Latest News

Thursday, January 27, 2011

Roh Kudus dan Gereja



 Roh Kudus diberikan untuk selama-lamanya

Kejadian yang mengherankan di pagi hari Pentakosta itu dan manifestasi yang dapat ditangkap oleh indera manusia, tidak terulang lagi. Tetapi itu tidak berarti bahwa apa yang terjadi pada hari itu hanya bersifat sementara saja. Tidak karena Roh Kudus yang dianugerahkan oleh Kristus kepada Gereja, tidak pernah meninggalkannya lagi sejak itu, dan umat beriman selalu dapat mengharapkan bantuan-Nya.

Memang benar bahwa di zaman purba tanda-tanda Roh Kudus begitu mengherankan dan begitu nyata dalam banyak orang beriman. Tetapi itu sudah sesua dengan kebutuhan zaman. Gereja baru saja didirikan dan belum mempunyai akar yang kuat di dalam banyak orang. Tanda-tanda semacam itu sekarang ini sudah tidak biasa terjadi lagi, tetapi itu tidak berarti, bahwa Ia sudah tidak tinggal lagi di tengah kita. Manifestasi yang mengherankan sudah tidak perlu lagi dewasa ini, oleh karena Gereja sendiri dengan kekudusannya, universalitasnya, kesuburannya, dan kelestariannya sudah menjadi suatu tanda ilahi yang jauh lebih nyata daripada dahulu. Juga sekarang Roh itu tinggal di dalamnya, dan ia selalu akan tinggal di dalamnya, karena Ia telah diberikan untuk tinggal selama-lamanya.

Hubungan Roh Kudus dan Gereja

Roh yang diberikan oleh Kristus kepada Gereja-Nya adalah sumber segala kebaikan. Ia adalah Roh Kebenaran. Yoh 15:26, karena Ia akan menyampaikan apa yang diterimaNya dari Kristus dan karena Ia akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah dikatakan Kristus. Yoh 14:26. Apabila kuasa mengajar itu tidak dapat salah dalam memelihara, menerangkan dan mewartakan kebenaran, maka itu terjadi karena kekuatan Roh Kudus. Roh Kudus memelihara Gereja di dalam kepercayaan benar dan melindunginya dari setiap kesesatan.

Ia memberi  pandangan yang lebih jelas tentang kebenaran kepercayaan. Di bawah pimpinanNya, Gereja mengembangkan kekayaan kepercayaannya, sehingga dengan demikian aspek-aspek tertentu dalam wahyu menjadi lebih terang. Dengan demikian timbullah di dalamnya suatu kesadaran yang lebih mantap terhadap harta miliknya sendiri. Ia juga memberi ilham kepada para pejabat dan selalu membantu mereka agar mereka mengambil keputusan yang tepat dalam keadaan yang sangat berbeda-beda.

Roh Kudus adalah sumber kekudusan bagi Gereja. Kita menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah, sehingga kita berseru: �Abba, ya Bapa�. Rom 8:15. Ia juga memberi inspirasi pada doa umat beriman. Ia berdoa di dalam Gereja dan Ia sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Rom 8:26. Ia juga yang membisik di dalam lubuk hati kita, dan mengajak kita untuk melaksanakan kebajikan. Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, itu semua adalah buah Roh. Gal 5:22-23.

Gereja memiliki Roh Kudus, Roh yang membuat kita menjadi kuat. 2 Timi 7:7. Dialah sumber kekuatan adikodrati, sehingga mereka yang begitu lemah diperlengkapi dengan bantuan manusiawi, dapat memerangi dan mengalahkan kekuatan materiil dengan pedang Roh Allah. Ef 6:17. Dalam perlawanan dan penghambatan Ia selalu membuat para syahid berbicara kepada para penguasa duniawi dengan cara yang membuktikan kuasa dari Roh Allah. 1 Kor 2:4. Ia selalu mengilhami para syahid dengan kata-kata yang harus mereka ucapkan: Yang nanti berbicara pada waktu itu bukanlah kalian, melainkan Roh Bapalah yang berbicara melalui kalian. Mat 10:20. Roh ini juga memberi kekuatan dan kesadaran untuk bertabah. Ia juga bekerja di dalam semua orang yang melaksanakan kewajibannya dengan cara ksatria.

Roh Kudus adalah pembentuk kesatuan di dalam Gereja. Daripada-Nya datang anugerah dan karismata, yang walaupun berbeda-beda, namun tidak memecah belah Gereja. Ia sendiri adalah dasar kesatuan, karena semuanya itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya . 1 Kor 12:11. Semua kita telah dibabtis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. 1 Kor 12:13.

Roh Kudus yang diberikan Kristus kepada Gereja-Nya, adalah juga sumber kehidupan adikodrati dan kehidupan ilahi. Ia adalah air pembawa hidup yang mengalir di dalam Gereja. Karena Ia hadir di dalam Gereja maka segala jabatan dan lembaga gerejani mendapat kekuatan surgawi. Jika kita mau masuk ke dalam Kerajaan Tuhan, kita harus dilahirkan kembali, tetapi itu hanya terjadi dalam air dan Roh. Yoh 3:5. Kehidupan yang telah hilang dapat diperoleh kembali dengan perkataan Kristus kepada Para Rasul: Terimalah Roh Kudus, jikalau kamu mengampuni dosa orang, maka dosanya diampuni. Yoh 20:23. Ia adalah sumber yang tidak pernah kering dan tidak dapat dikotori oleh dosa.


Sumber: Aku Percaya art 8.II, RP. H. Embuiru, SVD.

Petrus, Sang Batu Karang tempat Gereja Kristus Didirikan

St. Peter The Apostle

Mrk 3:16; Yoh 1:42 � Yesus mengganti nama Simon menjadi �Kepha� yang dalam Bahasa Aram secara literal berarti �Batu Karang�. Peristiwa ini adalah sesuatu yang tidak biasa yang dilakukan Yesus karena �Batu Karang� bahkan bukan nama dalam masa tersebut. Yesus melakukan ini untuk memberikan status baru kepada Petrus di antara Para Rasul. Ketika Allah mengganti nama seseorang, Dia mengubah statusnya.

Kej 17:5, 32:38 ; 2 Raja-Raja 23:34 ; Kis 9:4, 13:9 � sebagai contoh, pada perikop ini kita melihat bahwa Allah mengubah nama-nama orang berikut ini dan sebagai hasilnya mereka menjadi agen-agen spesial Allah: Abram menjadi Abraham, Yakub menjadi Israel, Elyakim menjadi Yoyakim, Saulus menjadi Paulus.

2 Sam 22:2-3, 32, 47, 23:3; Mzm 18:2,31,46, 19:4, 28:1, 42:9, 62:2,6,7 89:26, 94:22, 144:1-2 � Dalam ayat-ayat ini, Allah juga dipanggil �Batu Karang�. Oleh karena itu, berdasarkan ayat-ayat tersebut, non-Katolik sering berargumen bahwa Allah, dan bukan Petrus, adalah batu karang yang dimaksud oleh Yesus pada Mat 16:18. Argumen ini tidak hanya mengabaikan makna sederhana dari teks tersebut, tapi juga mengasumsikan bahwa kata-kata yang digunakan dalam Kitab Suci hanya dapat memiliki satu makna. Tentu saja hal ini tidak benar. 
Sebagai Contoh:
1 Kor 3:11 � Yesus disebut satu-satunya Pondasi Gereja dan di Efe 2:20, Para Rasul disebut pondasi Gereja juga. Hal yang sama, pada 1 Pet 2:25, Yesus disebut Gembala, tapi di Kis 20:28, Para Rasul juga disebut gembala. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ada berbagai metafora untuk Gereja, dan kata-kata tersebut yang digunakan oleh penulis Kitab Suci yang diilhami Roh Kudus dapat memiliki makna-makna yang berbeda. Katolik setuju bahwa Allah adalah Batu Karang Gereja, tapi hal ini tidak berarti Dia tidak dapat menganugerahkan pembedaan ini kepada Petrus juga, untuk memfasilitasi persatuan yang Dia inginkan untuk Gereja. 


Mat 16:18 � Yesus berkata dalam Bahasa Aram, kamu adalah �Kepha� dan di atas �Kepha� Aku akan mendirikan Gereja-Ku. Dalam bahasa Aramaik, �Kepha� berarti Batu yang besar dan �evna� berarti kerikil yang kecil. Beberapa non-Katolik berargumen bahwa, karena kata Yunani untuk batu karang adalah �Petra�, dan �Petros� berarti �batu yang kecil�, maka Yesus berusaha untuk mengurangi hak Petrus setelah memberkatinya dengan memanggil dia batu yang kecil. Dalam konteks berkat Yesus kepada Petrus, argumen ini tidak masuk akal. Yesus berkata dalam bahasa Aram dan menggunakan �kepha� bukan �evna�. Penggunaan Petros untuk menerjemahkan Kepha dilakukan untuk merefleksikan kemaskulinan kata tersebut. Ingat dalam bahasa Yunani ada kata yang netral, feminim dan maskulin.

Lebih jauh lagi, jika Matius ingin mengidentifikasikan Petrus sebagai �batu kecil�, Matius akan menggunakan kata �lithos� yang berarti kerikil kecil dalam bahasa Yunani. Juga, Petros dan Petra adalah sinonim pada masa Injil ditulis, sehingga usaha apapun untuk membedakan kedua kata ini adalah tidak logis. Oleh karena itu, Kristus memanggil Petrus batu karang, bukan kerikil kecil, di mana Dia akan mendirikan Gereja (Anda sekalian bahkan tidak perlu Mat 16:18 untuk membuktikan Petrus adalah batu karang karena Kristus mengganti namanya dari Simon menjadi �batu karang� pada Markus 3:16 dan Yohanes 1:42).

Mat 16:17 - lebih jauh menunjukkan bahwa Yesus sedang berbicara dalam Bahasa Aram. Yesus berkata Simon Bar-Jona. Penggunaan �Bar-Jona� membuktikan bahwa Yesus sedang berbicara dalam Bahasa Aram. Dalam Bahasa Aram, �Bar� bermakna �Putra� dan �Jonah� bermakna John atau Roh Kudus (Dove). 

Lihat Mat 27:46 dan Mrk 15:34 yang memberikan contoh lain Yesus berbicara dalam Bahasa Aram karena Dia mengucapkan ayat pertama dari Mazmur 22 yang mendeklarasikan bahwa Ia adalah Kristus, Sang Mesias. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus sebenarnya berbahasa Aram sama seperti orang-orang Yahudi lakukan pada masa tersebut.

Mat 16:18 � juga, dalam mengutip �di atas batu karang ini�, Matius menggunakan struktur bahasa Yunani �tautee tee� yang berarti �on this rock�; on �this same� rock; atau on �this very rock�. �tautee tee� adalah struktur penunjukan dalam Bahasa Yunani, menunjuk pada Petrus, subyek dari kalimat (dan bukan pengakuan imannya sebagaimana beberapa non-Katolik berargumen) sebagai sungguh batu karang dimana Yesus membangun Gereja-Nya. �Tautee� secara umum merujuk kepada subyek sebelumnya yang terdekat yaitu, �Petros�. Juga, tidak ada dalam Kitab Suci di mana �iman� disamakan dengan �batu karang�.
 
Mat 16:18-19 � sebagai tambahan, argumen dari Protestan yang menunjukkan bahwa Yesus pertama-tama memberkati Petrus karena menerima wahyu ilahi dari Allah Bapa, kemudian merendahkan Petrus dengan memanggil dia kerikil kecil, dan kemudian meninggikan Petrus lagi dengan memberikan kunci Kerajaan Surga adalah sungguh-sungguh tidak logis dan sebuah manipulasi kotor dari teks untuk menyembunyikan kebenaran mengenai kepemimpinan Petrus di dalam Gereja. Berikut ini adalah tiga rangkap berkat Yesus kepada Petrus � Berbahagialah engkau, engkau adalah batu karang dimana Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan engkau akan menerima kunci Kerajaan Surga. (Berkat Yesus kepada Petrus bukanlah seperti ini: Berbahagialah Engkau karena menerima wahyu ilahi, tapi engkau masih tetap kerikil kecil, dan Aku akan memberimu kunci Kerajaan Surga.)


Mat 16:17-19 � untuk lebih jauh membantah argumen Protestan bahwa Yesus berbicara mengenai pengakuan Iman Petrus saja (bukan Petrus sendiri) berdasarkan wahyu yang Petrus terima, ayat-ayat tersebut adalah jelas bahwa Yesus, setelah menyatakan pengakuan Petrus adalah wahyu Ilahi, mengubah seluruh topik percakapan menjadi mengenai pribadi Petrus. 

Mat 16:17 Kata Yesus kepadanya (Petrus): "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
Mat 16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."
(Terjemahan Baru LAI, Penekanan diberikan oleh saya)
Ucapan Yesus ini seluruhnya berhubungan kepada pribadi Petrus.

Mat 16:13 � juga, berdasarkan perspektif geografis, Yesus menamai ulang Simon menjadi Batu Karang (Petrus) di Kaesarea Filipi dekat dengan sebuah formasi batu karang raksasa di mana Herodes membangun sebuah kuil bagi Caesar. Yesus memilih tempat ini untuk lebih jauh menekankan bahwa Petrus adalah sungguh Batu Karang di mana Gereja akan dibangun.

Mat 7:24 � Yesus, layaknya seorang yang bijak, membangun rumah-Nya di atas batu karang (Petrus), tidak di atas pasir (Simon) sehingga rumah itu tidak akan roboh.

Lukas 6:48 � Rumah (Gereja) yang dibangun di atas batu karang (Petrus) tidak dapat digoyahkan oleh air bah dan banjir (Air bah dan banjir melambangkan ajaran-ajaran sesat, skisma-skisma dan skandal-skandal yang Gereja telah hadapi selama 2000 tahun ini). Air bah dan banjir telah terjadi, tapi Gereja tetap kokoh berada pada pondasi batu karangnya yang solid.

Mat 16:21 � adalah juga penting untuk dicatat bahwa hanya setelah Yesus menetapkan Petrus sebagai Pemimpin Gereja, Yesus mulai berbicara mengenai kematian dan kebangkitan-Nya. Hal ini karena Yesus sekarang telah menunjuk wakil-Nya di bumi, yaitu Petrus.

Yoh 21:15 � Yesus bertanya kepada Petrus apakah dia mencintai Yesus �lebih daripada mereka ini (Para Rasul lain)�. Yesus menunjuk Petrus seorang sebagai pemimpin dari Para Rasul.

Yoh 21:15-17 � Yesus memilih Petrus untuk menjadi Chief Shepherd (Gembala Kepala) dari Para Rasul ketika Yesus berkata kepada Petrus, �Gembalakanlah Domba-domba-Ku�, �Gembalakanlah Domba-domba-Ku�, �Gembalakanlah Domba-domba-Ku�. Petrus menggembalakan Gereja sebagai wakil Yesus Kristus. (lihat juga bagaimana Para Paus pengganti Petrus adalah Wakil Yesus Kristus, Silahkan klik)

Lukas 22: 31-32 � Yesus juga berdoa supaya Iman Petrus tidak dapat gugur dan meminta Petrus menjadi seorang yang meneguhkan Para Rasul lain � Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kalian (Para Rasul) seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau (Petrus seorang), supaya imanmu (Iman Petrus) jangan gugur. Dan engkau (Petrus), jikalau engkau (Petrus) sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu."

Kis 1,2,3,4,5,8,15 � tidak seorang pun mempertanyakan otoritas Petrus untuk berbicara kepada Gereja, mendeklarasikan anathema, dan menyelesaikan debat doktrinal. Petrus adalah batu karang di mana Gereja dibangun yang menggembalakan domba-domba Yesus dan yang memiliki iman yang tidak akan gugur.

Pax et Bonum

---------------
Diterjemahkan secara bebas dari scripturecatholic.com

St. Petrus dan Para Paus adalah Wakil Yesus Kristus

His Holiness Benedict XVI



Tuhan Yesus Kristus tentu tidak ingin domba-domba-Nya tercerai berai. Dia menghendaki agar domba-domba-Nya menjadi �satu kawanan dengan satu gembala� (Yoh 10:16). Tuhan Yesus memang Gembala yang Baik (Yoh 10:11,14). IA adalah Gembala yang rela memberikan nyawanya bagi domba-domba-Nya. Namun kebaikan Sang Gembala ini tidak sampai di sana saja. Setelah kebangkitan-Nya sebelum kenaikan-Nya ke Surga, IA mendelegasikan penggembalaan-Nya kepada Pemimpin Para Rasul, St. Petrus.


Yoh 21:15. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

Yoh 21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

Yoh 21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Dengan mendelegasikan penggembalaan ini kepada St. Petrus, Tuhan Yesus Kristus sebenarnya membawa domba-domba-Nya menjadi Satu Kawanan (Gereja) dengan Satu Gembala (Yesus melalui Wakil-Nya, Petrus). Maka tepatlah bila dikatakan Petrus adalah Wakil Yesus Kristus. Pendelegasian ini sekaligus juga mempertegas pernyataan-Nya dalam Injil menurut Matius.




Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah KEFAS dan di atas KEFAS ini Aku akan mendirikan GEREJA-KU dan alam maut tidak akan menguasainya.

Maka tepatlah yang dikatakan oleh Bapa Gereja St. Ambrosius, Uskup Milan:
�Ubi Petrus, Ibi Ecclesia - Di mana ada Petrus, di situlah Gereja� 
"Where Peter is, there is the Church" Ambrose, Commentary on the Psalms, 40:30 (AD 395).

Pertanyaan yang mungkin muncul:
�Lalu dimana posisi Paus? Tidak ada dukungan Kitab Suci bahwa Paus layak disebut Wakil Yesus Kristus.�

Jawaban:
Paus adalah Pengganti Petrus dan Paus menerima jabatan yang sama dengan Petrus, yaitu Wakil Yesus Kristus.

Kita dapat bertanya, mengapa Yesus mengangkat Petrus menjadi Gembala dari Para Domba-Nya jika IA tidak menghendaki jabatan itu diteruskan dalam Gereja? Seolah-olah generasi selanjutnya sudah tidak begitu memerlukan bimbingan dibanding generasi perdana.

Sebenarnya malah, generasi selanjutnya yang memerlukan lebih banyak bimbingan. Yesus melakukan hal ini sekali lagi karena Ia menginginkan domba-domba-Nya menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Apakah Yesus menghendaki peranan sebagai gembala dari Petrus saja atau dari para penggantinya juga?
Dalam pemilihan Rasul Matias untuk menggantikan Yudas Iskariot (Kis 1:15-26), Petrus sendiri berkata, �Biarlah jabatannya diambil orang lain� (Kis 1:20). Melalui Petrus, Yesus menyatakan jabatan Para Rasul itu berkesinambungan alias tidak terputus. Setiap Para pengganti Para Rasul akan menerima jabatan yang sama dengan Para Rasul tersebut dengan kewibawaan yang sama pula. Inilah salah satu dasar adanya suksesi apostolik dalam Gereja. Suksesi Apostolik ini sendiri juga berlaku untuk jabatan Petrus sebagai Wakil Yesus Kristus. Kita dapat mengatakan �Biarlah jabatan Petrus diambil orang�. Dengan demikian, memang benarlah bahwa Para Paus pengganti Petrus juga adalah Wakil Yesus Kristus.

Sunday, January 16, 2011

Kitab Suci datang dari Gereja Katolik (Renungan Seorang Romo)

Ada beberapa posting dari teman-teman yang mempertanyakan "bagaimana Kitab Suci itu ditulis dan mengapa Kitab Suci itu seperti adanya sekarang." Bahkan lebih parah lagi bahwa banyak denominasi protestan yang mempersalahkan Gereja Katolik karena tidak berbicara dan bertindak sesuai dengan Kitab Suci. Pertanyaannya: "Siapa pemilik sesungguhnya dari Kitab Suci itu?" Manakah yang lebih dulu ada; Gereja atau Kitab Suci? (Maaf, saya hanya mengajak Anda sekalian untuk menyadari bahwa sebelum kita berbicara tentang penafsiran ayat per ayat, alangkah baiknya kita memiliki pemahaman dasar tentang sejarah penulisan dan pembentukan Kitab Suci itu sendiri).

Tulisan ini kupersembahkan untuk teman-teman PERKAT (Sebelumnya saya sudah posting dalam group "MIK" dan "Pulanglah ke dalam Pangkuan Bunda Gereja).

"GEREJA KATOLIK MENCIPTAKAN KITAB SUCI"

"Banyak orang skarang ini mendirikan gerejanya berdasarkan KITAB SUCI. Pertanyaan muncul: SIAPAKAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI? APAKAH KITAB SUCI MENCIPTAKAN GEREJA ATAU GEREJALAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI?


Terhadap pertanyaan utama: "SIAPAKAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI" memang rasanya sulit untuk dipahami. Karena itu, mungkin kita bisa merumuskan seperti ini; ATAS JASA SIAPAKAH TULISAN2 BERSERAKAN ITU DIKUMPULKAN MENJADI KITAB SUCI SEPERTI YANG KITA MILIKI SKARANG INI?

1. KITAB SUCI BUKANLAH SATU-SATUNYA SUMBER IMAN

Dengan judul ini saja, kita sudah berseberangan dengan keyakinan saudara/ri kita Protestan, yang inti ajarannya adalah "SOLA SCRIPTURA" (Hanya Kitab Suci saja). Namun, saya tidak mau berpolemik tentang keyakinan yang berbeda seperti ini. Apa yang saya jelaskan adalah soal kelogisan berpikir dan keyakinan akan kebenaran yang tertulis berdasarkan sejarahnya.

Jesus selama hidup-Nya di dunia ini tak pernah menyebutkan tentang sebuah Kitab Suci (dalam arti keharusan adanya sebuah Kitab Suci seperti TAURAT dalam Agama Yahusi). Benar kan? Dia tidak pernah memerintahkan para Rasul-Nya untuk percaya kepada sebuah buku. Demikian pun IA tak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk menuliskan sebuah buku. Karena itu, sewaktu hidupnya para Rasul, harus diakui bahwa tidak ada yang namanya KITAB SUCI. Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus tak pernah membangun gereja-Nya di atas dasar sebuah Kitab/Buku sebagai dasar iman, tetapi Ia membangun sebuah Gereja sebagai pilar dan dasar dari sebuah kebenaran. (2 Tim 3:15). Dan Dia tidak pernah berjanji sebuah buku/Kitab melaikan Diri-Nya sendiri akan selalu beserta Gereja-Nya sampai akhir zaman (Mat.12:15) dan Roh Kudus akan memimpin para rasul dan para pengganti mereka sampai kepenuhan kebenaran yakni setelah Ia naik ke Surga (Yoh.14:16-17).



2. TRADISI DAN KITAB SUCI

Pada awal gereja di mana Kitab Suci belum ada, umat Kristen percaya pada pengajaran para Rasul, yang menjadi dasar iman mereka, yang mana disebut oleh gereja sebagai "TRADISI SUCI." Hal ini bisa dilihat dalam Mat.15:6-9. Sedangkan istilah2 seperti Tritunggal, Api Penyucian dan lain2 berasal dari surat2 para bapa Gereja yang kemudian dikuatkan oleh isi Kitab Suci kelak.

Tentang pentingnya tradisi dalam gereja bisa dibaca dalam 2 Tesalonika 2:15; "Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran2 yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis." Atau dalam 1Kor 11:2: "...kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepdamu.

Dengan penjelasan ini maka kiranya menjadi jelas bahwa ; Pertama, Kitab Suci adalah sebuah TRADISI. Kitab Suci bukanlah sesuatu yang diturunkan oleh Allah sebagai sebuah buku melainkan berupa inspirasi yang menggerakan para penulis menuliskan apa yang mereka alami. Kedua, tradisi lisan maupun tulisan tetap penting dalam membangun iman umat.

3. ALASAN TULISAN2 DIKUMPULKAN MENJADI KITAB SUCI.

Pada masa awal gereja, terdapat sekitar lebih dari 50 Injil, yang termasuk 4 Injil yang kita kta dalam Kitab Suci sekarang ini (Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Selain itu, ada juga Injil lain seperti Injil Yakobus, Injil Thomas, Injil Ibrani, dll. Ada juga 22 buku Kitab lain, Kisah Para Rasul, Kisah Paulus, dan lain sebagainya. Banyaknya Kitab2 Injil ini semakin membingungkan umat gereja perdana. Di antara Injil dan Kitab2 itu ada juga yang isinya sangat bertentangan dengan ajaran Para Rasul, seperti ajaran Arius yang mengatakan bahwa Jesus bukan Allah, Apolinarius; Yesus bukan manusia, Macedonius; Roh Kudus bukan Allah. Kenyataan ini sungguh sangat memprihatinkan umat terutama dalam usaha untuk mengembangkan kehidupan iman mereka.

Menghadapi tantangan2 nyata seperti Gereja Katolik memutuskan untuk menyeleksi beberapa Kitab yang menunjukkan keaslian pada ajaran para Rasul dan yang betul2 penuh inspirasi. Inilah yang nantinya disebut Kanon (sarana untuk mengukut keaslian dan kebenaran Kitab Suci). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa INJIL DATANG DARI GEREJA DAN BUKAN GEREJA DATANG DARI INJIL (Inilah jawaban atas tulisan di statusku di atas).

Sekedar sebagai kesaksian bahwa banyak orang Protestan akhirnya kembali kepada pangkuan Gereja Katolik setelah menyadari akan kebenaran cerita tentang Kitab Suci. Ini bukan terjadi karena mereka cuma belajar tentang Kitab Suci sendiri tetapi mereka belajar tentang sejarah terbentuknya Kitab Suci, yang merupakan hasil kerja keras Gereja Katolik. Dalam konteks ini, kita bisa mengatakan bahwa TANPA GEREJA KATOLIK, PASTI KITA TIDAK MEMILIKI KITAB SUCI SEPERTI YANG ADA SEKARANG INI.

4. GEREJA KATOLIK-LAH YANG MENGUMPULKAN TULISAN2 YG BERSERAKAN DAN MENJADIKANNYA KITAB SUCI SEPERTI YANG SKARANG INI.

Berawal dari Melito, Uskup dari Sardis (tahun 170 SM) yan gmencoba untuk memliki sebuah kanon tentang Kitab Suci Perjanjian Lama, namun karena ada kesulitan dalam daftar besar kitab2 yang beredar pada waktu itu maka usaha ini tidak berjalan dengan lancar.

Konsili Gereja di Laodicea, dengan izin Paus di Roma mencoba memproduksi kanon Kitab Suci. Tapi usaha ini pun hanya berkembang sebatas Paus Damasus. Di bawah kepemimpinannya, Ia memerintahkan St.Jerome menterjemahkan Kitab Suci dari bahasa aslinya ke dalm bahasa Latin (bahasa resmi dalam gereja waktu itu).

Dengan kuasa yang dimilik oleh Paus, ia kemudian menerima Injil Lukas dan digabungkan dengan ketiga Injil lain dengan alasan bahwa dalam Injil Lukas terekam lengkap kisah kanak-kanak Yesus, terutama dalam hubungan dengan Santa Perawan Maria. Lukas jugalah yang untuk pertama kalinya melukis gambar Bunda Maria dengan Yesus, yang sampai saat ini masih tersimpan di Gereja Basilika Santa Maria major di Roma. Injil Matius ide jelas tentang kuasa tidak mengajar Petrus dan gereja yang dibangun di atasnya. Injil Yohanes digunakan oleh orang Kristen perdana untuk mempertahankan imannya, terutama dalam hubungan dengan Sakramen Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Yesus. Injil Markus juga memberikan gambaran yang jelas tentang kuasa St. Petrus untuk memimpin gereja yang didirikan oleh Yesus, dan kuasa ini sampai saat ini masih dijalankan oleh para penggantinya, yakni Paus di Roma.

5.TIDAK ADA KITAB SUCI TANPA GEREJA.

Dari berbagai penjelasan di atas, kita lalu sampai pada kesimpulan logis bahwa "TIDAK ADA KITAB SUCI TANPA GEREJA KATOLIK". GEREJA KATOLIKLAH YANG MENGADAKAN KITAB SUCI, yang sekarang malah diklaim oleh banyak orang sebagai miliknya, dan lebih parah lagi jika mereka berani mengatakan bahwa mereka LEBIH BENAR, LEBIH TAHU tentang Kitab Suci daripada Gereja Katolik. Ini sungguh sebuah lawak yang tidak lucu.

Dengan demikian, bagi mereka yang menyangkal tradisi, kuasa mengajar dan memimpin PAUS dan cuma percaya pada pewahyuan selalu mempertanyakan keabsahan Kitab Suci. Ini yang harus kita sadari bahwa ketika kita menyebut Injil Lukas, Injil Markus, dll. bukan berarti bahwa Kitab Suci sungguh ditulis oleh mereka. Kepercayaan ini berdasar pada tradisi gereja. Karena itu, isi Kitab Suci sendiri merupakan kumpulan dari tulisan2 mereka yang menjadi saksi bukan hanya sebagai Rasul tetapi sebagai murid dari para rasul seperti Lukas dan Markus. Kedua penulis ini bukanlah tergabung dalam kelompok 12 Rasul. Mereka adalah murid dari Petrus dan Paulus.

Karena itu, perjuangan untuk memasukan sebuah kitab/Surat dalam Kitab Suci sungguh memakan waktu dan pertimbangan yang matang dari sisi pewahyuan dan isinya yang mendukung perkembangan iman umat, seperti misalnya; Kitab Wahyu. Kitab ini awalnya tidak diterima oleh umat kristen perdana. Tapi hanya karena keputusan dari PAUS yang mempertimbangkan bahwa isi kitab ini dapat membantu umat dalam mengenal dan mengimani Allah, maka akhirnya kitab wahyu termaktub dalam Kitab Suci seperti sekarang ini. Kuasa Paus untuk menentukan ini berdasar pada Mat.28:20; Ajarilah mereka tentang segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan, lihatlah, Aku akan menyertaimu sampai akhir zaman. (kamu di sini adalah para rasul dibawa komando Petrus sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh Yesus).

Menjadi sebuah kebenaran bahwa segala sesuatu yang diperbuat oleh para rasul dan para bapa gereja perdana tidak tertulis dalam Kitab Suci. Kitab Suci sendiri mengakuinya itu dalam Yoh.21:25; "Masih ada banyak hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetpi jika semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu." Karena itu, mereka yang percaya bahwa kebenaran hanya terdapat dalam Kitab Suci membuat sebuah kontradiksi besar dalam hidup mereka, ketika mereka menerima pewahyuan lewat pemimpin gereja mereka sebagai kebenaran. Bukankah apa yang diwahyuhkan kemudian TIDAK TERTULIS dalam Kitab Suci? Mengapa mereka harus mengakuinya? Gereja Katolik telah melihat kemungkinan bahwa Allah akan terus bekerja dalam setiap generasi sampai akhir zaman. Karena itu, kebenaran dalam Kitab Suci tak pernah disangkal, tetapi pewahyuan atau apa yang dilestarikan dalam tradisi gereja juga dipercaya datang dari Allah.

Karena itu, di balik segala kelemahan dan kekurangan gereja, terutama lewat pemimpin2nya, kita tidak bisa membuatnya menjadi alasan untuk meninggalkan gereja Katolik, apalgi untuk membenci. Gereja Katolik adalah gereja yang didirikan oleh Yesus sendiri di atas dasar Petrus sebagai lambang kesatuan para rasul yang lain. Para rasul yang lain, seperti Yakobus, Matius, Tadeus, dll. bahkan murid kesayangan Yesus, Yohanes, tak pernah mendirikan sebuah gereja baru karena kuasa yang diberikan kepada mereka. Walaupun berbebda pendapat atas banyak hal tapi mereka tetap percaya kepada Petrus sebagai pemimpin resmi mereka, yang diangkat sendiri oleh Yesus. Bahkan di zaman Paulus yang mendapatkan pewahyuan luar biasa dari Yesus, bahkan disebut rasul bagi bangsa2 lain pun tetap mengakui Petrus sebagai pemimpinnya karena hak yang diberikan oleh Yesus kepada Petrus sendiri secara khusus.

PENUTUP

Pertanyaan untuk direnungkan oleh semua orang Kristen (baik Katolik maupun Protestan); "KALAU YESUS, KALAU PETRUS DAN PARA RASUL YANG LAIN TIDAK PERNAH MEMBAGI GEREJA MENJADI BAGIAN2 YANG TERPISAH SATU SAMA LAIN, SEKALIPUN BANYAK TERJADI SALAH PAHAM BAIK PADA LEVEL THEOLOGIS MAUPUN PRAKTIS HIDUP TERJADI, MENGAPA KITA MANUSIA SEKARANG HARUS MEMBAGINYA KARENA MERASAKAN BAHWA KEINGINAN KITA TIDAK TERAKOMODIR DALAM GEREJA KATOLIK, LALU KITA MENDIRIKAN GEREJA BARU? Apa artinya doa Yesus; SEMOGA MEREKA BERSATU' untuk kita dewasa ini? KALAU YESUS MEMPERSATUKAN MAKA IBLISLAH YANG SELALU MENCERAIKAN BERAIKAN KITA LEWAT NAFSU DAN KEINGINAN KITA YANG TIDAK BISA KITA KONTROL. Sadarlah akan itu dan renungkanlah. Kembalilah ke pangkuan gereja Katolik karena itulah yang diinginkan oleh Yesus.

Salam dan doa,

Romo Inno

Saturday, January 8, 2011

Menyanggah tuduhan Adventis bahwa Paus adalah Antikristus - Tentang Vicarius Filii Dei

Kaum Adventis sering menuduh bahwa Paus adalah Antikristus. Tuduhan ini juga sering dilontarkan oleh umat Islam dan beberapa denominasi Protestan. Mereka berargumen bahwa Paus adalah binatang yang dinubuatkan dalam Kitab Wahyu pasal 13. Ayat 1 menyatakan bahwa di kepala binatang itu tertulis �nama-nama hujat�. Ayat 18 menyatakan bahwa bilangan binatang itu adalah bilangan manusia dan bilangannya itu adalah Enam Ratus Enam Puluh Enam (666). Mereka berargumen bahwa Paus memiliki gelar Vicarius Filii Dei (Wakil Putera Allah). Gelar ini menurut mereka adalah penghujatan terhadap Allah karena Paus �mengambil� tempat Sang Putera Allah. Mereka juga menyatakan bahwa Vicarius Filii Dei apabila dijumlahkan menurut angka Latin/Romawi akan menghasilkan angka 666, yaitu bilangan binatang sang antikristus tersebut. Dengan demikian mereka berkesimpulan bahwa Paus adalah Sang Antikristus itu sendiri. Berikut cara penghitungannya.

V = 5
I = 1
C = 100
A = 0
R = 0
I = 1
U = V = 5 [U ditransliterasikan menjadi V]
S = 0
JUMLAH = 112

F = 0
I = 1
L = 50
I = 1
I = 1
JUMLAH = 53

D = 500
E = 0
I = 1
JUMLAH = 501

JUMLAH TOTAL = 666

Namun apakah benar Paus adalah Antikristus tersebut? Sebagai seorang Katolik tentu saja kita menjawab TIDAK BENAR. Lalu bagaimana kita berargumen untuk menyanggah tuduhan Adventis tersebut?


1. Argumen Pertama: Vicarius Filii Dei bukanlah gelar resmi Paus.
Gelar Resmi Paus berdasarkan Annuario Pontificio adalah (dalam bahasa Inggris), sumber gcatholic.com:
Bishop of Rome
Vicar of Jesus Christ
Successor of the Prince of the Apostles
Supreme Pontiff of the Universal Church
Primate of Italy
Metropolitan Archbishop of the Province of Rome
Sovereign of the Vatican City State Vatican City State
Servant of the Servants of God
Dari daftar di atas kita tidak melihat adanya �Vicarius Filii Dei� sebagai gelar resmi Paus, yang ada adalah Vicarius Iesu Christi / Vicar of Jesus Christ / Wakil Yesus Kristus.

Untuk bukti lebih lanjut saya tampilkan gambarnya.
 

Dari gambar Annuario Pontificio (Buku tahunan Kepausan) pada masa Pontifikat Venerabilis Paus Yohanes Paulus II di atas, kita tidak bisa menemukan �Vicarius Filii Dei� sebagai gelar Paus. Maka dengan demikian sebenarnya, argumen adventis telah gugur dengan adanya bukti ini. 

2. Argumen kedua: Adventis menggunakan angka Latin/Romawi tapi mengabaikan aturan angka Latin/Romawi tersebut
Adventis dalam tuduhannya terhadap Paus, menggunakan angka Latin untuk menunjukkan Paus adalah Antikristus. Namun jika ditelaah lebih lanjut, Adventis mengabaikan aturan angka Latin demi memuaskan egonya untuk tetap berpegang pada pandangan Paus adalah Antikristus. Aturan tersebut adalah: angka kecil yang berada di depan angka besar akan mengurangi angka besar tersebut, bukan malah menambahkan.
Misalnya: IV=4 bukan 6 dan IX=9 bukan 11
Mari kita cek penjumlahan dari Adventis di atas dengan mengindahkan aturan angka Latin.
VICARIVS= VI (6) + C (100) + A (0) + R (0) + IV (4) + S (0) = 110
FILII = F(0) + IL (49) + II (2) = 51
DEI = D(500) + E (0) + I (1) =501
VICARIVS FILII DEI = 662
Nah, sangat jelas  VICARIUS FILII DEI = 662 # 666
 
Lalu bagaimana dengan gelar resmi, Paus yang mirip dengan VICARIUS FILII DEI yaitu VICARIUS IESU CHRISTI.
VICARIVS = 110
IESV = I (1) + E(0) + S (0) + V(5) = 6
CHRISTI = C (100) + H(0) + R(0) + I (1) + S(0) + T(0) + I (1) = 102
VICARIUS IESU CHRISTI = 218
Sekali lagi, argumen Adventis gugur.

3. Argumen ketiga: Gelar resmi Paus, �Vicarius Iesu Christi� bukanlah hujatan terhadap Yesus Kristus.
Karena Vicarius Filii Dei bukanlah gelar resmi Paus, maka kita bisa mengabaikannya. Namun untuk mengantisipasi tuduhan berikutnya bahwa gelar resmi Paus, �Vicarius Iesu Christi�, adalah hujatan terhadap Tuhan Yesus Kristus, maka kita harus memahami gelar ini dalam terang ajaran Gereja berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci.
Tuhan Yesus Kristus tentu tidak ingin domba-domba-Nya tercerai berai. Dia menghendaki agar domba-domba-Nya menjadi �satu kawanan dengan satu gembala� (Yoh 10:16). Tuhan Yesus memang Gembala yang Baik (Yoh 10:11,14). IA adalah Gembala yang rela memberikan nyawanya bagi domba-domba-Nya. Namun kebaikan Sang Gembala ini tidak sampai di sana saja. Setelah kebangkitan-Nya sebelum kenaikan-Nya ke Surga, IA mendelegasikan penggembalaan-Nya kepada Pemimpin Para Rasul, St. Petrus.
 
Yoh 21:15. Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
Yoh 21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
Yoh 21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
Dengan mendelegasikan penggembalaan ini kepada St. Petrus, Tuhan Yesus Kristus sebenarnya membawa domba-domba-Nya menjadi Satu Kawanan (Gereja) dengan Satu Gembala (Yesus melalui Wakil-Nya, Petrus).
Pendelegasian ini sekaligus juga mempertegas pernyataan-Nya dalam Injil menurut Matius.
Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah KEFAS dan di atas KEFAS ini Aku akan mendirikan GEREJA-KU dan alam maut tidak akan menguasainya.
Maka tepatlah yang dikatakan oleh Bapa Gereja St. Ambrosius, Uskup Milan:
�Ubi Petrus, Ibi Ecclesia - Di mana ada Petrus, di situlah Gereja� 
"Where Peter is, there is the Church" Ambrose, Commentary on the Psalms, 40:30 (AD 395).

Pertanyaan yang mungkin muncul:
�Lalu dimana posisi Paus? Tidak ada dukungan Kitab Suci bahwa Paus layak disebut Wakil Yesus Kristus.�

Jawaban:
Paus adalah Pengganti Petrus dan Paus menerima jabatan yang sama dengan Petrus, yaitu Wakil Yesus Kristus.

Kita dapat bertanya, mengapa Yesus mengangkat Petrus menjadi Gembala dari Para Domba-Nya jika IA tidak menghendaki jabatan itu diteruskan dalam Gereja? Seolah-olah generasi selanjutnya sudah tidak begitu memerlukan bimbingan dibanding generasi perdana.

Sebenarnya malah, generasi selanjutnya yang memerlukan lebih banyak bimbingan. Yesus melakukan hal ini sekali lagi karena Ia menginginkan domba-domba-Nya menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Apakah Yesus menghendaki peranan sebagai gembala dari Petrus saja atau dari para penggantinya juga? Dalam pemilihan Rasul Matias untuk menggantikan Yudas Iskariot (Kis 1:15-26), Petrus sendiri berkata, �Biarlah jabatannya diambil orang lain� (Kis 1:20). Melalui Petrus, Yesus menyatakan jabatan Para Rasul itu berkesinambungan alias tidak terputus. Setiap Para pengganti Para Rasul akan menerima jabatan yang sama dengan Para Rasul tersebut dengan kewibawaan yang sama pula. Inilah salah satu dasar adanya suksesi apostolik dalam Gereja. Suksesi Apostolik ini sendiri juga berlaku untuk jabatan Petrus sebagai Wakil Yesus Kristus. Kita dapat mengatakan �Biarlah jabatan Petrus diambil orang�. Dengan demikian, memang benarlah bahwa Para Paus pengganti Petrus juga adalah Wakil Yesus Kristus.

Pembakaran Kitab Suci dan Tuduhan lainnya [terhadap Katolik]

Bahkan sejak Revolusi Protestan pada abad ke-16, Gereja Katolik telah dituduh mengabaikan, menentang, menyembunyikan dan bahkan menghancurkan Kitab Suci untuk menjaganya dari orang-orang. Menurut dugaan orang, salinan Kitab Suci dirantai ke tembok-tembok Gereja selama abad pertengahan sehingga orang-orang tidak dapat membawa Kitab Suci pulang untuk dibaca. Menurut dugaan pula, Gereja selama abad pertengahan juga menolak untuk menerjemahkan Kitab Suci ke berbagai bahasa banyak orang, bahasa-bahasa vernakular, untuk lebih jauh merintangi membaca Kitab Suci secara pribadi. Lagi, diklaim pula bahwa Gereja bahkan telah melakukan pembakaran Kitab-kitab Suci berbahasa vernakular.

Ketika memeriksa tuntutan-tuntutan yang melawan Gereja ini, kita harus mempertimbangkan beberapa poin. Pertama, jika Gereja sungguh ingin menghancurkan Kitab Suci, mengapa biarawan-biarawannya bekerja dengan rajin sepanjang abad membuat salinan-salinan Kitab Suci? Sebelum ada mesin cetak, salinan-salinan Kitab Suci adalah tulisan tangan dengan keindahan dan keakuratan yang teliti. Satu alasan mengapa Kitab Suci dirantai ke tembok-tembok Gereja adalah karena setiap salinan berharga baik secara spiritual maupun material. Dibutuhkan waktu satu tahun bagi seorang biarawan untuk menyalin dengan tangan seluruh isi Kitab Suci, sehingga Kitab Suci langka. Rantai menjaga Kitab Suci aman dari kehilangan atau pencurian, sehingga semua umat Paroki itu bisa mendapatkan keuntungan lebih darinya.

Kedua, mengenai vernakular, kita harus mengingat bahwa pada abad ke-5 ketika St. Hieronimus menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa asli ke bahasa Latin, Bahasa Latin adalah bahasa banyak orang. Kitab Suci ini biasa disebut Vulgata, versi yang umum. Bahkan setelah seribu tahun, Bahasa Latin masih menjadi bahasa universal di Eropa.

Penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa-bahasa vernakular sepanjang abad pertengahan tidak praktis. Kebanyakan bahasa vernakular pada masa tersebut tidak memiliki abjad, sehingga mereka tidak menuangkannya dalam bentuk tertulis. Juga hanya beberapa orang yang dapat membacanya. Sedikit orang-orang terdidik, yang dapat membaca [bahasa vernakular], dapat juga membaca bahasa Latin. Situasi ini tidak membuat permintaan besar untuk Kitab Suci berbahasa vernakular, tidak juga mempromosikan sebuah devosi populer untuk Pembacaan Kitab Suci secara pribadi.

Bahkan meskipun tidak praktis, ada contoh Gereja mempromosikan bahasa vernakular. Contohnya adalah misi St. Sirillus dan Metodius kepada bangsa Slavia di Moravia selama abad ke-9. Mereka berdua terkenal karena memperkenalkan liturgi slavonic. Dalam karya mereka, St. Sirillus telah mengembangkan abjad untuk bahasa Slavonic Tua. (Abjad ini menjadi awal dari abjad �Sirillik� Rusia). Pada tahun 855, St.Metodius menerjemahkan seluruh isi Kitab Suci ke dalam bahasa ini. Meskipun ada penolakan politik yang kuat dari orang-orang Jerman, Paus Adrianus II setelah investigasi seksama meneguhkan St. Metodius sebagai Uskup Agung Moravia dan meneguhkan Liturgi Slavonic mereka. (St. Sirillus baru saja meninggal). Beberapa Paus berikutnya melanjutkan untuk mendukung karya mereka melawan serangan; bagaimanapun juga, Paus Stefanus VI memulihkan kembali liturgi [slavonic] tersebut setelah tertipu oleh penolakan orang-orang Jerman. [1]

Pada abad ke-7 di Britania, sebelum Bahasa Inggris menjadi sebuah bahasa, Caedmon, seorang biarawan dari Whitby, membahasakan hampir semua isi Kitab Suci ke dalam bahasa umum. Selama awal abad ke-8, St. Bede Yang Terhormat juga menerjemahkan beberapa bagian Kitab Suci ke dalam bahasa umum orang-orang Britania. Di atas ranjang kematiannya pada tahun 735, St. Bede menerjemahkan Injil menurut St. Yohanes. Juga di masa ini, Uskup Eadhelm bernama Guthlac dan Uskup Egbert mengerjakan Kitab Suci berbahasa Saxon. Selama abad ke-9 dan ke-10, Raja Alfred Agung dan Uskup Agung Aelfric mengerjakan terjemahan Anglo-Saxon (Bahasa Inggris Kuno). Setelah penaklukan Normandia pada tahun 1066, kebutuhan akan Kitab Suci berbahasa Anglo-Norman meningkat, sehingga Gereja memproduksi beberapa terjemahan seperti Salus Animae (1250). Pada tahun 1408, Dewan Provinsial Oxford memperjelas bahwa terjemahan-terjemahan vernakular bisa mendapatkan penerimaan dari Gereja. Pada tahun 1582, terjemahan Perjanjian Baru Douay-Rheims yang terkenal selesai dikerjakan sementara Perjanjian Lama selesai pada tahun 1609. Ironis, Perjanjian Baru Dhouay-Rheims justru mempengaruhi Kitab Suci versi terjemahan King James. [2,3]

Setelah abad ke-14 ketika Bahasa Inggris akhirnya menjadi bahasa populer di Inggris. Kitab-kitab Suci berbahasa vernakular digunakan sebagai kendaraan bagi propaganda kesesatan (heretical propaganda). John Wycliffe, seorang Imam yang menyimpang, menerjemahkan Kitab Suci ke dalam Bahasa Inggris. Sialnya, Sekretarisnya bernama John Purvey, memasukkan prolog yang sesat, seperti yang dicatat oleh St. Thomas More. Kemudian, William Tyndale menerjemahkan Kitab Suci ke dalam Bahasa Inggris lengkap dengan Prolog dan catatan kaki mengutuk doktrin dan ajaran Gereja [2]. St. Thomas More berkomentar bahwa mencari kesalahan dalam Kitab Suci Tyndale sama seperti mencari air di lautan (artinya Kitab Suci Tyndale sangat banyak memiliki kesalahan dan kesalahan tersebut mudah ditemukan). Bahkan Raja Henry VIII pada tahun 1531 mengutuk Kitab Suci Tyndale sebagai korupsi terhadap Kitab Suci. Dalam kata-kata para penasihat Raja Henry ; "the translation of the Scripture corrupted by William Tyndale should be utterly expelled, rejected, and put away out of the hands of the people, and not be suffered to go abroad among his subjects." [4] Sebuah bahan pemikiran, jika Kitab Suci Wycliffe atau Tyndale adalah sungguh bagus, mengapa umat Protestan sekarang tidak menggunakanya seperti menggunakan Kitab Suci King James?

Salah satu tindakan yang Gereja Katolik galakkan untuk menghentikan propaganda kesesatan ini adalah dengan membakar buku-buku tersebut. Apakah tindakan ini membuat Gereja anti Kitab Suci? TIDAK. Jikapun iya, maka kaum Protestan pada masa ini juga adalah seorang anti-Kitab Suci. John Calvin, Reformer Protestan utama, pada tahun 1522, memerintahkan salinan Kitab Suci Servetus yang sebanyak mungkin bisa ditemukan untuk dibakar, karena Calvin tidak menerima versi Kitab Suci ini. Kemudian Calvin sendiri memerintahkan Michael Servetus dibakar di pancang karena menjadi Unitarian. [5] pada masa-masa tersebut, adalah kebiasaan yang umum di kedua belah pihak untuk membakar buku-buku yang ditolak. Akhirnya,  ini berarti menghancurkan sesuatu yang nyata dan yang lain menghancurkan sebuah pemalsuan.

Gereja tidak menolak terjemahan vernakular umat beriman tetapi menolak penambahan dan distorsi yang sesat  ke dalam Kitab Suci. Gereja melarang Kitab-kitab yang korup ini untuk memelihara integritas Kitab Suci. Tindakan ini adalah penting bagi Gereja untuk memelihara kebenaran Injil Kristus. Seperti yang St. Petrus peringatkan kepada kita dalam suratnya,  �orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.� (2 Pet 3:16)

Apakah orang-orang tua Kristen yang baik sebaiknya mengizinkan anak-anak mereka untuk membaca Kitab Suci dengan propaganda anti-Kristen atau kata-kata yang tidak benar pada catatan kaki [Kitab Suci tersebut]? Saya tentu tidak akan mengizinkan. Akhirnya, jika Gereja Katolik benar-benar ingin menghancurkan Kitab Suci, Gereja memiliki kesempatan yang benar untuk melakukan hal itu selama 1500 tahun.

REFERENCES

[1] Warren H. Carroll, The Building of Christendom (Christendom College Press, 1987) pp. 359,371,385.
[2] The Jerome Biblical Commentary (Prentice-Hall, 1968) Vol. II, pp. 586-588.
[3] Henry G. Graham, Where We Got The Bible (TAN Books, 1977) p. 99.
[4] Ibid., pp. 128,130.
[5] Ibid., p. 129.
        

Sumber: Bible Burning and other Allegations

Recent Post