya. Kebiasaan Kitab Suci juga menunjukkan bahwa keturunan dari laki-laki selalu ditelusuri. (tambahan dari Indonesian Papist: Tradisi Patrilineal Yahudi memang menganggap penting silsilah seseorang dari ayahnya sehingga mereka bisa meyakini kredibilitas dan tentunya juga keabsahan identitas Yahudi seseorang tersebut. Demikian pula Yesus Kristus. Hal ini juga untuk menegaskan berdasarkan silsilah bahwa Yesus adalah Putera Daud)

3. Ketiga, untuk keselamatan Putera Allah, Yesus Kristus, yang baru lahir; agar jangan iblis dapat merencanakan luka serius terhadap Kristus. Oleh karena itu St.  Ignasius dari Antiokia berkata bahwa Bunda Maria dinikahi St. Yosef supaya cara dari kelahiran Kristus dapat tersembunyi dari iblis. (Tambahan dari Indonesian Papist: Bila Maria yang sedang mengandung tidak dinikahi oleh Yosef, maka tidak akan ada yang akan melindungi bayi Yesus Kristus. Iblis dapat merencanakan rencana busuk misalnya dengan membuat orang berpikir Bunda Maria harus dirajam sehingga bayi Kristus pun ikut meninggal. Tindakan Herodes yang memerintahkan pembunuhan bayi-bayi juga merupakan rencana iblis agar bayi Kristus ikut dibunuh. Bayangkan bila tidak ada yang membawa Kristus dan Maria mengungsi ke Mesir. Siapakah yang akan melindungi Kristus dan Maria bila Maria tidak memiliki suami?)

4. Keempat, supaya Kristus dapat dibesarkan oleh St. Yosef; yang karena itu disebut ayah-Nya.

Pernikahan St. Yosef dan St. Maria juga adalah layak dan sepantasnya untuk kepentingan Bunda Maria.

5. Pertama, karena dengan demikian ia dibebaskan dari hukuman yang dapat diberikan, yaitu �agar jangan ia (Maria) dilempari batu oleh orang-orang Yahudi sebagai seorang penzinah.� Seperti yang diajarkan oleh St. Hieronimus.

6. Kedua, bahwa dengan demikian Bunda Maria terlindungi dari cemooh atau cap negatif sebagai pezinah. St. Ambrosius berkata mengenai Lukas 1:26-27: �Bunda Maria dinikahi [oleh St. Yosef] agar jangan ia dilukai oleh cap negatif yang melanggar keperawanannya, di mana rahim yang mengandung akan dipandang buruk.�

7. Ketiga, seperti yang St. Hieronimus katakan agar St. Yosef dapat memberikan apa yang St. Maria butuhkan. (Tambahan Indonesian Papist: yang dibutuhkan seperti perlindungan, bantuan mendidik Yesus, menemani Maria menjaga Yesus dsb)

Pernikahan St. Yosef dan St. Maria adalah layak dan sepantasnya untuk kepentingan kita:

8. Pertama, karena Yosef dengan demikian menjadi saksi atas Kristus yang lahir dari seorang Perawan Maria. St. Ambrosius berkata: �Suaminya adalah saksi yang lebih dapat dipercaya mengenai kemurniannya (-nya = Maria), dalam arti bahwa ia akan menyesali �aib� tersebut dan membalas �aib� tersebut, bila ia tidak mengetahui misteri tersebut.� (Tambahan Indonesian Papist: Bila Maria dituduh sebagai seorang pezinah, maka St. Yosef sebagai orang yang tahu akan misteri iman yang terjadi akan maju membela Maria dari tuduhan zinah tersebut.)

9. Kedua, karena dengan demikian kata-kata dari Perawan Maria dipandang lebih kredibel yang mana ia menegaskan keperawanannya. St. Ambrosius berkata: �Keyakinan akan kata-kata Maria dikuatkan, motif untuk berbohong dihapus. Bila ia tidak dinikahi ketika mengandung, Maria akan dipandang berkeinginan untuk menyembunyikan dosanya dengan sebuah kebohongan [bahwa ia masih perawan]: bila dinikahi [oleh St. Yosef], Maria tidak punya motif untuk berbohong karena kehamilan seorang wanita adalah buah dari pernikahan dan memberikan kasih karunia untuk ikatan pernikahan.� Dua alasan ini menguatkan kita akan iman kita.

10. Ketiga, agar semua alasan dihapuskan dari para perawan, yang melalui keinginan daging, jatuh ke dalam kehinaan. St. Ambrosius berkata, �Hal ini tidak menjadi bahwa para perawan tersebut dapat mengekspos diri mereka terhadap kejahatan, dan melindungi diri mereka dengan alasan bahwa Bunda Allah juga telah diberikan cap negatif.� (Tambahan dari Indonesian Papist: Yang dimaksud adalah agar para perawan yang kemudian berzinah tidak menjadikan alasan ketidakmenikahan Bunda Maria sebagai alasan mereka untuk melakukan pembenaran terhadap tindakan zinah mereka. Oleh karena itu, untuk menghindari hal ini, Bunda Maria dinikahi oleh St. Yosef)

11. Keempat, karena dengan hal ini Gereja universal digambarkan; yang mana [Gereja] adalah perawan dan juga dinikahkan dengan satu Pria, Kristus, seperti yang St. Agustinus katakan. (De Sanc. Virg. XII) (Tambahan Indonesian Papist: Pernikahan St. Yosef dan St. Maria menggambarkan Kristus sebagai mempelai pria dan Gereja-Nya, Gereja Katolik, sebagai mempelai Kristus. Gereja dipandang perawan dalam artian bebas dari kesesatan ajaran.)

12. Alasan kelima dapat ditambahkan: karena Bunda Allah adalah seorang yang dinikahi dan seorang yang perawan, baik keperawanan maupun pernikahan dihormati dan dihargai dalam pribadi Maria. Hal ini untuk menentang para kaum sesat yang meremehkan salah satunya atau keduanya. (Tambahan dari Indonesian Papist: Ada bidaah yang menolak ikatan perkawinan dan ada bidaah yang menolak selibat atau niat untuk menjalani hidup secara perawan/perjaka bagi Kristus. Bidaah Nikolasianisme muncul pada abad pertama dan ditolak oleh St. Paulus dan St. Yohanes. Nikolasianisme memandang rendah perkawinan dan menganggapnya hanya sebagai hasil dari keinginan daging. Sementara bidaah menolak selibat muncul dalam sebagian cabang dari ajaran Protestantisme pada abad ke-16 yang menyerang kehidupan para imam dan biarawan/wati yang selibat dan menganggapnya tidak alkitabiah. Pribadi Maria menunjukkan bahwa baik menikah maupun selibat dapat membawa setiap orang kepada kekudusan.)

pax et bonum. Indonesian Papist


Recent Post