Latest News

Friday, March 30, 2012

Tersiar Berita, Islam Ingin Menakhlukkan Roma


Sebuah berita: 

CNA, April 14, 2008

Seorang imam Muslim yang cukup berpengaruh dan merupakan anggota Hamas dalam parlemen Palestina memberikan khotbah pada Jumat lalu di mana ia menyatakan bahwa Roma, ibukota orang Katolik, tidak lama lagi akan diambil alih oleh Islam.

Yuni al-Astal, imam yang dimaksud, memberitahukan pendengarnya bahwa "Sesaat lagi, insya Allah, Roma akan diduduki, sama seperti Constantinopel, seperti yang diramalkan oleh nabi Muhammad. Saat ini Roma adalah ibukota Katolik, ibukota Pasukan Salib, yang telah mengobarkan kebencian terhadap Islam."

Kotbah tersebut telah disiarkan oleh jaringan televisi Hamas Al Aqsa dan memperkirakan bahwa Roma akan menjadi tempat terdepan dalam penaklukan Islam, yang akan menyebar ke seluruh Eropa, kedua Amerika dan bahkan Eropa Timur.

"Allah telah memilih kamu untuk DiriNya dan AgamaNya", seperti yang diungkapkan al-Astal ,"sehingga kamu akan melayani sebagai mesin pendorong perkataan ini ke tahap keberhasilan, keamanan, dan konsolidasi, bahkan penaklukan melalui dakwa dan penaklukan militer semua ibukota di dunia".

Menurut FOXNews, al-Astal berkotbah pada Juni lalu bahwa adalah tugas seorang wanita Palestina untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Saat jihad menjadi tugas individual, itu termasuk wanita juga, karena wanita tidak berbeda dengan pria dalam hal tugas, seperti yang dikatakannya pada wawancara 23 Juni 2007. Dalam wawancara tersebut, al-Astal menyebut kaum Yahudi sebagai saudara kera dan babi yang seharusnya mencicipi kepahitan maut.

Anggota parlemen ini kembali pada kebencian ini pada Jumat lalu, di mana menyebutkan bahwa Roma telah menanamkan saudara-saudara kera dan babi di tanah Palestina untuk mencegah kebangkitan Islam. �Saya percaya anak-anak kita, atau cucu-cucu kita, akan mewarisi jihad kita, pengorbanan kita, dan insya Allah, panglima-panglima penakluk ada di antara mereka�, al-Asta berkata, �Saat ini kita memasukkan kebaikan ini ke dalam jiwa mereka, melalui masjid dan buku-buku Al-Quran, riwayat nabi-nabi kita, pendamping mereka, pemimpin besar, kita mempersiapkan mereka untuk sebuah tugas menyelamatkan manusia dari api neraka�


Komentar :

Berarti sekarang saya mengetahui bahwa �ramalan� tentang kedudukan Roma dan Gereja Katolik ada dua. Satu dari Tuhan Yesus yaitu bahwa alam maut tidak akan mengusai Gereja dan satu lagi dari orang ini yaitu Muhammad meramalkan bahwa Islam akan mengusai Roma. Yah pikir-pikirlah. Saya sih sudah punya pegangan. Seandainya pun Roma jatuh dan tinggal saya sendiri pengikut Tuhan Yesus, saya lebih baik mati dari pada menyangkal Tuhan Yesus. 



Apa yang terjadi jika Roma jatuh ke tangan Muslim?

1. Kota-kota Eropa tidak akan dihiasi dengan patung dan lukisan. Ikon-ikon Suci Gereja akan di-tip ex mukanya. Sewaktu tentara Taliban melakukan kudeta dan menguasai Afganistan, semua lukisan dibakar, patung Buddha raksasa Bamiyan dipotong mukanya, semua buku pelajaran yang ada foto manusianya disobek. Syariah Islam tidak memperkenankan pembuatan image manusia. Foto Muhammad kan tidak ada mukanya.


Foto patung Buddha of Bamiyan yang tanpa muka

2. Tidak ada bank. Yang ada "bank" syariah.

3. Wanita ke jalan-jalan dengan burka. Lalu semua laki-laki pelihara jenggot.

4. Naik onta ke mall, makannya nasi kebuli dan gulai kambing yang ditutupi tanah setebal 3 cm. Otomomatis stroke-lah di tahun keempat.hahahaha ^__^

5. Musik klasik tidak akan ada. Yang ada musik setara Nasyid dan Azan. Tidak ada balet, yang ada tarian berputar ala Sufi Persia.


6. Kota mungkin agak sepi karena hukuman pancung sering dilakukan. Hiburan terbaru adalah rajam, dan mungkin pria-pria dengan mudahnya memperkosa pembantu yang bekerja di rumah mereka


Tapi kita tidak perlu takut karena hal-hal tersebut tidak akan pernah terjadi karena janji Tuhan adalah melindungi Gereja-Nya dan alam maut tidak akan menguasainya. 

-Matius 16:18, "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya."

Sumber : http://ipsaconteretcaputtuum.blogspot.com/2012/01/disturbing-idea-1-ngelamak.html

In Spiritu Domini

Thursday, March 29, 2012

Kutipan Para Paus dan Uskup - 2

His Holiness Benedict XVI, Vicar of Christ and Roman Pontiff
Berikut ini kembali Indonesian Papist hadirkan 12 kutipan Katolik dari Para Suksesor St. Petrus dan Para Rasul Kristus, yaitu Para Paus dan Uskup. Kutipan-kutipan ini berasal dari Suksesor Para Rasul baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, baik yang sudah menjadi Orang Kudus maupun yang masih berjuang mengusahakan kekudusannya. Angka 12 dipilih karena jumlah Para Rasul sendiri sebanyak 12 orang, begitu juga dengan jumlah suku Israel ada 12 suku. Semoga kutipan-kutipan ini berguna dan meneguhkan.

--------------

Demikian juga dengan jiwa; bagi saya sendiri: jika saya tidak pernah mengaku dosa, maka jiwa saya terabaikan dan pada akhirnya saya selalu puas dengan diri saya sendiri dan tidak lagi mengerti bahwa saya harus senantiasa bekerja keras agar lebih baik, bahwa saya harus lebih maju. Dan pembersihan jiwa yang Yesus berikan kepada kita melalui Sakramen Pengakuan Dosa membantu kita agar suara hati kita lebih siaga, lebih terbuka dan dengan demikian, juga membantu kita untuk menjadi dewasa secara rohani dan juga sebagai manusia. Sebab itu, dua hal: pengakuan dosa hanya perlu jika kita melakukan suatu dosa berat, tetapi adalah sungguh bermanfaat mengakukan dosa secara teratur guna memelihara kebersihan dan keindahan jiwa dan agar dari hari ke hari kita menjadi dewasa dalam hidup. � Benediktus XVI, Paus dan Uskup Roma, Katekese Bapa Suci Benediktus XVI Mengenai Komuni Kudus kepada Anak-Anak Komuni Pertama St Peter's Square, 15 Oktober 2005

Ketika kita berpikir mengenai naratif dari [peristiwa] Transfigurasi, kata-kata seperti �Kemuliaan�, �kecerahan�, dan �keindahan� muncul dalam pikiran. Kata-kata ini adalah istilah yang dapat diterapkan secara langsung kepada liturgi. Seperti [yang] Paus Benediktus ingatkan [kepada] kita, terdapat hubungan intrinsik antara liturgi dan keindahan. Memang, "Keindahan yang paling benar adalah kasih Allah, yang secara definitif menyatakan diri kepada kita dalam misteri Paskah."  Ekspresi �Misteri Paskah� mensintesis inti esensial dari seluruh proses Penebusan; yang adalah puncak dari karya Kristus. Liturgi pada gilirannya mengandung,�karya� Kristus ini, karena melalui liturgi karya Sang Penebus kita diaktualisasikan. Inilah mengapa liturgi, sebagai bagian dari Misteri Paskah, adalah �ungkapan yang luhur dari Kemuliaan Allah dan, dalam arti tertentu, sekilas surga di bumi. Pengenangan akan kurban penebusan Kristus  mengandung sesuatu keindahan yang Petrus, Yakobus, dan Yohanes lihat ketika Sang Guru, dalam perjalanannya ke Yerusalem, berubah rupa (transfigurasi) di hadapan mata mereka (bdk. Mrk 9:2). Keindahan, oleh karena itu, bukanlah dekorasi semata melainkan merupakan elemen penting dari tindakan liturgis, karena keindahan merupakan sebuah atribut Allah sendiri dan wahyu-Nya. Pertimbangan-pertimbangan ini hendaknya membuat kita menyadari kepedulian diperlukan bila tindakan liturgi adalah untuk merefleksikan (mencerminkan) kemegahan yang dibawanya.  Itulah yang dikatakan: Liturgi  ... akan menjadi indah ketika liturgi itu benar dan otentik, ketika kemegahan yang dibawanya benar-benar tercerminkan. � Antonio Cardinal Ca�izares Llovera, Kardinal, Uskup Agung Toledo (Spanyol) dan Kepala Kongregasi Penyembahan Ilahi dan Disiplin Sakramen, dalam Paper for the presentation of the book by Msgr. Guillaume Derville.

Proses inkarnasi (Sabda yang menjadi manusia) perlu diwartakan dan diwujudkan terus-menerus. Terjun ke tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan terang dan sahabat menuju kepada suatu kehidupan yangdamai dan sejahtera merupakan sebuah langkah yang perlu diambil. Siapa pun yang hendak melayani masyarakat, perlu mengambil langkah terjun langsung (masuk dan terlibat serta bekerja ) dalam suka duka kehidupan mereka yang hendak dibantu.  Mereka yang hendak menolong siap menjadi �roti� yang dipecah-pecah dan dibagi-bagikan untuk menjadi �makanan� demi kehidupan mereka. Artinya, pengorbanan, kerja berat, mencari jalan keluar dan mengambil langkah awal dan mengolah semuanya itu, merupakan sebuah keharusan yang muncul dari kedalaman diri, bukan karena paksaan dari pihak lain. Peristiwa inkarnasi dan pemecahan roti merupakan kebutuhan nyata masyarakat pada jaman ini, dan hal ini dapat menjadi kekuatan dan sumber kemajuan di banyak bidang kehidupan. - Nicholaus Adi Seputra, MSC., Uskup Agung Merauke, dalam artikel Membumikan Sabda Tuhan

Dalam kerangka perintah cintakasih sesama inilah kita telah berikrar bahwa tahun 2012 adalah Tahun Persaudaraan Sejati dan Kerukun�an �U�mat Beragama. Pantaslah kita memeriksa apakah kita, dalam hal i�ni, mem���punyai le�bih banyak ke�kurangan atau keutamaan. Perbuatan-perbuatan cintakasih adalah tujuan dari puasa dan ulah-ta�pa. Kita pantas lebih memperhatikan saudara-saudari kita yang lebih ber�kebutuhan. Masih banyak dari sesama kita yang menderita kurang ma�kan, kurang pakaian, kurang biaya kesehatan. Inilah masanya ki�ta meng�a�mal�kan sabda Tuhan: Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku ma��kan; ke�tika A��ku haus, kamu memberi aku minum ...; ketika Aku te�lan���jang, kamu mem�beri Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat A��ku (Mt 25:35-36). Untuk menunaikan perintah Tuhan ini, terutama pada masa puasa-prapaska, pantaslah kita melakukan perbuatan-perbu�atan amal seperti i�tu. Hal itu kita lakukan secara perorangan dan langsung bagi mereka yang �kurang beruntung. - Anicetus B. Sinaga, OFM. Cap., Uskup Agung Medan, dalam Surat Gembala Prapaska Keuskupan Agung Medan 2012

Saya tidak mengambil kesenangan akan makanan yang dapat rusak atau kesenangan hidup. Saya ingin roti dari Allah yaitu Daging Kristus (Flesh of Christ)  yang adalah keturunan Daud dan untuk minuman, saya ingin Darah-Nya yang adalah cinta yang tak dapat rusak. � St. Ignasius dari Antiokia, Uskup Antiokia dan Murid St. Yohanes Rasul Penulis Injil, dalam Suratnya kepada Gereja di Roma.

Keakraban atau ikatan cintakasih dengan Tuhan memberi dampak besar dalam iman. Hal ini hanya akan terjadi apabila Yesus diutamakan di dalam hidup. Apabila Dia berada di tempat utama, segala godaan dapat ditangkis. Biarpun godaan itu hanya kecil tetapi tanpa kesatuan erat dengan Dia, ia (godaan itu, red) pasti menjatuhkan kita dengan mudah. - Cornelius Piong, Uskup Keningau (Malaysia)

Selama delapan puluh enam tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah mengkhianatiku. Bagaimana mungkin aku akan mengutuki Raja dan Juruselamatku? - St. Polikarpus dari Smirna, Uskup Smirna dan Murid St. Yohanes Rasul Penulis Injil, Pernyataannya pada saat akan dimartir.

Kita sering mendekati Maria di dalam doa karena kedekatannya dengan Tuhan kita dan kita tahu bahwa Maria berada di samping kita saat kita membuka hati kita kepada Allah. Maria menjawab permintaan-permintaan doa kita kepadanya sebagai seorang ibu dan kita mengakui ia sebagai Bunda Gereja. Sebagai Bunda Kristus, Maria juga adalah guru pertama dan adalah dari ia, Dia (Yesus Kristus) dalam kodrat manusia-Nya belajar apa artinya dicintai tanpa syarat. Maria mengajarkan anak-Nya, Sabda yang telah menjadi daging, bagaimana berdoa dan seperti guru-guru terbaik, Maria mulai belajar pula dari Putera-Nya. Dalam cara ini kita melihat bagaimana Maria menjadi murid pertama Tuhan yang dekat dengan-Nya selama tahun-tahun hidupnya yang tersembunyi namun berbuah, mencatat dan merenungkan sebagai ibu bagaimana cara Dia bersikap dengan orang lain dan hal-hal yang Dia lakukan dan katakan. � Bernard Longley, Uskup Agung Birmingham (Inggris), Homili pada Malam Vigili Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, 7 Desember 2009

Kemuliaan Allah adalah manusia yang sungguh-sungguh hidup, terlebih lagi kehidupan manusia menjadi penampakan Allah. � St. Ireneus dari Lyon, Uskup Lyon dan Murid St. Ignatius dari Antiokia dan St. Polikarpus dari Smirna.

Kehidupan yang benar dan sejati ialah: Bapa, melalui Putra, dan dalam Roh Kudus, mencurahkan anugerah-anugerah surgawi-Nya kepada segala sesuatu tanpa kecuali. Melalui kerahiman-Nya, kita manusia juga menerima janji hidup ilahi yang tak dapat diragukan lagi. � St. Sirillus dari Yerusalem, Uskup Yerusalem dan Doktor Gereja Universal.

Kehidupan batin seorang imam Katolik ditentukan oleh janji-janjinya, yang dimotivasi oleh iman dan cinta kasih, untuk hidup murni sebagai seorang selibat dan menaati uskup. Melanggar janji-janji tersebut menghancurkan panggilannya dan melukai Gereja. � Francis Cardinal George, OMI., Kardinal dan Uskup Agung Chicago, dalam suratnya yang berisi informasi penonaktifan terhadap seorang imam Katolik yang mengajarkan ajaran yang menyimpang.

Sangat mungkinlah berdoa bahkan di tengah-tengah pasar atau sementara berjalan sendirian. Mungkin pula di tengah-tengah transaksi bisnis, sementara membeli atau menjual, atau bahkan sewaktu memasak. � St. Yohanes Krisostomus, Uskup Konstantinopel dan Doktor Gereja Universal.

Pax et Bonum

Tuesday, March 27, 2012

Keutamaan Rasul Petrus


Tuhan Yesus mendirikan GerejaNya di atas Batu Karang
Yesus mendirikan GerejaNya di atas Rasul Petrus (Kepha, Petros) -yang artinya batu karang- (Mat 16:18) dan memberikan kuasa yang khusus kepadanya di atas para rasul yang lain, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:5-7). Walaupun Kristus juga memberikan kuasa kepada rasul-rasul yang lain (Mat 18:18), hanya kepada Petruslah Ia memberikan kunci-kunci Kerajaan Surga (Mat 16:19) yang melambangkan kuasa untuk memimpin GerejaNya di dunia.

Yesus sang Gembala yang Baik mempercayakan domba-dombaNya kepada Petrus dan mempercayakan tugas untuk meneguhkan iman para rasul yang lain, agar iman Gereja jangan sampai sesat (Luk 22:3-32). Petruslah yang kemudian menjadi pemimpin para rasul setelah hari Pentakosta, mengabarkan Injil, membuat keputusan dan pengarahan (Kis 2:1-41, 15:7-12). Para penerus Rasul Petrus ini dikenal sebagai uskup Roma, yang dipanggil sebagai 'Paus'.

Hal ini sungguh membuktikan kemurnian pengajaran Gereja, karena ajarannya bukan merupakan hasil demokrasi manusia, melainkan diturunkan dari Yesus sendiri.

Kalau Yesus menjanjikan sesuatu kepada Petrus untuk menjadi batu karang dimana Gereja didirikan, maka Dia akan memampukannya. Hal ini bukan karena Petrus yang paling kuat imamnya dari antara para rasul, namun kepercayaan ini adalah berdasarkan janji Kristus. Kristus yang menjanjikan untuk berdoa bagi Petrus, sehingga Petrus dapat memberi kekuatan bagi para rasul yang lain (Lk 22:31-32). Yesus juga yang memberikan kuasa kepada Petrus untuk menggembalakan kawanan domba-Nya (Yoh 21:15-17). Dan Yesus, melalui kuasa Roh Kudus, memilih Petrus untuk berkotbah tentang rencana keselamatan yang telah dirancang oleh Allah dan terpenuhi dalam diri Kristus (Kis 1:14-47). Dan dengan kuasa yang diberikan oleh Kristus, rasul Petrus berbicara dengan otoritas untuk menyelesaikan perselisihan di konsili Yerusalem (Kis 15:6-8). Dan Petrus akhirnya memenuhi nubuat Yesus yang dikatakannya di Yoh. 21:18-19, dengan meninggal di kayu salib secara terbalik di Roma.
 
Jadi, sama seperti kita yang dipilih oleh Allah menjadi anak-anak Allah, Petrus-pun dipilih Allah seturut dengan kebijaksanaan-Nya menjadi Pemimpin umat dan diteruskan hingga sekarang. Di dalam kelemahannya dan juga semua penggantinya, Kristus tetap setia untuk mendampingi Gereja sampai akhir jaman, sehingga alam maut tidak menguasainya. Cobalah pikirkan, dimana dan doktrin apa yang dikeluarkan oleh seorang penerus Petrus pada saat dia berbicara Ex-Cathedra (di tahta Petrus) yang tidak sesuai dengan Alkitab atau yang dulunya benar sekarang dianggap salah atau sebaliknya..?


Keutamaan Rasul Petrus di antara para rasul

Salah satu pandangan yang menolak keutamaan Paus mengatakan bahwa Petrus tidak pernah ke Roma dan karenanya tidak mungkin mendirikan Gereja di Roma. Alasannya, karena di Kitab Suci tidak tertulis eksplisit demikian. Disini akan dipaparkan kenyataan yang sebaliknya. Bahwa meskipun tidak secara tertulis dengan detail di Kitab Suci, fakta sejarah dan bukti tulisan para Bapa Gereja menyatakan bahwa Petrus pernah beberapa kali ke Roma, dan akhirnya wafat di sana sebagai martir.

Pertama- tama kita harus menyadari bahwa Kitab Suci bukanlah merupakan buku sejarah di mana segala fakta harus lengkap tersusun secara kronologis. Namun apa yang tidak tercatat di Kitab Suci bukannya berarti tidak terjadi. Untuk mengetahui hal ini, maka di samping membaca Kitab Suci, kita perlu melihat bukti-bukti yang lain yaitu bukti sejarah dan tulisan para Bapa Gereja. Berikut ini disertakan tulisan yang mengambil sumber utama dari Stephen K. Ray, Upon This Rock.


Pelayanan Rasul Petrus setelah Pentakosta

Rasul Petrus memulai karya Apostoliknya di Yerusalem, untuk memberitakan Injil kepada umat Yahudi. Iapun mengadakan perjalanan ke Samaria, untuk memperkenalkan Keselamatan kepada orang-orang Samaria (Kis 8:4-25), Yoppa (Kis 32-43), dan Kaisarea. Ia lalu membaptis Kornelius, seorang pemimpin prajurit Roma. Kemudian ia kembali ke Yerusalem untuk memberitakan bahwa bangsa- bangsa lain (non- Yahudi) telah menerima Injil dan menerima Roh Kudus seperti mereka para murid yang adalah bangsa Yahudi (Kis 10:40; 11:18).

Kemudian kita ketahui terjadi penganiayaan di Yerusalem, dan Rasul Yakobus dipenggal oleh Kaisar Herodes Agrippa (42-44AD) (Kis 12:2). Petrus lalu dipenjara dan secara ajaib dibebaskan oleh seorang malaikat (Kis 12:7), Petrus kemudian ke Yerusalem (sekitar 44), dan kemudian berangkat ke tempat lain (Kis 12:7), maka kita mengetahui bahwa Petrus memang terus menerus mengadakan perjalanan untuk menyebarkan Injil di daerah Timur, dan tinggal cukup lama di Antiokhia (Gal 2:11-21). Selama masa ini juga Petrus mengadakan perjalanan ke Roma, seperti yang nanti akan dijabarkan lebih lanjut. Ia juga menjelajahi daerah Asia Kecil: Pontus, Galatia, Kapadosia, Asia dan Bitinia (1 Pet 1:1), juga Korintus.

Sejarah juga mencatat Petrus sebagai pemimpin Gereja di Antiokhia. Selanjutnya, Rasul Petrus kembali ke Yerusalem untuk menghadiri Konsili Yerusalem pertama (49-51). Konsili ini diadakan sekitar 8 tahun setelah wafatnya Yakobus Rasul.

Setelah Konsili Yerusalem, memang tak banyak ayat Kitab Suci yang menuliskan keterangan tentang Rasul Petrus dan perjalanannya, kecuali suratnya sendiri yang dikatakannya ditulis dari Babilonia, yang menjadi sebutan kota Roma pada saat itu (1 Pet 5:13). Meskipun tahun-tahun akhir hidupnya tidak ditulis di kitab PB, namun tulisan-tulisan para Bapa Gereja dan bukti sejarah sangat jelas mengacu kepada fakta bahwa Rasul Petrus memang pernah tinggal di Roma, mendirikan Gereja di Roma, dan akhirnya wafat di sana sebagai martir.

Berikut ini adalah daftar perjalanan Rasul Petrus, menurut para ahli sejarah, dan juga berdasarkan Alkitab:


Pelayanan Apostolik St. Petrus (30-67)
 
Tahun 30 Kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus, Pentakosta
30-37- Petrus memimpin Gereja di Yerusalem.
38-39- Perjalanan Petrus di Samaria dan di pantai Palestina.
40-41- Petrus di Antiokhia
42 - Dipenjara di Yerusalem, dibebaskan, dan keberangkatan ke tempat lain
42-49- Persinggahan yang pertama di Roma
49 - Diusir dari Roma oleh edict Claudius yang menentang kaum Yahudi
49-50- Di Yerusalem, dalam Konsili Apostolik [seperti tertulis dalam Kis 15].
50-54- Di Antiokhia, Bitinia, Pontus, Asia dan Kapadokia
54-57- Persinggahan yang kedua di Roma: Injil Markus ditulis di bawah pengarahan Petrus
57-62- Di Bitinia, Pontus dan Kapadokia, Markus di Alexandria, Mesir
62-67- Persinggahan yang ketiga di Roma, menuliskan surat 1 Pet dan 2 Pet Markus ada bersama Petrus di Roma.
67- Dibunuh sebagai martir di Roma, dikuburkan dekat Nekropolis di Vatikan.


Bagaimana Kitab Suci menuliskan keberadaan Petrus di Roma dan kematiannya di sana
 
1. Surat Petrus yang pertama mengatakan,
 
'Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang'. Dengan perantaraan Silwanus, yang kuanggap sebagai seorang saudara yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu,' Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku. (1 Pet 1:1, 5:12-13)

Babilon di sini merupakan istilah/ sebutan bagi kota Roma. Sebab Roma telah menganiaya Gereja, sebagaimana Babilon telah menganiaya umat Allah di jaman PL (2 Raj 24). Umat Yahudi saat itu menyebut kota Roma sebagai Babilon, karena melihat kesamaan ciri- ciri antara Babilon [kota dunia yang tak bermoral, sombong, tak ber-Tuhan] yang disebut oleh para nabi (Yes 13; 43:14; Yer 50:29; 51:1-58) dengan kota Roma pada saat itu.

Menjelang kematiannya, Rasul Petrus menulis demikian, 'Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.' (2 Pet 1: 14)

2. Injil Yohanes menuliskan bahwa Tuhan Yesus sudah menubuatkan kematian Petrus, demikian:

'Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki. Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: 'Ikutlah Aku.' (Yoh 21:18-19).

Injil Yohanes ditulis tahun 90-100, sekitar 30 tahun setelah Petrus wafat sebagai martir. Pada saat Yesus mengucapkan nubuat itu, tentu Rasul Yohanes belum sepenuhnya memahami, tetapi ketika sudah digenapi, ia menyadari bahwa perkataan itu mengisahkan bagaimana Petrus akan mati. Tradisi mengatakan Petrus mati disalib terbalik, pada jaman Kaisar Nero (64-67). Jadi perkataan Yesus, 'Ikutlah Aku' tidak saja berupa ajakan untuk mengikuti-Nya dalam kehidupan, tetapi juga dalam kematian-Nya, yaitu dengan cara disalibkan. Di sini, Petrus sesungguhnya memenuhi janjinya kepada Yesus untuk memberikan nyawanya bagi-Nya (Yoh 13:37).


Bukti- bukti bahwa Rasul Petrus mendirikan gereja Roma dan akhirnya mati di sana
 
1. St. Klemens dari Roma, dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (96):
 
'. Perhatikanlah teladan yang luhur dari generasi kita sendiri Pilar yang terbaik [yaitu Gereja Roma] telah dianiaya. Mari memusatkan mata hati kita kepada Rasul-rasul yang baik itu: Petrus, yang menderita tidak hanya mengalami satu atau dua kali tetapi banyak kesulitan, dan karenanya pergi ke tempat kemuliaan yang sesuai. Paulus menunjukkan jalan kepada penghargaan atas ketahanan [iman] telah beralih dari dunia ini ke tempat yang suci. Terhadap kedua orang ini yang telah hidup dalam kekudusan harus ditambahkan banyak sekali orang yang menderita penganiayaan yang menjadi contoh yang bersinar di tengah-tengah kita.'
Kesaksian St. Klemens ini penting, karena St. Klemens adalah Paus yang ketiga setelah Rasul Petrus. Urutan Paus: Petrus (sampai 67), Linus (67-79, lih. 2 Tim 4:21), Anacletus (79-85) dan Klemens (85-96).

2. St. Ignatius dari Antiokhia (35-107), Uskup Antiokhia, yang adalah murid Rasul Yohanes, dan kemungkinan juga adalah murid rasul Petrus, karena Petruspun pernah tinggal di Antiokhia. Sebelum wafatnya sebagai martir di Roma, ia menulis 7 surat yaitu kepada gereja- gereja di Ephesus, Magnesia, Tralles, Philadelphia, Smyrna, kepada Polycarpus, dan juga gereja Roma. Topik suratnya antara lain mengenai kelahiran Yesus, hirarki, Ekaristi, Kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi. St Ignatius adalah Bapa Gereja pertama yang menggunakan istilah 'katolik' untuk menjelaskan Gereja universal untuk membedakannya dari gereja heretik yang bersifat lokal. Kepada semua gereja itu, ia memerintahkan kesatuan dan harmoni, kecuali kepada gereja di Roma, karena ia mengetahui bahwa gereja Roma telah mempunyai otoritas dari para Rasul:

'Ignatius, yang juga disebut Theoforus, kepada Gereja yang telah menerima belas kasihan di dalam Kemuliaan yang transenden' yang juga memimpin di tempat utama di daerah kekuasaan Roma' Tidak seperti Petrus dan Paulus, saya tidak mengeluarkan perintah kepadamu'.'

3. St. Papias (60-130) murid Rasul Yohanes yang menjadi Uskup Hieropolis, dan St. Klemens dalam bukunya Hypotyposes, seperti dikutip oleh Eusebius (325), menyetujui bahwa Markus disebut dalam suart Rasul Petrus yang pertama, yang ditulis di Roma, yang disebut sebagai Babilon.

4. Phlegon (117-138 masa Kaisar Hadrian) seperti dikutip oleh Origen.

'Phlegon, (Kaisar Hadrian diperkirakan menulis dengan nama budak yang dikasihinya ini) dikatakan oleh Origen sebagai 'salah sangka/ mencampur adukkan' antara Yesus dengan Petrus di dalam tulisannya. Ini adalah sangat penting karena itu membuktikan bahwa Petrus pada saat itu telah dikenal luas di Roma, sampai kaisarpun menyangka bahwa Petrus adalah yang mendirikan iman Kristiani.

5. St. Dionisius (166-174) Uskup Korintus, menulis kepada Paus Soter di Roma, seperti yang dikutip oleh Eusebius:

'Bahwa keduanya baik Petrus dan Paulus sama-sama wafat sebagai martir ' ditegaskan kembali oleh Uskup Dionisius, kepada suratnya kepada gereja Roma, 'Kamu juga telah, dengan teguranmu, menghasilkan tanaman yang telah ditaburkan oleh Petrus dan Paulus di Roma dan Korintus, sebab mereka berdua telah menanam di Korintus dan mengajar kami, dan keduanya juga mengajar di Italia, dan wafat sebagai martir pada saat yang sama.'

6. Gaius (Caius, 198-217) seorang Imam Roma:

''Ia (Nero) membantai para rasul. Oleh karena itu, tertulis bahwa Paulus dipenggal kepalanya di Roma dan demikian juga Petrus disalibkan di bawah kepemimpinan Nero. Tentang Petrus dan Paulus ini sesuai dengan fakta bahwa nama mereka tetap ada di kuburan sampai saat ini. Ini juga dikonfirmasikan oleh Caius, anggota gereja Roma, di bawah kepemimpinan Zephyrinus, Uskup Roma (198-217). Mudah untuk mencari kubur para rasul itu, sebab jika kita ke Vatikan atau ke jalan Ostian, kita akan menemukan kubur mereka yang meletakkan dasar Gereja ini.'

Dari tulisan ini kita ketahui bahwa lokasi kuburan dua rasul tersebut telah dihormati dan dikenal cukup luas di Roma. Ia tidak mungkin mengatakan hal ini dengan begitu yakin jika fakta yang sesungguhnya tidak demikian.

7. St. Irenaeus (130-200), murid Polikarpus yang adalah murid Rasul Yohanes, Uskup Gaul:

''.Tradisi diperoleh dari para rasul, dari Gereja yang sangat besar, sangat ancient, sangat luas dikenal, yang didirikan dan diatur di Roma oleh kedua rasul yang sangat mulia, Petrus dan Paulus '. Para rasul yang terberkati ini, setelah mendirikan dan membangun Gereja, mempercayakannya ke tangan Linus jabatan episkopat'.'

8. Tertullian (160-225).
 
'Bergabunglah dengan Gereja- gereja para rasul, di mana kursi (cathedrae) Rasul masih ada; di mana tulisan-tulisan mereka yang otentik dibacakan'. Jika kamu ada di dekat Italia, kamu mempunyai Roma, yang dari mana otoritas kami berasal. Betapa bahagianya Gereja itu, yang kepadanya para Rasul menumpahkan darah mereka, Petrus menjalani kisah sengsara seperti Tuhan kita [disalibkan] dan Paulus dimahkotai dengan mati dipenggal seperti Yohanes Pembaptis.'

'Di Roma Nero adalah yang pertama untuk menodai iman yang berkembang dengan darah. Petrus diikat oleh orang lain (Yoh 21:18), ketika ia dipaku di kayu salib. Paulus memperoleh kelahiran yang sesuai dengan kewarganegaraan Roma, ketika di kota itu ia dilahirkan kembali dengan kemartiran yang luhur.'

9. Origen dari Alexandria (185-254)
 
'Sementara itu para rasul yang kudus dan para murid Penyelamat kita tersebar ke seluruh dunia. Parthia ditentukan untuk Thomas, Scythia untuk Andreas, Asia untuk Yohanes. Petrus telah berkthotbah di Pontus, Galatia, Bitinia, Kapadosia, dan Asia kepada umat Yahudi yang tercerai berai. Dan akhirnya, setelah datang ke Roma, ia [Petrus] disalibkan terbalik, sebab ia memohon untuk disalibkan dengan cara demikian. Paulus,[juga] menjadi martir di Roma, di bawah kekuasaan Nero. Fakta- fakta ini dikumpulkan oleh Origen''

10. Eusebius, (260- 340) Uskup Caesarea dan Bapa Sejarah Gereja.
 
'Tahun kedua dari duaratus lima olympiad: Rasul Petrus, setelah mendirikan Gereja di Antiokhia, dikirim ke Roma, di mana ia tinggal sebagai uskup di kota tersebut, berkhotbah selama dua puluh lima tahun. Tahun ketiga dari duaratus lima olympiad: Markus Penginjil, interpreter Rasul Petrus mengabarkan Kristus ke Mesir dan Alexandria. Tahun keempat dari duaratus sebelas olympiad: Nero adalah yang pertama mengadakan penganiayaan umat Kristen, yang karenanya Petrus dan Paulus wafat dengan mulia di Roma.'

'Di jaman Claudius [Kaisar Roma, 41-54 AD], penyelenggaraan alam semesta membawa kepada Roma seorang rasul yang terkuat dan terbesar, yang dipilih untuk menjadi juru bicara dari rasul-rasul yang lain, yaitu Rasul Petrus' '

'Para pendengar Petrus di Roma yang yakin akan terang agama yang sejati, tidak puas dengan mendengarkan ajaran lisan tentang pesan ilahi, mereka memohon dengan secala cara untuk mempengaruhi Markus (yang Injilnya kita punyai sekarang), kerena ia adalah murid Petrus, untuk meninggalkan kepada mereka ringkasan tertulis tentang perintah-perintah yang telah mereka terima secara lisan,dan oleh karena itu [ia] bertanggungjawab menuliskan apa yang kita kenal sebagai Injil Markus. Klemens mengutip kisah ini dalam Outline buku VI, dan dikonfirmasi oleh Uskup Papias dari Hierapolis', bahwa Markus disebut oleh Petrus di suratnya yang pertama, yang dikatakannya ditulis di Roma itu sendiri, seperti yang diindikasikan olehnya ketika ia menyebutkan kota itu secara figuratif sebagai Babilon.'

 11. Petrus dari Alexandria (d. 311)
 
'Petrus, Rasul yang dipilih pertama dari antara para rasul, setelah sering ditangkap dan dibuang di penjara, dan diperlakukan denga kejam, akhirnya disalibkan di Roma. Dan Paulus, yang tahan dalam menghadapi berbagai kejahatan,diserahkan kepada pedang dan dipenggal di kota yang sama.'

12. Lactantius dari Afrika (240-320)
 
'Ketika Nero memerintah, Petrus datang ke Roma, melakukan banyak mukjizat yang dikerjakan oleh kuasa Tuhan yang diberikan kepadanya, mempertobatkan banyak orang kepada kebenaran dan mendirikan bait Allah yang kokoh dan teguh. Ketika hal ini dilaporkan kepada Nero, ia melihat bahwa tak hanya di Roma, tetapi dimana-mana sejumlah besar orang telah mencampakkan penyembahan berhala, dan memeluk agama yang baru tersebut. Ia [Nero] menugaskan untuk menghancurkan bait Allah dan kebenarannya. Ialah yang pertama-tama menganiaya para pelayan Tuhan. Petrus disalibkannya, dan Paulus dipancungnya.'

13. St. Cyril dari Yerusalem (315- 386)
 
'[Simon Magus], setelah diusir oleh para rasul, datang ke Roma. Ia menipu kota Roma sehingga Claudius mendirikan patungnya yang bertuliskan, 'Simoni Deo Sancto' (kepada Simon Tuhan yang kudus). Ketika penipuan meluas, Petrus dan Paulus, pasangan yang luhur, pemimpin Gereja, tiba [di Roma] dan meluruskan kesalahan. Sebab Petrus ada di sana, yang membawa kunci-kunci Kerajaan Surga.'

14. Paus St. Damasus I ( 304- 384)
 
'Rasul Paulus yang terberkati dimahkotai dengan kematian yang agung bersama dengan Petrus di kota Roma pada jaman Kaisar Nero keduanya sama-sama mengkonsekrasikan Gereja Roma kepada Kristus Tuhan; dan dengan kehadiran mereka dan dengan kemenangan yang mereka capai di barisan terdepan mengatasi semua yang lain di semua kota di dunia. Oleh karena itu, keuskupan/ tahta suci yang utama adalah yang dipimpin Rasul Petrus di Gereja Roma, yang tidak mempunyai noda, atau cacat atau apapun yang sejenisnya.'

15. Doktrin Addai (Dokumen gereja Siria 400).
 
'[.... Aggai yang mentahbiskan imam-imam di Siria, dibunuh sebagai martir pada saat mengajar di gereja oleh anak Abgar. Penerusnya, Palut, diharuskan ke Antiokhia untuk menerima konsekrasi episkopal, yang diterimanya dari Uskup Serapion, Uskup Antiokhia] yang juga menerima penumpangan tangan dari Zephyrinus, Uskup dari kota Roma dari penerusan penumpangan tangan dari imamat Simon Petrus (Kepha), yang diterimanya dari Tuhan kita, ia [Petrus] yang menjadi Uskup di Roma selama 25 tahun pada masa Kaisar Nero yang bertahta di sana selama 13 tahun lamanya.'

Di sini terlihat bahwa sejak awal Gereja Siria mempunyai garis apostolik, dan pemimpinnya tidak saja menerima penumpangan tangan dari keuskupan Antiokhia, tetapi juga Roma.

16. Liber Pontificalis (abad 4, disusun sekitar abad 6,7) memuat kisah Kepausan

'Pada saat yang sama Kaisar Konstantin Agustus membangun, atas permohonan Uskup Silvester, sebuah basilika bagi Rasul Petrus yang terberkati dibaringkan di sana jenazah Petrus. Peti mati ditutup di semua sisinya dengan tembaga. Dan di atasnya ia membangun tiang-tiang porphyry' Ia membuat atap kubah di basilika, yang dilapis emas, dan di atas jenazah Petrus yang terberkati, di atas tembaga yang menutupinya, ia memasang sebuah salib dari emas murni, dengan berat 50 lbs''

Adalah sangat tidak mungkin untuk meragukan bahwa pada abad ke- 4 Kaisar Konstantin memang telah membangun basilika bagi Rasul Petrus. Sebab pada saat abad 15-16, ketika basilika ini dirubuhkan untuk dibangun kembali menjadi basilika yang kita kenal sekarang, terlihat bahwa batu- batu bata yang digunakan memiliki cap Kaisar Konstantin abad ke-4. Pada tahun 1594, saat sedang menggali untuk pondasi untuk altar, para penggali menemukan lubang yang dalam, dan ketika disinari, terlihatlah sebuah salib emas [seperti deskripsi di atas] yang terletak di dasar lantai yang gelap. Paus Klemens VIII, yang dipanggil untuk menyaksikannya, memerintahkan agar lubang ditutup kembali. Penemuan itu menunjukkan bahwa basilika tersebut memang telah dibangun di abad ke-4, untuk menghormati tempat Petrus dibunuh sebagai martir.
 
17. Catalogus Liberianus (ditulis 354)
 

''.setelah kenaikan-Nya Petrus yang terberkati mendirikan episkopat'. Petrus, 25 tahun, 1 bulan, 9 hari, adalah Uskup dalam pemerintahan Kaisar Tiberius, dan Gaius, dan Tiberius Claudius dan Nero. Ia [ Petrus] menderita bersama Paulus, 29 Juni, dalam pemerintahan Nero.'
 
18. Optatus dari Milevis (370)
 
'Kita harus mengetahui siapa yang mendirikan tahta suci dan di mana. Kalau kamu tidak tahu, akuilah' Tetapi kamu tidak dapat memungkiri bahwa tahta suci keuskupan didirikan pertama kali di kota Roma oleh Petrus dan bahwa di sana duduklah Petrus, pemimpin dari semua rasul, yang mana ia disebut sebagai Kepha.'

 ?19. St. Agustinus dari Hippo (400)

'Jika urutan episkopal secara turun temurun adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan, adalah lebih lagi dalam hal kepastian, kebenaran dan keamanan, kita mengurutkannya dari Petrus sendiri, yang kepadanya, sebagai seorang yang mewakili seluruh Gereja, Tuhan Yesus berkata, 'Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.' Petrus digantikan oleh Linus, Linus oleh Klemens, Klemens oleh Anacletus, Anacletus oleh Evaristus, Evaristus oleh Sixtus, Sixtus oleh Telesforus, Telesforus oleh Hyginus, Hyginus oleh Anicetus, Anicetus oleh Pius, Pius oleh Soter. Soter oleh, Alexander, Alexander oleh Victor, Victor oleh Zephyrinus oleh Callistus, Callistus oleh Urban, Urban oleh Pontianus, Pontianus oleh Anterus, Anterus oleh Fabian, Fabian oleh Cornelius, Cornelius oleh Lucius, Lucius oleh Stephen, Stephen oleh Sixtus, Sixtus oleh Dionisius, Dionisius oleh Felix, Felix oleh Eutychian, Eutychian oleh Caius, Caius oleh Marcellus, Marcellus oleh Eusebius, Eusebius oleh Melchiades, Melchiades oleh Sylvester oleh Markus, Markus oleh Julius, Julius oleh Liberius, Liberius oleh Damasus, Damasus oleh Siricius, Siricius oleh Anastasius. Dalam urutan ini tidak ada satupun uskup Donatist ditemukan.'
 
Fakta bahwa Rasul Petrus pernah ke Roma tidak pernah dipertanyakan oleh St. Agustinus. Ia malah menggunakan fakta ini untuk mendukung argumennya melawan bidaah Donatism. Suatu pertanyaan mengapa Luther dan Calvin yang sama- sama merupakan 'murid' St. Agustinus dan mempelajari tulisan-tulisannya, dapat mempunyai pandangan berbeda dengan St. Agustinus ini.
 
20. St. Jerome (342- 420) yang disebut sebagai Doctor of the Church, dan ahli Kitab Suci yang terbaik di masa Gereja awal.
 
'Simon Petrus,' saudara Andreas Rasul, dan ia sendiri adalah pemimpin para rasul, setelah menjadi uskup di Antiokhia dan pemberitaan kepada kaum Yahudi yang tersebar' di Pontus, Galatia, Kapadosia, Asia dan Bitinia, di tahun kedua pemerintahan Kaisar Claudius, pergi ke Roma untuk mengusir Simon Magus, dan mendirikan di sana tahta suci selama dua puluh lima tahun sampai tahun terakhir Nero, yaitu ke-empat belas. Oleh Nero ia dipaku di kayu salib dan dimahkotai dengan kemartiran, kepalanya di bawah terarah pada tanah, sedangkan kakinya terangkat tinggi, sebab ia berkeras bahwa ia tidak layak untuk disalibkan dengan cara yang sama dengan Tuhan-nya'.Ia dikuburkan di Roma di Vatikan, dekat Via Triumphalis, dan dirayakan dengan penghormatan seluruh dunia.'
 
Tidak ada seorangpun saat itu yang menantang/ menolak pernyataan historis St. Jerome. St. Jerome adalah seorang terpelajar yang sempurna (par excellence) yang belajar di Roma dan menjelajahi dunia Kristen. Ia mempunyai akses kepada dokumen-dokumen sejarah dan keterangan yang sekarang sudah punah. Maka masa 25 tahun masa kepemimpinan Petrus di Roma tidaklah dipermasalahkan oleh para ahli sejarah, yang dipersoalkan hanya kapan tepatnya masa tersebut dimulai, dan berkaitan dengan kejadian apa. Nampaknya Rasul Petrus berada di Roma secara sporadis antara tahun 42 sampai 62; ia memimpin Gereja bahkan saat ia aktif melakukan perjalanan untuk menyebarkan Injil, dan melakukan tugasnya sebagai pengurus rumah tangga dari Kerajaan Allah.

Mengapa menentang fakta keberadaan Rasul Petrus di Roma?

Jelaslah dari bukti-bukti di atas ini, bahwa kenyataan bahwa Petrus memimpin Gereja Roma hanya diragukan pada jaman modern saja, yang disebabkan oleh ide 'Sola Scriptura'. (Sola Scriptura sendiri sesungguhnya malah tidak Alkitabiah, karena Kitab Suci tak pernah mengajarkan tentang sola/ hanya Kitab Suci satu-satunya sebagai sumber kebenaran, 'Sola Scriptura' adalah doktrin yang baru lahir di jaman Reformasi Protestan, di abad ke 16, walaupun dikatakan bahwa cikal bakalnya sudah ada di jaman John Wycliffe (1329- 1384) dan Jan Hus (1373- 1415), yang mengatakan bahwa ajaran yang tidak tertulis secara eksplisit di Kitab Suci tidak dapat dikatakan sebagai 'mengikat' bagi semua umat beriman. Jadi mereka berpendapat bahwa karena Petrus tidak pernah mengatakan secara eksplisit bahwa ia ada di Roma (bagi mereka Babilon bukan Roma) maka Petrus tidak pernah ke Roma, atau umat tidak dapat yakin akan fakta tersebut. Mereka mengabaikan semua bukti-bukti di luar kitab Perjanjian Baru, walaupun bukti- bukti itu begitu kuat.

Mereka mengatakan hal Petrus memimpin Gereja Roma dan wafat sebagai martir sebagai cerita dongeng/ legenda, seperti yang dikatakan oleh Loraine Boettner dalam bukunya Roman Catholicism. Padahal, jika benar Rasul Petrus tidak pernah ke Roma, tentulah banyak tulisan pada jaman itu yang menyangkalnya, mengingat tulisan yang menuliskan fakta ini begitu banyaknya. Tetapi mengapa tak ada satupun tulisan pada jaman itu yang menyanggahnya? Mengapa tak ada yang menyanggah tulisan Klemens, Ignatius, Dionisius, Gaius, St. Agustinus dan St. Jerome? Jika Petrus wafat di tempat lain, mengapa tidak ada tempat/ kota lain yang mengklaim tulang- tulangnya atau dikenal sebagai tempat wafatnya Rasul Petrus? Bahkan tulisan para heretik dari Gnostics dan Ebionites di abad awal tidak pernah menempatkan lokasi lain bagi kemartiran Petrus maupun tahta suci, selain di Roma. Perlu kita mengingat bahwa meskipun penganiayaan umat Kristen di bawah pemerintahan Nero juga tidak secara eksplisit tertulis di PB, tetapi kita juga tidak dapat mengabaikan bukti/ data sejarah yang menyatakan bahwa penganiayaan yang mengerikan itu memang pernah terjadi.

Maka jika keberadaan Petrus di Roma ditolak oleh sebagian orang, umumnya karena pandangan mereka yang menentang ajaran dan otoritas Gereja Katolik. Dengan menganggap Petrus tidak pernah ke Roma, maka mereka seolah dapat beranggapan bahwa tidak pernah ada keutamaan Petrus dan tahta suci/ keuskupan Roma. Anggapan ini memaksa banyak orang untuk menentang begitu banyaknya fakta sejarah, demi mendukung tradisi baru 'Sola Scriptura' itu.

Selanjutnya tentang oposisi dari pihak Protestan akan disampaikan dalam artikel selanjutnya. Namun sebagai penutup artikel bagian ke- 2 ini, mari kita membaca tulisan Oscar Cullman, seorang Protestant scholar, tentang hal ini :

'Kita tidak mempunyai bahkan sedikitpun jejak yang menunjukkan ke tempat yang lain yang dapat dianggap sebagai tempat kematian-nya [Petrus]. Adalah hal lain yang penting di sini, bahwa di abad-abad kedua dan ketiga, ketika beberapa gereja berada dalam persaingan dengan Gereja Roma, tidak pernah terjadi satupun dari antara mereka yang menentang klaim bahwa Roma adalah tempat wafatnya Petrus sebagai martir.'


Mengapa menentang fakta keberadaan Rasul Petrus di Roma?

Jelaslah dari bukti-bukti di atas ini, bahwa kenyataan bahwa Petrus memimpin Gereja Roma hanya diragukan pada jaman modern saja, yang disebabkan oleh ide �Sola Scriptura�. (Sola Scriptura sendiri sesungguhnya malah tidak Alkitabiah, karena Kitab Suci tak pernah mengajarkan tentang sola/ hanya Kitab Suci satu-satunya sebagai sumber kebenaran, 'Sola Scriptura' adalah doktrin yang baru lahir di jaman Reformasi Protestan, di abad ke 16, walaupun dikatakan bahwa cikal bakalnya sudah ada di jaman John Wycliffe (1329- 1384) dan Jan Hus (1373- 1415), yang mengatakan bahwa ajaran yang tidak tertulis secara eksplisit di Kitab Suci tidak dapat dikatakan sebagai 'mengikat' bagi semua umat beriman. Jadi mereka berpendapat bahwa karena Petrus tidak pernah mengatakan secara eksplisit bahwa ia ada di Roma (bagi mereka Babilon bukan Roma) maka Petrus tidak pernah ke Roma, atau umat tidak dapat yakin akan fakta tersebut. Mereka mengabaikan semua bukti-bukti di luar kitab Perjanjian Baru, walaupun bukti- bukti itu begitu kuat.

Mereka mengatakan hal Petrus memimpin Gereja Roma dan wafat sebagai martir sebagai cerita dongeng atau legenda, seperti yang dikatakan oleh Loraine Boettner dalam bukunya Roman Catholicism. Padahal, jika benar Rasul Petrus tidak pernah ke Roma, tentulah banyak tulisan pada jaman itu yang menyangkalnya, mengingat tulisan yang menuliskan fakta ini begitu banyaknya. Tetapi mengapa tak ada satupun tulisan pada jaman itu yang menyanggahnya? Mengapa tak ada yang menyanggah tulisan Klemens, Ignatius, Dionisius, Gaius, St. Agustinus dan St. Jerome? Jika Petrus wafat di tempat lain, mengapa tidak ada tempat atau kota lain yang mengklaim tulang-tulangnya atau dikenal sebagai tempat wafatnya Rasul Petrus? Bahkan tulisan para heretik dari Gnostics dan Ebionites di abad awal tidak pernah menempatkan lokasi lain bagi kemartiran Petrus maupun tahta suci, selain di Roma. Perlu kita mengingat bahwa meskipun penganiayaan umat Kristen di bawah pemerintahan Nero juga tidak secara eksplisit tertulis di PB, tetapi kita juga tidak dapat mengabaikan bukti atau data sejarah yang menyatakan bahwa penganiayaan yang mengerikan itu memang pernah terjadi.

Maka jika keberadaan Petrus di Roma ditolak oleh sebagian orang, umumnya karena pandangan mereka yang menentang ajaran dan otoritas Gereja Katolik. Dengan menganggap Petrus tidak pernah ke Roma, maka mereka seolah dapat beranggapan bahwa tidak pernah ada keutamaan Petrus dan tahta suci atau keuskupan Roma. Anggapan ini memaksa banyak orang untuk menentang begitu banyaknya fakta sejarah, demi mendukung tradisi baru 'Sola Scriptura' itu.

Selanjutnya mari kita membaca tulisan Oscar Cullman, seorang Protestant scholar, tentang hal ini :

'Kita tidak mempunyai bahkan sedikitpun jejak yang menunjukkan ke tempat yang lain yang dapat dianggap sebagai tempat kematian-nya [Petrus]. Adalah hal lain yang penting di sini, bahwa di abad-abad kedua dan ketiga, ketika beberapa gereja berada dalam persaingan dengan Gereja Roma, tidak pernah terjadi satupun dari antara mereka yang menentang klaim bahwa Roma adalah tempat wafatnya Petrus sebagai martir.'



Gambar Minggu Ini: Galeri Foto Perjalanan Apostolik Paus Benediktus XVI ke Meksiko

Galeri foto Perjalanan Apostolik Paus Benediktus XVI ke Meksiko, dikumpulkan oleh Paula Luckhurst di album The Pope's trip to Mexico. Foto-foto lain bisa diakses di album tersebut. Pax et Bonum

23 Maret 2012. Paus Benediktus XVI berjalan dengan menggunakan tongkat diiringi oleh Kardinal Tarsisio Bertone dan Mario Monti (Italian Premier) menuju ke pesawat untuk berangkat ke Meksiko dan Kuba dari bandara Fiumicino di Roma. Isu-isu utama yang akan diangkat oleh Paus Benediktus XVI dalam kunjungan kali ini adalah perang obat-obatan terlarang di negara Meksiko yang religius dan evolusi rezim komunis di Kuba.

Bapa Suci Benediktus XVI sedang menaiki pesawat dengan dibantu tongkat yang ia punya. Dalam bayangan Indonesian Papist, tampaknya Bapa Suci menolak dibantu naik dan Beliau ingin berusaha sendirian masuk ke dalam pesawat. Bapa Suci Benediktus XVI datang kepada umat beriman di Meksiko dan Kuba yang berharap akan pesan-pesan dan peneguhan dari Sang Bapa Suci.
Suster-suster dari Kongregasi Visitation of Mary di kota Leon (Meksiko) telah mempersiapkan 100.000 roti altar untuk Perayaan Ekaristi oleh Bapa Suci Benediktus XVI
Bapa Suci Benediktus XVI menyapa para reporter di dalam pesawat. Beliau telah tiba Leon
Bapa Suci Benediktus XVI meninjau dan menyapa para pengawal kehormatan di bandara kota Leon.

Para Umat Beriman yang bersukacita menunggu kedatangan wakil Kristus, Benediktus XVI
Iring-iringan Bapa Suci Benediktus XVI di tengah kerumunan umat beriman di kota Leon
Bapa Suci Benediktus XVI memberi berkat dari dalam popemobile.
24. Maret 2012. Bapa Suci Benediktus XVI memimpin Perayaan Ekaristi di Miraflores in Leon
Papa Benedetto XVI menggunakan sombrero, topi khas Meksiko
Bapa Suci Benediktus XVI memberkati seorang bayi
Bapa Suci Benediktus XVI dalam Perayaan Vesper bersama Para Uskup Meksiko dan Amerika Latin di Katedral Our Most Holy Mother of Light di Leon.

Pax et Bonum

Monday, March 26, 2012

Santo Josemaria Escriva Mengenai Sikap Hormat Kepada Para Imam


Santo Josemaria Escriva Mengenai Sikap Hormat Kepada Para Imam dan Refleksi Pribadi Indonesian Papist

St. Josemaria Escriva (sumber: ziarat.net)

Dalam perjalanan apologetika sepanjang hidup saya, harus saya akui bahwa terkadang saya, dalam kelemahan manusiawi, beberapa kali membuat statement di facebook  (seringnya di grup atau page, bukan di status) yang isinya mungkin bisa dianggap oleh banyak orang sebagai bentuk sindiran atau mungkin sikap tidak hormat kepada imam. Pernah pula saya malah membicarakan para imam di belakang mereka, mengkritik dan menyindir mereka di belakang, dan sebagainya. <<< Ini sebuah kesalahan.


Memang, masa-masa sekarang adalah masa-masa sulit di mana sejumlah (bisa banyak bisa sedikit, tapi sejauh saya lihat banyak) para imam justru mengajarkan apa yang tidak diajarkan Gereja atau mengajarkan apa yang ditentang oleh Gereja kepada para umat. Contoh kecilnya soal liturgi di mana para imam yang harusnya menjadi pelayan liturgi, malah justru seolah-olah menjadi pemilik liturgi yang memberikan berbagai improvisasi di sana-sini dalam liturgi.

Sebagai seorang awam Katolik, kita dapat mengoreksi para imam yang melakukan hal-hal yang keliru tentunya dengan berdasarkan pada Tradisi Suci, Kitab Suci dan Magisterium Gereja. Di masa sekarang, kita memiliki akses yang luas untuk membaca dokumen-dokumen ajaran dan aturan Gereja sehingga kita bisa memiliki dasar untuk menyampaikan koreksi kita kepada para imam tersebut.

Namun, tentunya juga manusia itu punya karakter berbeda-beda, ada imam yang menerima koreksi tersebut tetapi ada juga yang tidak. Seringkali para imam yang tidak mau menerima koreksi tersebut membuat para awam jengkel, kecewa, dan sebagainya entah dengan sikap yang tidak mau dikoreksi atau sikap meremehkan karena yang memberi koreksi adalah seorang awam biasa. Saya pun mengalami hal itu dan akhirnya menyindir atau memberikan sikap tidak hormat kepada imam tersebut.

Tapi, dalam suatu kesempatan membuka kembali tulisan St. Josemaria Escriva dalam bukunya Jalan (Camino), saya menemukan bagian �hormat dan cinta terhadap para imam� dalam Daftar Indeks Pokok di belakang buku tersebut. Indonesian Papist akan mengetikkan ulang kalimat-kalimat dari St. Josemaria Escriva ini:

66. Seorang imam, siapa pun dia, adalah selalu �Kristus yang lain�.
67. Meskipun engkau telah mengetahuinya dengan baik, saya ingin mengingatkanmu sekali lagi bahwa seorang imam adalah �Kristus yang lain�, dan bahwa Roh Kudus telah berfirman: �Nolite tangere Christos meos�, yang artinya: �Jangan sentuh Kristus-kristus-Ku!�.
68. Presbyter � imam � menurut asal-usul katanya berarti seorang yang telah lanjut usia. Jika seorang yang berusia lanjut patut untuk dihormati, maka renungkanlah seberapa besar engkau harus menghormati seorang imam.
69. Betapa rendahnya budi pekertimu dan betapa kurangnya rasa hormatmu, mempermainkan seorang imam, siapa pun dia dan dalam situasi apa pun!
70. Aku tetap bersikeras: olok-olokan atau lelucon-lelucon tentang seorang imam meskipun tampaknya tidaklah berarti apa-apa bagimu, namun paling tidak tetap saja semuanya itu kasar, menunjukkan kurangnya budi pekerti yang baik.
73. Hatimu terluka, bak tertusuk belati, mendengar orang-orang berkata bahwa engkau telah menjelek-jelekkan imam-imam itu dengan cerita-ceritamu. Aku bergembira kalau hal tersebut membuat hatimu bersedih karena sekarang aku yakin akan semangatmu yang baik!
74. Mencintai Tuhan dan tidak menghormati imam ... adalah mustahil.
75. Seperti putra-putra Nabi Nuh yang baik, tutupilah kekurangan-kekurangan yang engkau dapat pada bapamu, seorang imam, dengan kerudung cinta kasih.
526. Jika engkau tidak memiliki penghormatan yang tertinggi bagi jabatan imam dan bagi biarawan-biarawati, maka tidaklah benar bahwa engkau mencintai Gereja Allah.

St. Escriva begitu menekankan penghormatan dari setiap orang Katolik kepada para imam. Ia berkata bahwa para imam selalu merupakan Kristus-kristus yang lain. Tentu jangan kita maknai bahwa para imam itu sama secara keseluruhan dengan Yesus Kristus yang tidak berdosa dan tidak berbuat salah. Para imam sama dengan Yesus Kristus karena mereka sama-sama yang diurapi oleh Allah dan menjadi gembala bagi kawanannya. Pada porsi yang sesuai, kita menyembah dan menghormati Yesus Kristus dan kita menghormati Kristus-kristus yang lain ini.

�Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.�, demikianlah Sabda Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam sense tertentu, kita pun bisa mengaplikasikan ini kepada para imam, Kristus-kristus yang lain. Ketika kita melihat para imam, kita melihat kebapaan Allah Bapa. Di mana paling jelas kita melihat kebapaan para imam? In My Opinion, pada saat Sakramen Tobat, di sanalah kita bisa melihat kerahiman Allah Bapa yang begitu besar melalui para imam. Para imam memancarkan kebapaan Allah Bapa pada saat Sakramen Tobat tersebut.

Saya yakin ada di antara kita yang berkata bahwa �tetapi ada banyak imam yang buruk, yang tidak kebapaan, yang tidak kudus, yang tidak mengajarkan ajaran Gereja dan seterusnya.� Untuk hal ini pertama-tama harus kita ketahui bahwa St. Josemaria Escriva sama sekali tidak mengajarkan kita untuk bersikap �romosentris� atau mengimani dan menerima apa saja yang diajarkan oleh para imam sekalipun ada kekeliruan. St. Escriva juga tidak mengajarkan kita untuk tidak bersikap kritis ketika ada sesuatu janggal yang dilakukan atau diajarkan oleh para imam. Apa yang diajarkan St. Escriva adalah sikap hormat yang kudus kepada para imam sekalipun ada di antara para imam itu yang tidak kudus. Dan St. Escriva sendiri mengatakan supaya kita �tutupilah kekurangan-kekurangan yang engkau dapat pada bapamu, seorang imam, dengan kerudung cinta kasih.�

Apa yang bisa kita dapat dari sini? Apa maksud menutupi kekurangan imam dengan kerudung cinta kasih? Dalam perenungan pribadi saya akan kalimat tersebut, bila seorang imam melakukan atau mengajarkan kekeliruan, maka kita harus mengoreksi imam itu karena kita mengasihi imam itu, bukan untuk menjatuhkan dia atau memenangkan debat dengan dia. Dan dengan cara kasih juga kita harus mengoreksinya. Sekalipun kita tahu berbagai isi dokumen Gereja yang dilanggar oleh imam tersebut, tetaplah mengoreksinya dengan rendah hati dan hormat karena bagaimanapun juga merekalah yang menghadirkan Kristus bagi kita dalam Perayaan Ekaristi. Tangan mereka itulah yang mengkonsekrasikan roti dan anggur hingga menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Bila ada kekeliruan yang dilakukan oleh seorang imam, adalah tuntutan bagi kita yang mengetahuinya untuk mengoreksi imam itu karena inilah salah satu bentuk kerudung cinta kasih kita bagi imam itu. Jika tidak, kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah akan tindakan pembiaran kita itu. Kitab Suci menegaskan hal ini:

Yeh 3:19 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.
Yeh 3:20 Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.
Yeh 3:21 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu."

Dan apa yang kita lakukan bila sang imam tidak mau mendengarkan koreksi dari kita? Ketika kita sudah memberikan koreksi dan berargumen seperlunya, tetapi ia tetap tidak mau mendengarkan kita, maka undur dirilah dari pembicaraan dengan imam itu dan kemudian berharap dan berdoalah untuk dia. Jangan pernah memaksa apalagi sampai kelewatan memaksa imam tersebut. Ingat, ketika kita mewartakan Injil pun, kita tidak boleh memaksa orang lain menerimanya, tetapi berharaplah dan berdoalah supaya Roh Kudus menyentuh hati orang lain tersebut agar percaya pada Injil. Demikian pulalah yang harus kita lakukan ketika kita memperingatkan para imam tersebut akan kekeliruannya.

Apa yang dapat disimpulkan dari refleksi ini adalah bahwa kita sebagai umat Katolik hendaknya memiliki sikap hormat yang kudus kepada para imam, bukan sikap asal hormat. Koreksi terhadap kekeliruan mereka juga hendaknya diberikan atas dasar kasih dan dalam sikap hormat yang kudus itu. Kita selalu dituntut untuk memperingatkan para imam ketika mereka berbuat yang keliru atau mengajarkan yang keliru. Sikap hormat yang kudus kepada para imam tidak pernah berada dalam bentuk toleransi pada ajaran, gagasan dan tindakan imam yang salah.

Pax et Bonum

Artikel ini ditulis oleh Indonesian Papist sebagai pesan bagi dirinya sendiri dan bagi siapapun umat Katolik yang membaca artikel ini.

Recent Post