Latest News

Showing posts with label Tokoh Gereja. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Gereja. Show all posts

Thursday, August 16, 2012

Kisah Uskup Pavlos Meletiev (1880-1962): Dari Uskup Ortodoks Rusia menjadi Uskup Katolik Rusia

Kisah Uskup Pavlos Meletiev (1880-1962): Dari Uskup Ortodoks Rusia menjadi Uskup Katolik Rusia (Ortodoks Rusia Dalam Persatuan Dengan Roma)

Dari Solovetski ke Roma, Kisah Seorang Peziarah Rusia

Bukan rahasia umum lagi bahwa Gereja Ortodoks Rusia � entah itu yang berada dalam yurisdiksi Kepatriarkan Moskow maupun yang berada dalam yurisdiksi ROCOR (Russian Orthodox Church Outside Russia � Gereja Ortodoks Rusia di luar Rusia) � memiliki sentimen negatif terhadap Gereja Katolik. Bahkan ada pula yang mengatakan Gereja Ortodoks Rusia itu anti-Katolik. Namun, di balik itu, sejarah mencatat terjadinya konversi (perpindahan) kaum tertahbis dan kaum awam Ortodoks Rusia ke dalam Gereja Katolik, secara khusus ke dalam Gereja Katolik Rusia.


Gereja Katolik Rusia adalah salah satu dari 22 Gereja Katolik Timur yang bersatu dengan Roma. Secara umum, Gereja Katolik Rusia berbagi tradisi yang sama dengan Ortodoks Rusia. Gereja Katolik Rusia saat ini memiliki umat sebanyak 3.500 orang di diaspora dan saat ini tidak memiliki hierarki. Evangelisasi Rusia berawal dari Pembabtisan St. Olga (905) dan St. Vladimir (988). Skisma Besar 1054 menyebabkan Gereja Ortodoks Rusia berkembang. Gereja Katolik Timur adalah ilegal di Rusia sampai tahun 1905. Setelah Edict dari Tsar Nikolas II pada tahun itu, beberapa komunitas kecil Katolik Timur terbentuk. Eksarkat Apostolik kemudian didirikan di Rusia (1917) dan China (1928) untuk Imigran Rusia. Kedua eksarkat ini sekarang berada pada kondisi sedevacante (tahta kosong) karena hingga sekarang tidak ada satu pun uskup yang ditunjuk sebagai eksark bagi kedua eksarkat ini. Di samping itu, sekarang ada dua Paroki Katolik Rusia di Amerika Serikat, satu di Australia dan satu di Kanada.

Salah seorang kaum tertahbis Ortodoks Rusia yang pindah menjadi Katolik Rusia adalah Uskup Pavlos (Pavel) Meletiev.
Uskup Pavlos Meletiev (sumber: fedorstratilat.ru)
Pavlos Meletiev lahir pada tanggal 2 November 1880 (15 November 1880 berdasarkan Revue des Ordinations �piscopales, Issue 1943, Number 43) di Archangelsk di Rusia bagian utara. Ayahnya adalah seorang diakon Ortodoks Rusia. Pada usia muda, dia masuk biara Ortodoks Rusia yang bernama biara Solovetski. Biara tersebut terletak di sebuah kepulauan yang berada di Laut Putih. Pada tahun 1909, dia ditahbiskan menjadi hierodeacon (Diakon Biarawan) dan kemudian ditahbiskan menjadi hieromonk (Imam Biarawan) pada tahun 1910. Kemudian dia diangkat pula menjadi Igumen (Abbas � Kepala Biara) dan menjadi misionaris di Rusia Utara sesuai permintaan Uskup Archangelsk. Terkenal akan devosi dan karya misinya yang bersemangat, biarawan ini ditangkap pada tahun 1920 oleh kaum Bolshevik sesudah revolusi di Rusia pada tahun 1917 dan ia divonis hukuman mati. Penyelenggaraan Ilahi melindunginya dari hukuman mati tersebut dan Igumen Pavlos akhirnya divonis 5 tahun kerja paksa. Setelah bebas, Igumen Pavlos berkenalan dengan Uskup Ioasaph (Vikar-Uskup Maloyaroslavets) dan Uskup Pavlin (Uskup Kaluga). Igumen Pavlos membantu kedua uskup ini dalam pelayanan mereka dan mewarta di Moskow, Serpukhov dan Kaluga. Igumen Pavlos menemukan banyak uskup dan imam yang selamat memilih berkompromi dengan Penguasa Soviet yang ateis. Ia menolak untuk berkompromi dengan Penguasa Soviet dan berujung pada penangkapannya kembali pada tahun 1931 dan ditahan di Butyrki. Biaranya sendiri telah ditutup dan kompleks kepulauan Solovetski berubah menjadi penjara dengan keamanan maksimum. Ia kemudian dikirim ke gulag(tempat kerja paksa), kali ini selama 7 tahun di Kamp Siberia di Karaganda (sekarang masuk ke wilayah negara Kazakhstan). Rahmat Allah bagaimanapun juga tetap bersama dia. Igumen Pavlos berhasil bertahan dari kesusahan ini dan kemudian berkarya sebagai imam bawah tanah (Catacomb Priest) sejak tahun 1937 hingga tahun 1941 saat Belarusia telah diduduki Pasukan Jerman.

Pasukan Pendudukan Jerman di Belarusia, seperti yang telah dilakukan di Ukraina, mengizinkan pembukaan kembali gereja-gereja dan pembaharuan kehidupan gereja. Jerman memberikan ruang bebas bagi berdirinya Gereja yang kemudian dikenal sebagai Gereja Otonom Ortodoks Belarusia. Igumen Pavlos membantu pembaharuan kehidupan gereja di daerah Smolensk, Briansk dan Mogilev. Gereja Otonom Ortodoks Belarusia secara teknis berada di bawah yurisdiksi Kepatriarkan Moskow meskipun tidak ada kontak yang nyata antara Gereja Belarusia dengan Kepatriarkan Moskow. Hal ini karena Pasukan Pendudukan Jerman melarang adanya komunikasi atau hubungan antara Gereja Belarusia dengan Kepatriarkan Moskow yang dikendalikan kaum Bolshevik Rusia. Meskipun demikian, Gereja Belarusia tetap menjalin komunikasi dan kerjasama dengan Gereja Ortodoks Rusia di luar Rusia (ROCOR) yang relatif bebas dari pengaruh kaum Bolshevik Rusia.

Pada Oktober 1943, diadakan konsili Para Uskup ROCOR di Vienna, Austria. Alasan utama konsili ini adalah deklarasi bahwa Pemilihan Metropolitan Sergey sebagai Patriark Moskow dan Seluruh Rusia adalah batal dan tidak sah. Pada konsili ini, Jerman mengizinkan para hierarki Gereja Belarusia untuk hadir yang kemudian meneguhkan hubungan kerjasama antara Gereja Otonom Belarusia dengan ROCOR. Pada tanggal 7 Oktober 1943, Igumen Pavlos ditahbiskan menjadi Uskup Roslavl�sk, vikar (wakil) bagi Uskup Stefan (Uskup Smolensk dan Briansk). Konsekrasi Igumen Pavlos sebagai uskup dilakukan di Katedral Minsk (Belarusia), dipimpin oleh Metropolitan Panteleimon berkonselebrasi dengan Uskup Agung Filofei dan Uskup Venedikt.

Pada Juni 1944, seluruh hierarki Gereja Otonom Belarusia bersama umatnya diri ke Jerman saat Pasukan Rusia mulai memukul mundur Pasukan Jerman dari Belarusia. Uskup Pavlos dan saudarinya yang juga seorang biarawati, Mother Igumena (Kepala Biara Perempuan) Serafima, juga ikut melarikan diri dari Belarusia. Pada pertemuan Desember 1944, Metropolitan Panteleimon menegaskan bahwa satu-satunya tindakan yang mungkin untuk menyelamatkan Gereja Belarusia adalah bersatu dengan ROCOR. Uskup Pavlos setelah melakukan perjalanan melintasi Cekoslovakia, Austria dan Jerman; akhirnya tiba di Munich untuk meminta bantuan kepada Metropolitan Anastassy dari ROCOR. Namun, selama pengasingan dari Belarusia, Uskup Pavlos perlahan-lahan - melalui doa-doa dan studi � percaya akan perlunya bersatu dengan Paus Roma dan Gereja Katolik. Uskup Pavlos � secara terpisah � sampai kepada kesimpulan yang sama dengan yang dicapai Uskup-martir Varfolomey Remov(mantan wakil Metropolitan Peter, pengganti sementara Patriark Tikhon dari Rusia) yang mengalami delapan belas bulan penyiksaan untuk membuat dia meninggalkan pertobatannya ke dalam Gereja Katolik dan untuk memaksanya kembali ke dalam Gereja Ortodoks Rusia sebelum akhirnya ia ditembak mati di penjara Butyrky pada 1 Agustus 1935.

Pada April-Mei 1946, Konsili ROCOR diselenggarakan di Munich. Hierark dari Gereja Otonom Ortodoks Belarusia dan Ortodoks Ukraina diterima ke dalam persatuan dengan ROCOR. Selama sebuah sesi konsili, setelah semua uskup Belarusia (kecuali Uskup Pavlos) diterima secara resmi ke dalam ROCOR; Uskup Pavlos kemudian diberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai kecenderungannya untuk bersatu dengan Gereja Katolik. Pertanyaan-pertanyaan yang dikeluarkan kemudian berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyenangkan dan sama sekali tidak welcome. Uskup Agung Venedikt dari Gereja Otonom Belarusia bahkan mempertanyakan �Apakah kamu seorang Ortodoks?�kepada Uskup Pavlos dan Uskup Agung Venedikt juga berkata kepada konsili �Bila dia (Uskup Pavlos) bukan Yudas [Iskariot], saya akan senang hati menyambut Uskup Pavlos.� Uskup Pavlos berkata bahwa bila dia memasuki persatuan dengan Paus Roma, hal ini tidak banyak berarti dan Ia tetap seorang Ortodoks Rusia namun dalam persatuan dengan Paus Roma (dengan kata lain Russian Orthodox in communion with Rome). Akhirnya Uskup Pavlos berkata �Saya butuh berdoa� dan kemudian walk out dari konsili tersebut.

Selanjutnya, Uskup Pavlos menerima bantuan dan pertolongan dari Uskup Katolik bernama Uskup Michael Buchberg, seorang uskup berkebangsaan Jerman. Dan pada tanggal 21 September 1946, Uskup Pavlos bersama dengan saudarinya, Mother Igumena Serafima, dengan rendah hati membuat pernyataan iman bahwa mereka mengakui dan mengimani Iman Katolik kepada utusan Paus, Kardinal Tisserant. Uskup Pavlos bersama Mother Igumena Serafima diterima ke dalam Gereja Katolik dan Paus Pius XII mengangkat Uskup Pavlos sebagai Uskup Tituler Heracleopolis Magna pada tanggal 26 Oktober 1946. Uskup Pavlos menyatakan, �Ketaatan saya kepada Gereja Universal, dipersatukan dengan Tahta Apostolik Suci Roma bagi saya adalah sukacita terbesar saya selama pengasingan dan langkah terpenting dalam pelayanan saya bagi Kristus, Gereja dan Tanah Air.�

Uskup Pavlos menghabiskan waktunya di Roma dan dengan mengunjungi berbagai pusat keberadaan umat Katolik Rusia (umat Katolik Rusia sering menyebut diri mereka Ortodoks Rusia dalam persekutuan dengan Roma), secara khusus di Jerman dan Belgia. Intensi yang mendominasikan seluruh doa dan matiraga di tahun-tahun terakhir hidupnya adalah pertobatan orang-orang Rusia ke dalam Gereja Katolik. Mungkin peristiwa yang paling penting dalam hidupnya adalah memimpin peziarahan sekitar 500 umat Katolik Rusia ke Roma dan Fatima dalam Tahun Suci 1950-1951 yang diakhiri dengan Misa Agung Pontifikal yang ia sendiri nyanyikan dan rayakan dalam ritus Bizantium-Rusia di hadapan orang-orang yang berkumpul di Fatima.
Uskup Pavlos Sedang Merayakan Misa Agung Pontifikal di Fatima (sumber: holyunia.blogspot.com)

Di Roma, di mana para peziarah Rusia membantu perayaan sukacita yang menandai pendeklarasian Dogma Bunda Maria Diangkat ke Surga, Uskup Pavlos menyerahkan petisi kepada Paus atas nama dia sendiri, Uskup Agung Evreinov (uskup Ortodoks Rusia lainnya yang berpindah menjadi Katolik) dan seluruh umat Katolik Rusia meminta kepada Paus agar melakukan: �Konsekrasi khusus negara kami, Rusia, yang telah menderita begitu banyak kepada Santa Maria Ratu Dunia, yaitu kepada hatinya yang keibuan dan tanpa noda yang tertusuk oleh pedang... pembebasan negara kami, diikuti dengan [pembebasan] seluruh dunia dari perbudakan Bolshevisme yang mengerikan yang tidak dapat diperoleh dengan kekuatan persenjataan dan uang... perjuangan melawan Allah dan Gereja yang kudus oleh Bolshevik yang tidak dipimpin oleh kekuatan manusia belaka. Kekuatan yang mereka (kaum bolshevik) miliki bersumber pada iblis sendiri dan roh kegelapan. Yang jahat adalah iblis yang mengangkat kemunculan ateisme Marxis-Bolshevik dan kekuatan yang dapat mengalahkan ini adalah Ratu Kita dan pelindung kita, Bunda dari Allah kita... Tetapi siapa yang dapat membuat konsekrasi ini atas nama Rusia yang telah dinajiskan dan diperbudak? Kami melihat hanya satu solusi, dan kami mengekspresikannya dengan permintaan kami yang sederhana. Kami meminta supaya konsekrasi ini dilakukan oleh Wakil Kristus di dunia; Pengganti Pangeran Para Rasul, Petrus; Paus Pemimpin Gereja Universal; Paus Roma.�

Uskup Pavlos Si Pendoa ini kemudian meninggal segera setelah mengalami kecelakaan ditabrak oleh mobil di Belgia pada tanggal 19 Mei 1962.

Referensi:
2. Bishop Pavlos Meletiev

Lihat juga:

Pax et Bonum


Sunday, March 25, 2012

Mother Teresa of Calcutta Had a Say



Rekan admin, IOJC (tu scis quia amo te), melinkan sebuah video dari Youtube yang berisi berbagai kalimat-kalimat meneguhkan dari Beata Mother Teresa dari Kalkuta. Kalimat-kalimat tersebut diterjemahkan oleh Admin IOJC. Mari kita lihat. :

People are often unreasonable, illogical, and self-centered.
Forgive them anyway!

Manusia seringkali tidak masuk akal, tidak logis, dan berpusat pada diri sendiri.
Bagaimanapun, ampuni mereka!


If you are kind,
people may accuse you of selfish, ulterior motives.
Be kind anyway!
Jika engkau berbuat baik,
Orang-orang mungkin akan menuduhmu mau menang sendiri, punya motif tersembunyi.
Bagaimanapun, tetaplah berbuat baik!

If you are successful,
you will win some false friends and some true enemies.
Succeed anyway!
Jika engkau berhasil,
Engkau akan memperoleh teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati.
Bagaimanapun, tetaplah menjadi berhasil!

If you are honest and frank,
people may cheat you.
Be honest and frank anyway!
Jika engkau jujur dan apa adanya,
Orang-orang mungkin akan mencurangimu.
Bagaimanapun jadilah jujur dan apa adanya!

What you spend years building,
someone could destroy overnight.
Build anyway!
Apa yang engkau bangun bertahun-tahun
Dapat hancur oleh seseorang dalam semalam.
Bagaimanapun, membangunlah!

If you find serenity and happiness,
they may be jealous.
Be happy anyway!
Jika engkau menemukan keheningan dan sukacita,
Mungkin orang-orang akan iri padamu
Bagaimanapun, tetaplah bersukacita!

The good you do today,
people will often forget tomorrow.
Do good anyway!
Kebaikan yang engkau lakukan,
Seringkali akan dilupakan orang esok hari.
Bagimanapun, berbuatlah kebaikan!

Give the world the best you have,
and it may never be enough.
Give the world the best you've got anyway!
Berikan pada dunia yang terbaik yang engkau miliki
Dan mungkin tidak pernah akan cukup.
Bagaimanapun, berilah dunia yang terbaik!

You see, in the final analysis, it is between you and God.
It was never between you and them anyway.
Lihatlah, pada perhitungan akhir, hanya ada engkau dan Tuhan.
Bagaimanapun, tidak pernah antara engkau dan mereka.

Beata Ibu Teresa dari Kalkuta


Kita seringkali merasa bahwa yang kita lakukan adalah seperti setitik air di samudera luas� Namun samudera luas itu akan kurang jika ada setitik air yang hilang�

~IOJC (tu scis quia amo te)~

Pax et Bonum

Thursday, March 1, 2012

Formula Paus Santo Hormisdas


Pope St. Hormisdas (sumber: flickr.com)
Pengakuan dan penerimaan akan Tome (Buku) Paus St. Leo Agung pada Konsili Kalsedon tahun 451 M tidak serta merta mengakhiri pengaruh bidaah Eutychianisme dan Monofisitisme. Pada tahun 484, Patriark Konstantinopel bernama Acacius diekskomunikasi oleh Paus St. Feliks III karena mendukung Henotikon karya Kaisar Bizantium bernama Zeno. Henotikon adalah hukum yang dibuat dan disusun oleh Kaisar Zeno untuk merekonsiliasikan Katolik dengan kaum Monofisit. Henoticon ini sama sekali tidak berhasil memenuhi tujuannya, cenderung sesat dan akhirnya menyebabkan skisma timur oleh Konstantinopel yang lebih dikenal dengan nama Skisma Acacian. Konstantinopel meninggalkan persatuannya dengan Gereja Katolik.

Skisma ini berlangsung selama beberapa tahun hingga akhirnya dipulihkan dalam masa Paus St. Hormisdas (20 Juli 514- 6 Agustus 523) melalui Formula St. Hormisdas yang ditetapkan pada tahun 519 M di Konstantinopel. Dalam dokumen ini, ia menegaskan mengenai penerimaan penuh para uskup terhadap teologi dogmatis dalam Tome Paus St. Leo Agung. Dia juga menegaskan mengenai pengakuan akan Tahta St. Petrus di Roma sebagai tempat di mana �perlindungan yang menyeluruh, benar dan sempurna dari agama Kristen berada.� Formula ini secara resmi ditandatangani Kaisar Romawi Timur, Patriark Konstantinopel (yang memberi sebuah komentar tetapi tidak menolak formula itu sendiri) dan 250 uskup timur. Berdasarkan formula ini juga, keutamaan Paus Roma tidaklah berdasarkan pada situasi dan kondisi politik (faktanya, Kekaisaran Romawi Barat telah berakhir lebih dari 40 tahun sebelum formula ini) tetapi berdasarkan pada janji Kristus kepada St. Petrus. �Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.� (Mat 16:18)

Berikut ini terjemahan Formula St. Hormisdas:
Syarat pertama keselamatan adalah menjaga norma dari iman yang benar dan tidak ada jalan untuk menyimpang dari ajaran yang ditetapkan oleh para Bapa (Bapa Gereja, red).

Karena adalah tidak mungkin bahwa kata-kata dari Tuhan kita Yesus Kristus yang berkata, �Engkau adalah Petrus dan di atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku,� (Mat 16:18) tidak dapat dibuktikan. Dan kebenarannya (kata-kata Kristus, red) telah dibuktikan oleh peristiwa sejarah, karena di dalam Tahta Apostolik (Tahta Suci Roma, red) , agama Katolik telah selalu dijaga tak bercela.

Dari harapan dan iman ini kami (para uskup yang menerima formula ini, red) dengan tidak bermaksud ingin terpisah, dan mengikuti doktrin dari para Bapa (Bapa Gereja); kami mengumumkan anathema kepada semua ajaran sesat, dan terutama Si Sesat Nestorius, mantan Uskup Konstantinopel, yang telah dihukum oleh Konsili Efesus, oleh Yang Terberkati Selestinus, Uskup Roma, dan oleh yang terhormat Sirillus, Uskup Alexandria.

Kami demikian juga menghukum dan mengumumkan anathema kepada Eutyches dan Dioscoros dari Alexandria, yang telah dihukum dalam Konsili Suci Kalsedon, yang mana kami ikuti dan kami pimpin. Konsili ini mengikuti Konsili Suci Nicea dan mewartakan iman apostolik. Dan kami menghukum Si Pembunuh Timotius, yang dijuluki Aelurus [�The Cat�] dan juga Petrus [Mongos] dari Alexandria, para murid dan pengikutnya dalam segala hal. Kami juga mengumumkan anathema kepada pembantu dan pengikut mereka, Acacius dari Konstantinopel, seorang Uskup yang pernah dihukum oleh Tahta Apostolik, dan semua orang yang tetap berada dalam hubungan dan persekutuan dengan mereka. Karena Acacius ini menggabungkan dirinya sendiri ke persekutuan mereka, dia layak untuk menerima penghakiman hukuman yang sama dengan mereka. Lebih jauh lagi, kami menghukum Petrus [�The Fuller�] dari Antiokia beserta seluruh pengikutnya bersama-sama dengan pengikut-pengikut dari semua orang yang disebutkan di atas.

Berdasarkan pada - sesuai yang kami sampaikan sebelumnya - Tahta Apostolik dalam semua hal dan memproklamirkan semua keputusannya, kami menyetujui dan menerima semua surat yang Paus St. Leo tulis mengenai agama Kristen. Dan begitu juga saya berharap saya boleh layak untuk bersatu denganmu dalam satu persekutuan yang Tahta Suci proklamirkan, yang di dalamnya perlindungan menyeluruh, benar dan sempurna agama Kristen berdiam. Saya berjanji bahwa dari sekarang terhadap mereka-mereka yang berpisah dari persekutuan Gereja Katolik, yaitu mereka yang tidak berada dalam persetujuan dengan Tahta Apostolik, nama mereka tidak akan dibacakan selama misteri-misteri suci. Tapi, bila saya mengusahakan bahkan penyimpangan paling kecil dari pengakuan saya, saya mengakui bahwa berdasarkan deklarasi milik saya, saya adalah seorang kaki tangan bagi mereka yang telah saya hukum. Saya telah menandatangani ini, pengakuan saya, dengan tangan saya sendiri, dan saya telah mengarahkannya kepadamu, Hormisdas, Paus Roma yang Kudus dan Terhormat.

Teks Asli:
Diterjemahkan oleh Indonesian Papist. Pax et bonum

Thursday, January 26, 2012

Uskup Francis Hong Yong-ho, Uskup Diosesan tertua di dunia


File:Francis Hong Yong-ho.jpg
Uskup Francis Hong Yong-ho. Foto ini diambil sebelum tahun 1950

Uskup Francis Hong Yong-ho adalah Uskup Pyongyang (Korea Utara). Ia lahir pada tanggal 12 Oktober 1906 di Korea Selatan. Ia sekarang berusia 105 tahun dan masih dianggap sebagai Uskup Pyongyang oleh Tahta Suci sekalipun saat ini ia dinyatakan hilang sejak dipenjara tahun 1949.

Uskup Francis Hong Yong-ho ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 25 Mei 1933. Ia kemudian ditunjuk sebagai Vikar Apostolik Pyongyang pada tanggal 24 Maret 1944 oleh Venerabilis Paus Pius XII. Ia ditahbiskan sebagai uskup oleh Uskup Agung Bonifatius Sauer sebagai konsekrator utama dan Uskup Irenaeus Hayasaka beserta Uskup Paul Roh Ki-nam sebagai ko-konsekrator pada tanggal 29 Juni 1944 tepat pada Pesta St. Petrus dan St. Paulus.

Pada 10 Maret 1962, Beato Paus Yohanes XXIII menaikkan status Vikariat Apostolik Pyongyang menjadi Keuskupan Pyongyang sebagai bentuk protes terhadap rezim komunis Korea Utara dan menunjuk Uskup Francis Hong Yong-ho sebagai uskup pertamanya sekalipun keberadaan Uskup Francis Hong Yong-ho tidak diketahui pada saat itu. Uskup Francis Hong Yong-ho menjadi simbol penganiayaan rezim komunis Korea Utara terhadap Gereja Katolik. 10 Maret 2012 kelak genap 50 tahun Uskup Yong-ho menjadi Uskup Pyongyang dan angka ini masih bisa bertambah.

Bila Uskup Yong-ho hilang, lalu siapa yang menggembalakan umat Katolik di Pyongyang? Saat ini, Tahta Suci menunjuk Uskup Agung Seoul sebagai Administrator Apostolik sede plena bagi Keuskupan Pyongyang untuk menggantikan sementara Uskup Yong-ho. Administrator Apostolik Pyongyang saat ini adalah Kardinal Nicholas Cheong Jin-suk (80) dari Seoul.

Mengenai Uskup Francis Hong Yong-ho, Kardinal Cheong Jin-suk mengatakan:
�Tidak ada informasi mengenai imam-imam yang selamat dari penganiayaan yang datang di akhir tahun 40an, ketika 166 imam dan kaum religius dibunuh atau diculik. Buku Tahunan Pontifikal (tambahan Papist: Annuario Pontificio) tetap menyebutkan �hilang� orang yang menjadi Uskup Pyongyang pada masa itu, Monsinyur Francis Hong Yong-ho, yang sekarang akan berusia 100 tahun. Ini adalah gerakan dari Tahta Suci untuk menunjukkan tragedi bahwa Gereja di Korea telah menderita dan masih berlanjut.� [wawancara dengan Cardinal Cheong Jin-suk oleh Gianni Cardinale, Maret 2006.]
Gereja masih menyatakan Uskup Yong-ho dalam keadaan hilang dengan menganggap adanya kemungkinan Beliau masih hidup di kamp re-edukasi. Kondisi Gereja Katolik di Korea Utara sendiri memang sangat menderita. Kardinal Cheong Jin-suk kepada asianews.it mengatakan bahwa pada saat Korea belum terbagi, ada 52 paroki dan 50.000 umat Katolik di Utara. Beliau menambahkan bahwa pada tahun 1949, ketika Uskup Yong-ho dan setiap imam dipenjara atau dipaksa melarikan diri, tidak ada lagi imam yang berada di Utara.

Mari berdoa untuk Gereja Katolik di Korea Utara.

Referensi:
pax et bonum

Friday, December 30, 2011

Clement Shahbaz Bhatti, Orang Katolik Paling Mengagumkan Tahun 2011, Martir dan Pembela Minoritas Kristen di Pakistan.


http://www.asianews.it/files/img/PAKISTAN_-_martire_bhatti_niente_premio.jpg
Clement Shahbaz Bhatti

Situs berita Katolik di Inggris, Catholic Herald, mengeluarkan daftar Sepuluh Orang Katolik Mengagumkan tahun 2011. Siapakah yang berada di urutan pertama? Dia adalah Clement Shahbaz Bhatti, Martir dan Pembela Minoritas Kristen di Pakistan.

Clement Shahbaz Bhatti (9 September 1968 � 2 Maret 2011) adalah seorang Katolik Roma dan seorang politikus Pakistan. Ia terpilih menjadi Menteri Federal bagi Minoritas sejak 2008 hingga pembunuhannya pada 2 Maret 2011 di Islamabad.

Pada 2 Maret 2011, sejumlah orang bertopeng menghujani mobil Bhatti dengan peluru ketika ia meninggalkan rumah ibunya. Bhatti, seorang pengacara brilian dan satu-satunya menteri dari kalangan Kristen pada Kabinet Pakistan, terbunuh karena menentang Hukum Penghujatan Pakistan. David Cameron (Perdana Menteri Inggris) menyebutkan pembunuhannya sangat brutal dan tidak dapat diterima.

Dalam perannya sebagai seorang Menteri Federal bagi Minoritas, Bhatti seringkali mengkritik pelecehan terhadap Hukum Penghujatan Pakistan. Ia mengatakan bahwa hukum tersebut sering dijadikan dalih untuk menganiaya umat Kristen yang tidak berdosa. Dia tahu bahwa ia sedang membahayakan hidupnya dengan berkata secara terbuka. Hukum Pakistan dapat memaksakan eksekusi atau penjara bagi tindakan melawan Islam. Bhatti telah menerima ancaman pembunuhan sejak 2009. Ia memprediksikan kematiannya dalam sebuah video, di mana ia berkata dengan berani: �Saya percaya kepada Yesus Kristus yang telah memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita... Saya hidup untuk komunitas saya... dan saya akan mati untuk membela hak-hak mereka.�

Pada Agustus 2009, setelah laporan bahwa sebuah Al-Quran �dilecehkan� di Provinsi Punjab, massa anti-Kristen membunuh delapan orang. Bhatti meminta perlindungan sipil dan legal yang lebih baik bagi komunitas Kristen. Dia juga seorang pembicara yang paling vokal dalam membela Asia Bibi, seorang wanita Kristen yang dijatuhi hukuman mati hanya karena ia �ditemukan bersalah� menghina Muhammad.

Pada tahun 1985, sebagai seorang mahasiswa, Bhatti meletakkan kepalanya di atas tembok pembatas ketika ia mendirikan dan memimpin Front Pembebasan Kristen Pakistan. Karya awalnya mencuat bagi orang Kristen, membuktikan persiapannya yang baik untuk menjadi ketua Aliansi Semua Minoritas Pakistan pada tahun 2002.

Bhatti hanya melayani selama 28 tahun dalam pemerintahan, tetapi sejak awal ia mengambil sejumlah langkah pendekatan yang berani dalam mendukung agama minoritas. Dia meluncurkan kampanye nasional bagi harmoni antar-iman dan mengajukan pidato kebencian terhadap suatu agama sebagai sesuatu yang ilegal. Ia juga mengajukan kuota bagi kaum minoritas dalam pos-pos pemerintahan.

Bhatti juga menjadi pioner dalam mendirikan National Interfaith Consultation pada Juli 2010 yang merupakan dorongan untuk menyatukan para pemimpin senior dari semua agama dan dari seluruh Pakistan dan berhasil membuat mereka menandatangani deklarasi bersama melawan terorisme.

Bhatti adalah seorang penerima banyak penghargaan prestisius, dari Human Rights Award pada tahun 2004 hingga International Freedom of Religion Award pada tahun 2009. Dia juga dianugerahi titel PhD oleh Universitas Korea Selatan sebagai pengakuan atas karya antar-iman yang dilakukannya.

Fakta bahwa Bhatti telah membayar dengan nyawanya untuk berdiri membela kaum minoritas Kristen sedang menginspirasi yang lain untuk melanjutkan karyanya. Pada 2 Juli 2011, Aid to the Church in Need dan The British Pakistani Christian Association mengirimkan petisi dengan lebih dari 6000 nama yang menyerukan tindakan untuk melindungi umat Kristen dan minoritas lainnya di Pakistan.

Tehrik-i-Taliban, sebuah kelompok radikal di Pakistan, memberitahu BBC Urdu bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan ini. �Orang ini dikenal sebagai seorang penghujat nabi (Muhammad)�, kata jurubicaranya, Ahsanullah Ahsan. �Kami akan terus mentargetkan semua yang berbicara melawan hukum yang menghukum mereka yang menghina nabi. Nasib mereka akan sama.�

Mari berdoa untuk umat Kristiani di Pakistan.

Pax et Bonum

Sunday, December 4, 2011

Henry Edward Cardinal Manning - Dari Diakon Agung Anglikan Menjadi Kardinal Katolik


Henry Edward Cardinal Manning
Henry Edward Manning ( 15 Juli 1808 � 14 Januari 1892) adalah seorang tokoh Katolik Roma berkebangsaan Inggris yang paling berpengaruh pada masanya. Dari sejak penahbisannya sebagai Diakon di Gereja Anglikan pada tahun 1832, dilanjutkan dengan perpindahannya ke Gereja Katolik pada tahun 1851, hingga wafatnya pada tahun 1892, kata-kata dan tindakannya memiliki pengaruh yang besar di Inggris dan bagi Gereja Katolik.

Manning adalah seorang yang begitu setia baik kepada Gereja Katolik dan kepada Inggris. Dia memiliki integritas yang tinggi. Integritasnya ini ditunjukkannya dalam homili-homilinya, pidato-pidatonya dan tulisan-tulisannya. Homili-homili disampaikannya mengenai topik pendidikan dan kemiskinan serta pandangannya mengenai Para Buruh kerap berada dalam konteks Kristianitas yang diyakininya. Pada akhir abad ke-19, Manning begitu dikenal di seluruh Inggris sebagai seorang yang memberi makan orang-orang miskin, memberi pendidikan terhadap anak-anak tidak mampu. Dalam tahun pertama rencana pendidikannya yang ambisius, Manning membangun 20 sekolah dan mendidik sekitar 1100 orang anak-anak miskin. Beberapa waktu kemudian, Manning mengundang sejumlah ordo dan tarekat biarawan-biarawati untuk mendukung rencana pendidikannya ini.
 
Ia juga dikenal sebagai seorang teolog yang utama dan penting pada Konsili Vatikan Pertama. Ia begitu gigih membela dan mendukung dogma Infallibilitas Paus dan gigih berjuang melawan arus ajaran sesat Gallikanisme dan Modernisme (sebuah bidaah yang menganggap ajaran masa lalu tidak berlaku lagi di masa modern). Ia juga berperan besar dalam membangkitkan kembali Katolisitas di Inggris yang sebelumnya tertindas. Semasa hidupnya, Manning telah mencatat sebanyak 346 orang Anglikan pindah menjadi Katolik termasuk dua wanita bangsawan Inggris, Duchess of Buccleuch dan Duchess of Argyll.

Sebagai seorang teolog, Manning tidak menulis karya teologis untuk orang-orang kelas atas yang berwawasan untuk didiskusikan atau untuk teolog-teolog lain yang memiliki kemampuan teologis yang lebih tinggi dan hanya dapat dimengerti oleh para teolog itu sendiri. Dia menulis karya teologis untuk pengayaan iman bagi semua umat Katolik sehingga mereka bisa menghidupi iman dan kehidupan mereka dalam cinta kasih Allah. Dia menulis dengan sederhana untuk mengkomunikasikan pengetahuannya akan iman Katolik kepada siapapun yang hendak mencari, mengerti, meyakini dan menghidupi iman Katolik tersebut. 
Makam Cardinal Manning
Manning kemudian meninggal sebagai Kardinal Gereja Katolik dan Uskup Agung Westminster pada 14 Januari 1892 dan dimakamkan secara besar-besaran. Saat ini, sejumlah orang sedang berusaha mempromosikan penyelidikan akan kekudusan hidup Cardinal Manning supaya kekudusan hidupnya diakui oleh Gereja Universal.


Testimoni Cardinal Manning ketika menjadi Katolik
 
�Pada 6 April 1851, Minggu Sengsara, Hope dan saya datang kepada Pater F. Brownbill, di Hill Street, dan saya diterimanya sebagai Katolik di hadapan Misa Kudus, Hope setelah saya. Jadi telah berakhir satu masa kehidupan saya dan saya merasa hidup saya sudah berakhir. Saya percaya sepenuhnya bahwa saya seharusnya tidak pernah melakukan apapun lebih dari menjadi seorang Imam; suatu hal yang tidak pernah saya ragukan atau merasa bimbang. Saya melihat ke depan untuk hidup dan mati dalam kehidupan seorang Imam, keluar dari pandangan masa lalu.
Saya pergi ke Gereja St. George dan menemui Cardinal [Wiseman]; ia menetapkan bahwa ia akan memberikanku Sakramen Krisma dan Komuni Kudus hari Minggu berikutnya. Dia kemudian memberitahu saya bahwa ia memutuskan untuk menahbiskan saya menjadi seorang Imam dan bahwa ia melakukan hal ini dengan sepengetahuan dan persetujuan Roma.
Peristiwa penahbisan saya dan keberadaan saya di Roma diputuskan oleh otoritas bagi saya dan saya menaatinya, dan sejak saat ini semua berlanjut hingga sekarang selama 28 tahun. ... Saya pergi ke Akademi pada 4 Desember, pada Pesta St. Petrus Krisologus, yang sejarah hidupnya adalah peristiwa yang selalu mengingatkan saya akan peristiwa-peristiwa dalam hidup saya. Saya tetap di Roma dari tahun 1851 hingga 1854, dan pulang ke Inggris selama Musim Panas besar. Waktu itu adalah waktu kedamaian yang besar, tetapi juga pencobaan yang berat. Saya melihat diri saya adalah seorang 42 tahun di antara orang-orang muda; dan seorang asing di antara orang-orang luar. Saya telah memutuskan semua relasi lama di dunia, dan sedang memulai hidup baru. Selama tiga tahun, saya menerima keramahan bapawi dari Paus Pius IX. Saya melihatnya hampir setiap bulan dan ia berbicara dengan secara bebas mengenai banyak hal dan memberikan saya kebebasan untuk berbicara kepadanya. Peristiwa itu adalah permulaan dari kepercayaan diri yang tidak pernah runtuh. Saya berhutang budi kepada Kardinal Wiseman dan kepada Pius IX atas segala sesuatu yang saya terima dalam kehidupan Katolik saya. Saya tidak pernah meminta kepada mereka, atau kepada siapapun selama masa lalu kehidupan saya, atas segala sesuatu apapun. ...
Saya lebih merasa berada di rumah ketika berada di Roma daripada di Inggris. Saya mengetahui dengan baik Pemimpin Ordo Yesuit di Gesu dan Collegio Romano, terutama Bapa Superior Jenderal Beckx; Bapa de Villeput, Rubillon, Miguardi, Perrone, Passaglia, Ballerini dan Bapa Schrader. Mereka adalah sahabat-sahabat saya dan beberapa di antara mereka adalah Bapa Pengakuan dan Pengajar saya dalam studi. Saya menemukan bahwa sekolah-sekolah publik tidak memberikan apa yang saya perlukan. Oleh karena itu, saya kerap diajar di rumah dan pergi beberapa kali seminggu ke Collegio Romano.� (Journal 19)

Riwayat Hidup Manning
Gereja di Farmstreets tempat pertama kali Cardinal Manning memimpin Misa Kudus
15 Juli 1808 Henry Edward Manning lahir di Copped Hall, Totteridge, Herts, Inggris.
1818-1819 Dia memasuki sekolah Harrow.
1826 Tahun terakhirnya di Harrow.
1827 Dia memasuki Oxford.
1832 Dia ditahbiskan sebagai diakon di gereja Anglikan.
1833 Dia menikahi Caroline Sargent.
1837 Caroline Manning meninggal.
1841 Dia diangkat menjadi Diakon Agung di Chichester, Inggris.
1850 Manning mengarahkan pandangannya ke Gereja Katolik setelah Gorham Judgement dalam persekutuan Anglikan mempromosikan pandangan-pandangan tidak benar mengenai regenerasi baptismal. Peristiwa ini dianggap sebagai permulaan berakhirnya Anglikanisme bagi Manning.
6 April 1851 Henry Edward Manning masuk ke dalam Gereja Katolik.
14 Juni 1851 pada Pesta Santo Basilius Agung, Manning ditahbiskan menjadi seorang imam. Ia ditahbiskan menjadi Imam hanya dalam waktu 10 minggu sejak ia diterima menjadi Katolik.
1857 Manning dan Kardinal Wiseman mendirikan Kongregasi Para Oblat St. Charles di Gereja St. Mary of the Angels, Bayswater.
8 Juni 1865 setelah meninggalnya Kardinal Wiseman, Manning ditahbiskan sebagai Uskup Agung Westminster di Gereja St. Mary Moorfields oleh Uskup Ullathorne dari Birmingham.
1869 Dia pergi ke Roma untuk pembukaan Konsili Vatikan Pertama dan pada bulan Desember ditunjuk menjadi anggota Komite �De Fide�. Dia berperan besar dalam merumuskan ajaran dogma Infallibilitas Paus.
1875 Dia pergi ke Roma untuk menerima pengangkatannya sebagai Kardinal Gereja Katolik.
1878 Cardinal Manning mengambil bagian dalam Konklaf (Pemilihan Paus) yang kemudian memilih Paus Leo XIII. Dalam konklaf, Manning menerima dua suara yang menghendakinya menjadi Paus.
14 Januari 1892 Cardinal Manning meninggal dan dikuburkan di Kensal Green Cemetery. Tubuhnya kemudian dibawa ke Katedral Westminster.

sumber: Blog mengenai Cardinal Manning dan Newsletter of Pope John Paul II Society of Evangelist Apr 07
Pax et Bonum


Wednesday, August 24, 2011

Kepala Inkuisisi Gereja Katolik saat ini: Kardinal Levada




William Joseph Cardinal Levada
William Joseph Cardinal Levada (75) saat ini merupakan Prefek (Kepala) dari Congregratio pro Doctrina Fidei (Kongregasi Doktrin Iman). Kongregrasi ini bertugas untuk menjaga dan mengajukan doktrin iman dan moral Gereja Katolik. Kongregrasi ini sekaligus bertugas melindungi Gereja Katolik dari ajaran-ajaran sesat/bidaah. Kongregrasi ini didirikan oleh Paus Paulus II pada tanggal 21 Juli 1542 dengan nama  Commision of Roman and Universal Inquisition (Komisi Inkuisisi Roma dan Universal). Kongregrasi ini adalah kongregrasi tertua dari 9 kongregrasi yang ada dalam Kuria Roma.

Ibarat tim sepakbola, Bapa Suci Benediktus XVI menjadi penjaga gawang doktrin iman dan moral Gereja Katolik, sedangkan Kongregrasi Doktrin Iman menjadi pemain belakang yang bertugas menghalau serangan lawan dengan Kardinal Levada sebagai pemain belakang utamanya.

Lalu, Siapakah Kardinal Levada ini?



William Joseph Levada lahir di Long Beach, California (AS) pada tanggal 15 Juni 1936. Dia memasuki seminari di Los Angeles. Pada tahun 1958, Levada dikirim ke North American College dan di sana ia berhasil mendapatkan gelar doktor teologi Suci "magna cum laude" dari Gregorian University.

Ia ditahbiskan menjadi Imam di Basilika St. Petrus pada 20 Desember 1961 dan berkarya di paroki-paroki di Keuskupan Agung Los Angeles. Dia juga mengajar teologi di Sekolah Teologia Seminari St. Yohanes yang berada di Camarillo, Keuskupan Agung Los Angeles. Pater Levada ditunjuk sebagai offisial dari Kongregrasi Doktrin Iman pada tahun 1976 dan selama 6 tahun pelayanannya, ia mengajar di Gregorian University.

Pada tahun 1982, ia ditunjuk menjadi direktur eksekutif dari Konferensi Para Uskup California di Sacramento. Selama dua tahun di sana, dia ditunjuk sebagai Uskup Auksilier dari Keuskupan Agung Los Angeles dan ditahbiskan sebagai Uskup pada 12 Mei 1983. Sekembalinya ia kembali ke Los Angeles pada tahun 1984, Uskup Levada melayani sebagai vikar untuk Gereja Santa Barbara sampai tahun 1986, ketika ia ditunjuk sebagai Uskup Agung Portland.

Tahun 1995, Uskup Agung Levada kembali ke California dan menjadi Uskup Agung Koadjutor Keuskupan Agung San Francisco dan kemudian ia menjadi Uskup Agung di sana pada bulan Desember tahun itu. (Penjelasan mengenai Uskup Auksilier dan Uskup Koadjutor dapat di baca di artikel ini.) Pada November 2000, Vatikan mengumumkan penunjukannya sebagai seorang anggota dari Kongregrasi Doktrin Iman. 

Pada tanggal 13 Mei 2005, Uskup Agung Levada diangkat menjadi Prefek Kongregrasi Doktrin Iman oleh Paus Benediktus XVI. Dan pada tanggal 26 Maret 2006, Uskup Agung Levada diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Benediktus XVI juga.


Levada, William Joseph (75)







Born:
1936.06.15 (United States)
Ordained Priest:
1961.12.20
Consecrated Bishop:
1983.05.12
Created Cardinal:
Auxiliary Bishop of Los Angeles (United States) (1983.03.25 � 1986.07.01)
Metropolitan Archbishop of Portland in Oregon (United States) (1986.07.01 � 1995.08.17)
Coadjutor Archbishop of San Francisco (United States) (1995.08.17 � 1995.12.27)
Metropolitan Archbishop of San Francisco (United States) (1995.12.27 � 2005.05.13)
Prefect of Congregation for the Doctrine of the Faith (2005.05.13 � ...)
President of Pontifical Biblical Commission (2005.05.13 � ...)
President of International Theological Commission (2005.05.13 � ...)
Cardinal-Deacon of S. Maria in Domnica (2006.03.24 [2006.03.26] � ...)
President of Pontifical Commission �Ecclesia Dei� (2009.07.08 � ...)

Pax et Bonum


Recent Post