Latest News

Showing posts with label Karismatik. Show all posts
Showing posts with label Karismatik. Show all posts

Thursday, June 13, 2013

Umat Pentakosta di Asia Meningkat, Gereja Katolik Harus Turun Gunung

Pentacostalisme berkembang secara global (Foto: Godswill Ministries)
Umat Pentakosta di Asia Meningkat, Gereja Katolik Harus Turun Gunung

Umat Kristen Pentakosta atau Karismatik bertumbuh pesat di Asia, terutama di kalangan kaum migran perkotaan dan kelompok minoritas etnis, demikian analisis yang baru-baru ini disajikan di Roma. Beberapa analis telah menyimpulkan bahwa pertumbuhan yang cepat ini bisa mendorong Gereja Katolik untuk mengubah kulturnya, yang selama ini  ditandai dengan klerikalisme berlebihan dan pemerintahan 'dari atas ke bawah' (top-down).

Pastor John Mansford Prior SVD, seorang misionaris untuk Indonesia sejak tahun 1973, membahas pertumbuhan Pentakostalisme di Asia selama konferensi pada awal bulan ini  tentang 'Gerakan Agama Baru' yang diselenggarakan oleh Konferensi Waligereja Jerman.

Gerakan Pentakosta dimulai pada awal abad ke-20, yang muncul dari dorongan untuk pengalaman pribadi akan Tuhan dan pembaharuan spiritual melalui baptisan Roh Kudus. Ini memberikan penekanan utama pada 'karunia' Roh, termasuk berbicara dalam bahasa roh, penyembuhan ajaib dan bernubuat.

Sementara istilah Pantekosta biasanya digunakan untuk merujuk pada gerakan-gerakan baru dan Gereja-gereja independen yang bermunculan dari gerakan itu, istilah karismatik umumnya digunakan untuk kelompok yang membawa spiritualitas Pantekosta dalam Gereja-gereja tradisional.

Dalam Gereja Katolik ada kelompok-kelompok seperti Pembaharuan Karismatik Katolik atau El Shaddai, yang memiliki 2 juta anggota terdaftar dan sekitar 7 juta pendukung di Filipina.

'Pentakostalisme telah mengakar di kalangan minoritas-minoritas etnis Asia dan kelas-kelas sosial yang kurang memiliki kekuatan secara politis atau pun ideologis,' tulis Pastor Prior dalam sebuah laporan yang dipresentasikan dalam konferensi itu.

Dalam sebuah wawancara dengan ucanews.com, Pastor Prior memperingatkan bahwa dalam menanggapi pertumbuhan 'gerakan baru' ini di Asia, Gereja Katolik harus mengubah mentalitas dan kulturnya, atau risiko kehilangan umatnya dari benua itu.

Di Asia, Pentakostalisme adalah fenomena perkotaan: 'Orang-orang yang kehilangan identitias desa dan budaya mereka,' yang 'merasa tidak aman di kota sebagai migran,' lalu bergabung dengan komunitas Karismatik dan Pentakosta baru karena di sana mereka menemukan 'hubungan yang hangat' dan 'memiliki tempat' sementara 'paroki-paroki Katolik di kota-kota memiliki umat yang banyak, tak dikenal, sangat ritualistik,' kata Pastor Prior.

Karena lebih dari 50 persen orang Asia kini tinggal di kota-kota, fenomena ini terus berkembang. Faktanya, menurut Pastor Prior, sudah 40 persen dari orang-orang Kristen Asia menyebut diri mereka sebagai Karismatik atau Pentakosta.

Hal ini juga kuat di kalangan etnis minoritas, termasuk Tionghoa di Indonesia. 'Pentakostalisme mengangkat martabat dan identitas kelompok etnis minoritas dan memberikan kenyamanan, komunitas yang akrab dan saling membantu di antara para migran perkotaan yang belum mapan' yang 'agaknya ' kurang mendapat perhatian dari agama atau Gereja mereka sebelumnya,' tulis Pastor Prior dalam laporannya.

Tidak seperti di Amerika Latin, dan pengecualian Korea Selatan, dan  Cina (meskipun data yang dapat dipercaya sulit didapat), kelompok-kelompok Pentakosta di Asia tidak secara eksplisit menekankan 'injil kemakmuran' yang menempatkan hubungan langsung antara iman dan keberhasilan ekonomi.

Tapi, Pastor Prior mencatat bahwa ketika orang-orang bergabung dengan kelompok-kelompok ini, mereka menjadi tenang, tidak mabuk-mabukan, tidak berjudi, bahkan laki-laki menjadi lebih setia kepada istri-istri mereka, karena itu mereka menjalani kehidupan hemat dan secara otomatis mereka maju dalam skala sosial.'

Sementara di Amerika Latin pertumbuhan Pentakostalisme telah bersamaan dengan eksodus besar-besaran dari Gereja Katolik, misalnya, populasi umat Katolik di Brasil turun dari 90 persen pada  tahun 1970 menjadi hanya 65 persen tahun 2010. Di di Asia 'tidak banyak umat Katolik meninggalkan Gereja karena Gereja telah terbuka untuk menerima kelompok-kelompok tersebut,' kata Pastor Prior.

Bahkan, kebijakan resmi dari Federasi Konferensi Waligereja Asia dan konferensi-konferensi waligereja di seluruh benua Asia telah berdampak 'sangat positif.' Namun, dalam beberapa kasus telah terjadi 'ketegangan' dengan mayoritas masyarakat, baik itu Muslim, Hindu atau Buddha, karena kadang-kadang penginjilan yang agresif menjadi kendala gerakan baru itu.

Hal ini pada gilirannya dapat berdampak pada orang Kristen karena seringkali umat non-Kristen 'tidak membedakan antara kelompok-kelompok evangelis dan Gereja-gereja utama.'

Namun, Pastor Prior memperingatkan bahwa untuk memasuki energi spiritual baru yang terungkap dalam pertumbuhan kelompok Pantekosta itu, Gereja masih 'terlalu mono-kultural, terlalu klerikal, terlalu top down.'

Di Korea, misalnya, umat Katolik hanya 10 persen dari populasi, sementara Gereja-gereja Protestan, yang sebagian besar telah 'berjiwa Pentakosta,' kini jumlahnya menjadi 25 persen dari populasi dan terus bertumbuh. Di Korea, 'gerakan karismatik tidak terlalu kuat dalam Gereja Katolik karena Gereja Korea adalah sebuah Gereja yang sangat klerikal.'

Bagi misionaris SVD itu, klerikalisme 'tidak bisa bekerja di dunia modern, dunia maya, dunia yang serba terbuka. Hal ini tidak berguna.'

Di sisi lain, hanya menyambut gerakan baru dalam Gereja tidak cukup.

Sebuah kajian Konferensi Waligereja Jerman 'yang dipresentasikan dalam  konferensi di Roma itu menunjukkan bahwa 'meskipun gerakan Karismatik sangat besar di Filipina dan melibatkan semua kelas sosial, kelas-kelas itu dipisahkan sesuai dengan gerekan yang berbeda. Setiap gerakan memperhatikan kelompok-kelompok tertentu, sehingga sebenarnya mereka tidak saling kontak.'

Pastor Prior mencatat: 'Menurut survei, banyak umat Katolik akhirnya bergabung dengan Gereja-gereja Pentakosta karena mereka memiliki hubungan pribadi dengan Kristus, yang tidak mereka dapatkan dalam paroki-paroki yang penuh dengan ritual. Itu adalah tragis.'

Sebagian ini terjadi karena jumlah pastor yang ditahbiskan Gereja tidak  memadai.

Ini mungkin menjadi sebuah pertanyaan ' antara lain ' soal tuntutan selibat. Namun, perubahan yang terjadi dalam kekristienan di Asia membutuhkan tindakan. Jika tidak, kata Pastor Prior, 'Saya pikir kita akan menyaksikan semakin lebih banyak orang meninggalkan [Gereja Katolik] untuk menemukan kontak spiritual mereka dengan Kristus dalam komunitas lebih kecil, lebih hangat seperti Gereja-gereja Pentakosta.'

Sumber : indonesia.ucanews.com

Thursday, February 14, 2013

Apakah Paus adalah Antikris? Paus Melegalkan Homoseksual?

Apakah Paus adalah Antikris? Paus Melegalkan Homoseksual?


Saya mendapat pesan yang isinya berbunyi seperti ini :

Selamat sore, sy hanya ingin mengabarkan bahwa Solo ada gereja protestan GBI yg dalam kotbahnya menjelek2kan vatikan saya baca disms hp seorang teman, katanya dlm kotbah di GBI keluarga Allah menyatakan bahwa vatikan itu merupakan salah satu antikris, termasuk pausnya yg ktnya melegalkan homosexual. Apakah itu benar? Trm ksh atas pencerahannya.

======

Berikut screenshot dari isi pesan tersebut (nama pengirim dihilangkan) :

 GBI Keluarga Allah Solo
GBI Keluarga Allah Solo (Eksterior)
GBI Keluarga Allah Solo (Interior)

Terlepas dari isi pesan tersebut benar atau tidak, saya belum melakukan konfirmasi secara langsung pada GBI Keluarga Allah, tetapi saya berharap jika pesan tersebut tidaklah benar. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan supaya tidak ada salah pengertian.


1. GBI keluarga Allah menyatakan bahwa vatikan itu merupakan salah satu antikris

Ini adalah tuduhan yang tidak berdasar, karena definisi antikristus menurut Kitab Suci adalah mereka yang menentang Kristus/ Mesias:
  • "Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. ".. Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.- (1 Yoh 2:18, 22)
  • "dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.' (1 Yoh 4:3)
  • "Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus." (2 Yoh 1:7)
Jika seseorang dengan jujur membaca teks ini, maka ia akan mengetahui bahwa Paus bukanlah antikristus, karena justru Paus tidak pernah menyangkal Kristus, tidak pernah tidak mengakui Kristus, tidak pernah tidak mengakui bahwa Yesus telah datang sebagai manusia. Malahan ajaran Paus sungguh berpusat pada Kristus dan bahwa Kristus telah menjelma menjadi manusia melalui Bunda Maria yang dipilih Allah untuk melahirkan Dia.

Jadi tuduhan bahwa paus adalah antikristus sangatlah tidak Alkitabiah. Sebab Kitab Suci juga tidak pernah menuliskan demikian, ini hanya interpretasi pribadi orang yang menuduh.


2. termasuk pausnya yg ktnya melegalkan homosexual

Gereja Katolik sangat menentang perkawinan homoseksual. Tidak pernah sekalipun paus melegalkan perkawinan homoseksual apapun alasannya. Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan homoseksualitas sebagai berikut:
  • KGK 2357    Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besarBdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10., tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa "perbuatan homoseksual itu tidak baik" (CDF, Perny. "Persona humana" 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.
Gereja Katolik tidak menolak para gay dan lesbian, namun tidak membenarkan perbuatan mereka; melainkan mengarahkan mereka untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan untuk menerapkan kemurnian/ chastity. Maka di sini perlu dibedakan akan perbuatan/ dosa homoseksual dan orangnya. Dosa/ praktek homoseksual perlu kita tolak karena merupakan dosa berat yang melanggar kemurnian, namun manusianya tetap harus dihormati dan dikasihi. Walaupun demikian, Gereja tetap memegang bahwa kecenderungan homoseksual adalah menyimpang.(berdasarkan Congregation for the Doctrine of Faith yang dikeluarkan tgl 3 Juni 2003 mengenai, Considerations regarding Proposals to give legal recognition to unions between Homosexual Persons, 4).

In Spiritu Domini

Source : indonesianpapist.com

Monday, January 14, 2013

Kristen, Agama Terbesar di Dunia


WASHINGTON, KOMPAS.com ' Orang Kristen merupakan kelompok agama terbesar di dunia, dengan jumlah sekitar 2,2 miliar orang, demikian menurut sebuah studi yang dirilis Pew Forum tentang Agama dan Kehidupan Publik, Selasa (18/12).

Pew mengumpulkan data jumlah dan distribusi geografis delapan kelompok agama utama, termasuk mereka yang tidak percaya agama apa pun.

Studi itu menemukan, orang Kristen berjumlah sekitar 32 persen dari populasi dunia, diikuti umat Islam yang menjadi kelompok terbesar kedua, dengan 1,6 miliar pengikut.

Hindu merupakan kelompok terbesar ketiga, berjumlah sekitar satu miliar (15 persen), diikuti umat Buddha, berjumlah 500 juta (tujuh persen) dan orang-orang Yahudi, yang berjumlah 14 juta orang (0,2 persen).

Studi demografi seluruh dunia terhadap lebih dari 230 negara dan teritori itu menemukan bahwa lebih dari delapan orang dalam setiap 10 orang, sekitar 5,8 miliar orang, mengidentifikasi diri sebagai orang beragama.

Lebih dari 400 juta orang (enam persen) mempraktikkan berbagai tradisi rakyat, termasuk tradisi Afrika dan agama asli.

Pew Forum mengatakan studi itu, dengan afiliasi agama didasarkan pada identifikasi diri, tidak berusaha untuk mengukur sejauh mana penganut menghayati keyakinan mereka.


Sumber : http://m.kompas.com/news/read/2012/12/18/13105554/Kristen.Agama.Terbesar.di


Saturday, January 5, 2013

Crystal Cathedral Bangkrut, Kini Bersatu dalam Gereja Katolik

Eksterior Crystal Cathedral

Crystal Cathedral Bangkrut, Kini Bersatu dalam Gereja Katolik

Crystal Cathedral, suatu gedung gereja milik denominasi Protestan yang mewah dan unik di daerah Orange County, California, akhirnya resmi menjadi milik Keuskupan Orange. Keuskupan Orange membeli gedung ini dengan harga 57,5 juta dollar AS, mengalahkan tawaran Universitas Chapman sebesar 59 juta dollar. Pemilik gedung gereja ini, Pendeta Robert H. Schuller beserta keluarga, lebih memilih menjual gedung gereja ini kepada Keuskupan Orange ketimbang kepada Universitas Chapman karena Gereja Katolik Keuskupan Orange berkomitmen menjaga gedung ini tetap sebagai tempat ibadah, sementara Universitas Chapman hendak mengubahnya menjadi kampus satelit dan tempat sekuler. Sang pemilik Crystal Cathedral ini mengalami kebangkrutan sehingga terpaksa menjualnya.

Pembelian ini adalah solusi terbaik yang dimiliki Keuskupan Orange untuk mengatasi permasalahan akibat kurangnya daya tampung gedung Gereja Katolik di sana. Ketimbang membangun gedung baru dengan biaya sekitar 250 juta dollar, pembelian dan renovasi Crystal Cathedral akan menghemat setengah dari angka 250 juta tersebut. Keuskupan Orange adalah Keuskupan terbesar ke-10 dari 195 Keuskupan yang ada di AS. Jumlah umat Katolik di sana mencapai 1,2 juta orang.
   
Interior Crystal Cathedral
Keuskupan Orange akan mengizinkan sang pendeta dan karya pelayanannya berlangsung di Crystal Cathedral selama 3 tahun ke depan sembari Keuskupan Orange melakukan renovasi supaya Cathedral ini sesuai dengan tata Liturgi Gereja Katolik.
   
Sang Pendeta sendiri memiliki respek yang besar terhadap Gereja Katolik. Cucu dari pendeta Crystal Cathedral, Bobby Schuller, memberitahu jemaatnya bahwa Gereja Katolik Roma adalah "dari Tuhan" dan bahwa Dia akan terus disembah di Katedral tersebut. ("Bobby Schuller Encourages Crystal Cathedral to Press On," Christian Post, 11 Juni 2012).

Crystal Cathedral sendiri adalah landmark kota Orange County. Ada lebih dari 10.000 panel kaca pada gedung ini. Crystal Cathedral yang membiaskan cahaya matahari sehingga menjadi pelangi tujuh warna akan segera menyinarkan cahaya Iman Katolik dengan tujuh Sakramen Kudusnya bagi Orange County.

Lebih lanjut, nama Crystal Cathedral secara resmi diubah menjadi Christ Cathedral setelah inkarnasinya sebagai sebuah Katedral Roma Katolik. 
   
Penambahan ornamen patung di lingkungan Crystal Cathedral
Sumber :
http://www.indonesianpapist.com/2011/12/gedung-gereja-protestan-convertpindah.html
http://graphe-ministry.org/articles/?p=1287 

Monday, May 14, 2012

Seminar Hidup Baru Dalam Roh Kudus

 

APA ITU SHDR ? 

Seminar Hidup Dalam Roh Kudus (SHDR) merupakan satu seminar awal untuk mengantarkan para peserta kepada pengalaman pribadi akan kehidupan Kristiani yang sejati menurut Yesus Kristus. Sering diistilahkan dengan Retret Awal. Peserta akan dipersiapkan untuk mengalami kabar baik , membuka pintu hati terhadap Roh Kudus , disadarkan bahwa Tuhan itu sangat baik, anugerah dari Tuhan itu luar biasa. Di SHDR ini akan diajarkan kebenaran-kebenaran pokok Injil. Dan akan ada 8 tema pengajaran. Setiap peserta akan dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil. Setiap selesai satu sesi pengajaran akan dilanjutkan dengan doa bersama, sharing dalam kelompok untuk menceritakan kebaikan Tuhan dalam pengalaman hidup pribadi sesuai dengan tema yang dibahas. Pada sesi pertobatan ada sakramen tobat oleh beberapa orang romo dan juga tersedia beberapa konselor bagi mereka yang membutuhkan konseling. Pada sesi pencurahan akan diadakan pengulangan janji baptis oleh romo. Masing-masing peserta akan mendapatkan pengalaman batin yang indah bersama Tuhan dan sesudah itu biasanya peserta berduyun-duyun memberi kesaksian akan pengalaman tersebut. Setelah ikut seminar ini , banyak sekali pribadi yang berubah, mengalami "kehadiran ROH KUDUS" secara baru dalam kehidupan mereka, sehingga terjadi perubahan hidup yang drastis. Dari kehidupan yang jauh dari Tuhan, acuh tak acuh terhadap Ekaristi, hidup dalam kedosaan , berubah menjadi orang yang haus berkomunikasi dengan Tuhan, haus akan EKARISTI, haus akan firman Tuhan. Relasi Keluarga yang penuh kebencian berubah menjadi keluarga harmonis.

 

SHDR PULIHKAN RELASI SUAMI ISTRI

Saya mengenal agama Katholik sejak saya masuk sekolah Katholik , dari bangku TK sampai SMU, latar belakang orang tua adalah dari non Katholik. Dibaptis tahun 1995, bersama mantan pacar yang sekarang menjadi suami.  Tahun 2002 kami menikah, banyak hal-hal kecil yang kami berdua perlu sesuaikan satu sama lain, walau sudah berpacaran 10 tahun. Sikap egois, kurang bisa memahami, mengalah, memaafkan dan mengampuni, menjadi pangkal utama pertengkaran demi pertengkaran.  Saya tidak mengimani ajaran Katholik dengan baik dan benar, dan banyak pelanggaran yang saya lakukan. Saya sering marah dan memaksakan kehendak saya sendiri, begitu juga suami, yang belakangan mulai meninggalkan gereja dan beralih ke klenteng.  Juga menghadapi masalah dalam usaha kami , kami mulai sering mencari solusi lewat paranormal. Pada saat puncak masalah dengan suami yang begitu besar , Saya mendengar saran dari tetangga saya, untuk ikut SHDR di PDKK MKK, karena sebelumnya beliau sudah terlebih dulu ikut. Saat itu saya ceritakan ke suami saya, dan dia bersedia ikut. Niat saya hanya ingin mendapat pemulihan dari Tuhan. Saya ingin merasakan damai, saya ingin merasakan suatu hari nanti Tuhan sendiri yang akan memberikan jawaban terbaik buat masalah kami berdua, karena saya tidak tahu lagi dimana harus mencari kebenaran dan kedamaian. . Baru pertama kali di SHDR ini saya mendengar bagaimana firman Tuhan dalam Alkitab itu diajarkan dengan gaya yang berbeda. Saya baru mengerti bahwa Roh Kudus itu nyata hadir dan mampu menuntun hidup kita. Bayangan Tuhan Allah yang dulunya serasa jauh dari hidup kita dan sulit dijangkau, ternyata tidak demikian. Selesai ikut SHDR ini pemulihan terjadi. Relasi suami istri menjadi baik kembali, kami berdua menjadi lebih pengertian satu sama lain, berani saling meminta maaf dan mau memaafkan, serta lebih bersabar.Senang sekali ikut SHDR ini, berbunga-bunga, seperti layaknya anak kecil yang mendapat barang kesukaannya, mungkin itulah gambaran yang dapat saya berikan. (sharing Angela Merici Yuni peserta SHDR 2011)


SHDR MEMBUAT IMAN SAYA BERTUMBUH PESAT

Semenjak masih remaja saya sering ikut ibu saya ke acara Persekutuan Doa. Namun kesibukan kuliah, bekerja dan membangun keluarga membuat saya absen ke PD dalam waktu cukup lama. Rupanya Tuhan rindu saya kembali. Dimulai pada tahun 2010 anak sulung saya mengikuti persiapan komuni pertama, sehingga sayapun jadi lebih rajin ke gereja dan mulai lagi pergi ke PD. Kemudian di tahun 2011 saya mengalami banyak pencobaan berat dan mulai mencari-cari suatu pegangan hidup. Di saat itulah saya membaca flyer Seminar Hidup dalam Roh Kudus (SHDR). Ini pasti undangan dari Tuhan, karena setelah itu berkali-kali saya ditawari untuk ikut SHDR, bukan saja tawaran secara fisik, bahkan dalam benak sayapun sering terlintas akan undangan tsb. Maka ikutlah saya dalam seminar tsb. Lebih dari 25 tahun saya rindu mengalami pencurahan Roh Kudus dan kali ini saya benar-benar mengalaminya! Saya mendapat karunia bahasa Roh, sungguh suatu pengalaman pribadi yang intim dengan Tuhan, tak dapat saya lukiskan dengan kata-kata! Sesudah peristiwa itu, kerinduan saya untuk mengenalNya menjadi lebih berkobar-kobar. Saya kembali rajin datang ke PDKK MKK, bahkan saya mengikuti seminar dan kursus lanjutan lainnya. Tahun 2011 merupakan tahun reformasi dalam kehidupan iman saya. Banyak hal-hal negatif dalam diri saya Tuhan ubahkan setelah ikut seminar ini. Saya menjadi lebih sabar dan lebih khusuk saat Misa Kudus. Dukungan dari teman-teman dan ketua kelompok dalam SHDR sungguh berarti bagi saya, karena saya tidak merasa sendirian. Sungguh SHDR membuat iman saya bertumbuh pesat !! (sharing Luciana Winny peserta SHDR 2011)

SHDR MEMBUAT BEBAN YANG SAYA PIKUL HILANG

Sebenarnya saya ikut SHDR tahun ini hanya untuk menemani suamiku yang baru pertama kali ikut SHDR, saya sendiri sebenarnya sudah pernah mengikuti nya tetapi karena selama ini selalu membawa beban sebagai anak pewarta yang hebat (papi dan mamiku seorang pewarta dan pendoa yang lumayan terkenal di kalangan karismatik). Selama remaja sampai dengan menikah ini saya termasuk yang suka memberontak baik terhadap orang tua, lingkungan, gereja bahkan kepada Tuhan. Saya mempunyai beban berat sebagai seorang anak pewarta sungguh berat dan saya merasa kehilangan jati diri sendiri. Pada saat doa pencurahan Roh Kudus saya bahkan sempat berdoa supaya jangan mami saya mendoakan saya karena saya takut dan melalui doa ketua kelompokku yang mendoakan saya agar saya bisa mendapatkan anak, disitu Tuhan menegur saya supaya jangan kuatir dan jangan takut akan hari depan kalau Tuhan akan memberikan saya anak. Saya juga merasakan ROH KUDUS memeluk saya, merasa nyaman , tentram dan Roh Kudus sudah membebaskanku dari segala beban yang saya pikul selama ini. Setelah ikut SHDR ini saya mempunyai kerinduan kuat untuk selalu mencari Tuhan Yesus dan saya menjadi rajin ke PD MKK tiap hari rabu malam. Thank�s for Jesus & seluruh tim PDKK MKK yang telah menyelenggarakan SHDR ini. (sharing Mediana Tedjaindra peserta SHDR 2011)



SHDR MENGUBAH TOTAL KEHIDUPAN SAYA


Dahulu saya seorang pemarah, pendendam, kasar. Begitu juga terhadap keluarga saya kurang perhatian sekali. Berdoa hanya berdasarkan kebutuhan saja. Alkitab saya baca, tetapi saya tidak mengerti dan memahaminya. Suatu ketika saya datang ke Persekutuan Doa MKK , dimana saat itu saya ditawari ikut SHDR. Saya tidak mengerti apa seminar ini, tetapi saya pikir kalau kita ada didalam Tuhan, tidak mungkin sesuatu hal itu buruk. Apa yang saya alami di seminar ini, saat sesi Pencurahan Roh Kudus saya merasakan Tuhan Yesus menghampiri dan memegang tubuh saya. Sesudah itu saya merasakan kelepasan , kelegaan, kedamaian dan sukacita yang luar biasa. Hidup saya berubah total setelah ikut SHDR ini. Saya menjadi mencintai keluarga, lebih sabar, pemaaf, rajin berdoa. ( sharing bpk.Ali peserta SHDR 2008. Sekarang pradiakon di Paroki MKK)

Tuesday, February 21, 2012

Pentingnya Karismatik



Pengrusakan nilai-nilai moral dan kehampaan kehidupan rohani yang terjadi saat ini di dunia membutuhkan perangkat-perangkat rohani yang telah disediakan oleh Tuhan. Saat-saat inilah dunia kita membutuhkan Roh Kudus seperti saat Pentakosta pertama kali terjadi kepada murid-murid Yesus.

Berbagai karunia Roh Kudus telah dipersiapkan untuk kita semua - yaitu karunia ilahi yang tampak mustahil bagi kita manusia. Ketika Yesus menumpangkan tanganNya bagi yang sakit, maka orang itu sembuh. Yang buta dapat melihat. Yang lumpuh berjalan. Yang putus asa memperoleh harapan dan kedamaian. Orang-orang berdosa membalikkan hidupnya untuk menjadi lebih kudus bagi Tuhan.

Didalam Roh Kudus kita saling membantu dan mengasihi. Didalam Roh Kudus kita bisa melihat hadirat Kristus didalam diri setiap orang. Didalam Roh Kudus kehidupan kita diperbaharui dan diberkati.

Seperti Alkitab menyatakan,

�Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka:�Hai, kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel:

Akan terjadi pada hari-hari terakhir - demikianlah firman Allah - bahwa Aku akan mencurahkan Roh-ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.

Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Ku-curahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.

Dan Aku akan mengadakan mukjizat-mukjizat di atas, di langit dan tanda-tanda dibawah, di bumi�� (Kis 2:14-19)

Kata-kata itu disampaikan oleh Santo Petrus ketika dia dan para murid Yesus berada di ruang atas saat Roh Kudus hadir �seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah� dan saat itu �tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.� (Kis 2: 1-3)

Para murid ini tetap membutuhkan Roh Kudus. Walaupun saat itu mereka percaya kepada Yesus, mereka telah melihat Yesus secara langsung, mereka hidup bersama Yesus, mereka telah berbicara dengan Yesus, mereka melihat Yesus disalibkan dan mereka melihat sendiri Yesus bangkit dari maut. Tapi mereka tetap membutuhkan Roh Kudus.

Percaya saja tidaklah cukup. Sebelum turunnya Roh Kudus, mereka tidak dapat bersaksi dengan berani mengenai Kebangkitan Kristus. Santo Petrus yang tadinya menyangkal Yesus tiga kali di Mat 26:69-75, kini berani untuk berkata-kata dengan suara lantang didepan banyak orang.

Ketika Roh Kudus turun diatas mereka, mereka menjadi lebih bersemangat dalam pewartaan, mereka dapat melakukan berbagai mukjizat dengan menyembuhkan banyak orang sakit dan mereka dapat berbahasa Roh - semua seperti yang dijanjikan Yesus kepada mereka.

Dengan demikian Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik memperkuat persahabatan dengan Yesus Kristus.

In Spiritu Domini

Saturday, January 28, 2012

Mengapa Musik Praise and Worship adalah Pujian (Praise), tapi Bukan Penyembahan (Worship)




Pertama kali aku menghadiri Life Teen Mass (Misa untuk anak muda) adalah ketika aku berusia 16 tahun. Saat itu malam tahun baru dan aku pikir, daripada pergi ke kota dengan teman-teman paganku, aku seharusnya menjadi katolik yang baik dan merayakan tahun baru bersama Yesus. Paroki yang mengadakan Life Teen Mass bukanlah parokiku, namun aku tetap pergi ke sana. Setiap orang mengatakan bahwa ada banyak orang seusiaku, yang serius terhadap iman mereka, dan saat itu adalah waktu dimana Roh Kudus memenuhi mereka. Beberapa temanku juga pergi ke sana, jadi apa yang lebih baik daripada ikut menghadiri Life Teen Mass?

Tapi sesegera Misa dimulai, aku merasa bahwa aku masuk ke dalam tanah tak bertuan yang terletak diantara katolisisme dan suatu bentuk protestanisme yang kabur, yang sebagai seorang convert aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Bukan musiknya yang tampak aneh bagiku. Aku tumbuh dengan musik kontemporer kristen disekitar rumah dan mendengarnya di radio (ketika aku tidak mendengarkan musik klasik atau musik dansa latin). Jadi aku kenal lagunya. Gereja penuh dengan anak SMA dan baby boomers dan mereka semua tampak saling mengenal dan mencintai satu sama lain.

Tapi selagi Misa berjalan, aku tetap memperhatikan hal-hal yang kuketahui dengan baik tidak ada dalam rubrik, suatu arahan tertulis berwarna merah dalam Missal yang memberitahu kita bagaimana merayakan Misa dengan pantas. Koordinator Life Teen telah memutuskan agar mereka memodifikasi Misa untuk dipantaskan bila dirasa perlu untuk membuat anak-anak terlibat. Dan maka ada tarian, saling menggenggam tangan, dan musik yang tidak berhubungan dengan teks Misa yang seharusnya.

Kemudian adalah waktunya untuk Doa Syukur Agung. Selebran mengundang semua anak-anak untuk mengelilingi altar. Karena Gereja cukup penuh, hal ini tidaklah praktis dan tidak berguna. Tapi semua orang berdiri dan membuat jalan seperti mosh pit (aku menunjukkan usiaku sekarang!) untuk mendekat ke altar. Aku berdiri dibelakang kursi. Dan tentu, selebran berpikir aku terlalu malu untuk maju ke depan sehingga ia mendorongku, dari altar, untuk bergabung dengan anak-anak lainnya. Aku sudah cukup disini, dan aku berteriak dari belakang,�Tidak, Romo, Aku seorang katolik, dan aku tidak melakukan hal tersebut�, dan aku mengeluarkan rosario dan berlutut untuk berdoa selagi aku mengamati Doa Syukur Agung menjadi lebih buruk, menjadi sesuatu yang mirip dengan  kultus bergairah yang kami pelajari tentang Sejarah Yunani Kuno.

Tidak hanya aku tidak pernah kembali ke Life Teen Mass, Aku memulai misa Minggu dengan pergi ke gereja ortodox. Disana aku merasa menyembah Allah dan tidak ada orang dewasa yang berusaha dan gagal untuk membuat agama relevan bagiku dengan mengasumsikan bahwa aku terlalu muda atau bodoh untuk mengerti penyembahan yang nyata. Ini terjadi 15 tahun sebelum aku berpartisipasi dalam peristiwa yang serupa. Saat ini, aku adalah seorang imam dan diminta untuk memimpin Jam Suci untuk orang muda. Pelayan muda di paroki ini sangat sensitif terhadap fakta bahwa Praise and Worship bukanlah favoritku, dan ia memperingatkanku lebih awal.

Selagi aku berlutut di depan Sakramen Maha Kudus, aku menyadari sesuatu. Orang yang mengatur musik saat ini adalah orang yang sama 15 tahun yang lalu. Musknya sama, lagu yang sama yang aku mainkan ketika aku berusia anak-anak yang berada di bangku gereja di belakangku. Bagaimana hal ini relevan? Tapi kali ini anak-anak yang berada di sana terlihat bosan. Aku bertanya apa yang mereka pikirkan tentang itu, dan seorang pria muda berkata �Well, tidak masalah. Kapan kami akan mengikuti Misa Latin, Romo?�

Dari semua teman-teman SMA ku yang merupakan anggota Life Teen, tidak seorangpun dari mereka yang tetap beragama katolik. Akankah anak-anak sekarang yang dibesarkan pada diet of Praise and Worship tetap mempraktekkan Iman [katolik] ketika mereka tidak lagi [menjadi bagian dari orang] berusia dewasa menengah di Gereja yang ingin menyediakan semua keperluan? Aku tidak tahu. Tapi pengalamanku telah membuatku merefleksikan mengapa musik Praise and Worship bukanlah musik yang pantas bagi liturgi :

1.Musik Praise and Worship mengasumsikan bahwa pujian adalah penyembahan

Semua orang dipanggil untuk mengangkat hati, pikiran dan suara di dalam doa kepada Allah. Jenis doa tertentu adalah pujian, ketika kita menyadari kebaikan, kekudusan dan kerahiman Allah melalui tindakan pujian kita. Pujian selalu ditemani oleh musik. Pujian selalu menjadi sesuatu yang terjadi pada tingkat individu atau kelompok kecil. Pujian sering kali bersifat spontan dan mengambil bentuk dan simbol kultural yang relevan . Pujian adalah sesuatu yang umum bagi semua orang Kristen dan banyak agama lainnya.

Penyembahan memang termasuk jenis pujian, dan musik adalah bagian integral darinya. Tapi liturgi suci adalah doa publik Gereja,  suatu penyembahan yang disatukan yang melaluinya umat katolik terbaptis masuk ke dalam Misteri yang bukan buatan mereka.[Penyembahan] menjadi suatu tindakan bersama , yang diatur oleh hukum dan tradisi untuk memelihara kesatuannya di seluruh dunia dan kesetiaannya kepada Pesan yang diwahyukan Allah. Penyembahan adalah tindakan umat Kristen yang telah dibaptis yang berkumpul oleh ikatan persekutuan dengan institusi Gereja yang kelihatan.

Musik praise and worship menyamakan penyembahan dengan pujian, dengan memindahkan hakekat pujian yang lebih bebas dan individualistik ke dalam doa komunal penyembahan Gereja .

2.Musik praise and worship mengasumsikan bahwa penyembahan, pada prinsipnya adalah sesuatu yang kita lakukan

Martin Luther mendefinisikan Misa sebagai kurban pujian. Misa adalah sesuatu yang kita serahkan kepada Allah. Konsili Trent dengan meriah mendefinisikan Misa menentang definisi Luther, bahwa Misa sebenarnya adalah kurban yang sejati. Misa adalah penghadiran kembali Kurban Kristus kepada Bapa-Nya di Kalvari dalam Roh Kudus. Misa adalah sesuatu yang Yesus lakukan, Penebusan, buah-buah yang dibagi dengan kita dalam Sakramen Komuni Kudus. Penyembahan bukan pujian, tapi Kurban dan Sakramen. Penyembahan adalah sesuatu yang Yesus Kristus bawa pada kita melalui Persembahan Diri-Nya kepada Bapa

Musik praise and worship mereduksi Misa menjadi kurban pujian yang kita persembahkan kepada Allah. Bahkan ketika pendukung musik praise and worship menyetujui ajaran Gereja tentang Misa, ini merupakan kebenaran iman yang abstrak. Konkretnya, kurban pujian kita dipindahkan ke dalam Kurban Penebusan. Hal ini tidak memperhatikan fakta bahwa Kurban Penebusan adalah Pujian tertinggi kepada Trinitas, dan partisipasi kita di dalamnya bukan melalui apa yang kita lakukan, tapi oleh kita sebagai umat Kristen yang telah dibaptis, di dalam kehidupan rahmat.

3. Musik praise and worship mengambil prinsip pertamanya : relevansi

Praise and worship menyadari bahwa musik itu penting dalam penyembahan Gereja. Tapi ia juga menyatakan bahwa musik harus �mencapai orang-orang dimanapun mereka berada�. Musik harus relevan bagi mereka yang mendengarnya. Relevansi merupakan gagasan yang ambigu. Apa yang relevan bagiku mungkin tidak relevan bagi orang lain, dan karenanya musik praise and worship memasukkan elemen subjektivisme yang didasarkan pada kepentingan manusia ke dalam liturgi.

Seringkali musik praise and worship diarahkan pada upaya missioner yang pura-pura. Gagasannya adalah, bila orang-orang menemukan musik di Misa sebagai sesuatu yang menarik atau relevan, mereka akan dibawa ke dalam hubungan yang lebih dalam dengan Allah. Namun iman adalah hadiah yang datang dari Allah, bukan dari kita. Musik praise and worship berupaya untuk membersihkan jalan bagi tindakan ilahi, seolah-olah relevansi bisa mencapainya.

4.Musik praise and worship mengambil prinsip keduanya : partisipasi aktif kelompok usia tertentu

Musik praise and worship melihat partisipasi aktif sebagai perbuatan yang dilakukan semua orang, bernyayi dan merasakan tentang Allah dalam cara tertentu saat Misa. Musik adalah sarana untuk menghasilkan tujuan akhir. Musik juga melihat ketiadaan orang muda di Gereja, dan berargumen bahwa bila musik di Misa lebih menyerupai [musik] orang muda dalam kehidupan mereka, mereka akan terbuka pada kehidupan yang berlimpah. Karenanya, musik praise and worship dirancang oleh orang-orang berusia dewasa menengah tanpa latar belakang teologis, liturgis atau musikal, untuk membujuk remaja dan anak kuliahan dengan latar belakang yang mirip, ke dalam lingkungan teologis, liturgis dan musikal. Lingkungan tersebut mereduksi liturgi menjadi tindakan pujian buatan manusia yang diatur untuk menghasilkan hasil yang apostolik.

5. Musik praise and worship dengan sadar diri membagi Gereja ke dalam kelompok usia dan selera

Musik praise and worship terutama dirancang atas dasar gagasan yang abstrak tentang apa yang disukai orang muda. Ia sering kali lebih merefleksikan trend masa lalu yang dekat dengan remaja partisipan musik praise and worship, daripada trend remaja aktual yang relevan saat ini.

Musik praise and worship juga cenderung meremehkan tradisi musik Gereja dengan mengklaim bahwa musik Gereja terlalu sulit, elegan, atau tidak relevan bagi remaja. Bagi mereka, musik praise and worship adalah musik yang demokratis, egaliter, relevan bagi anak muda. Sebaliknya, tradisi musik Gereja sering dilukiskan sebagai musik teatrikal, dan aristokrat untuk orang tua di aula konser.

Dengan selektif memilih gagasan abstrak tentang anak muda dan apa yang relevan baginya sebagai kriteria musik liturgis, musik praise and worship dengan efektif membagi Gereja berdasarkan apa dianggap sebagai sesuatu yang sesuai untuk anak muda dan tidak sesuai secara sewenang-wenang. Ia juga berargumen bahwa perbedaan �gaya� adalah baik untuk liturgi. Hal ini memperkenalkan liturgi dengan gagasan gaya yang ambigu dan selera sebagai prinsip dimana liturgi dan musiknya harus diatur.

6. Musik praise and worship menyingkirkan teks liturgis dan biblis selama Misa

Roman Missal mengandung antiphon untuk pembukaan dan Komuni yang secara normal adalah teks biblis. Roman Gradual, yang adalah sumber musik resmi Gereja untuk Misa, berisi antiphon untuk Persembahan juga untuk Nyayian antar bacaan (interlectionary). Semua ini dikenal sebagai Proper Misa. Missal dan Gradual juga berisi teks resmi Ordinari Misa untuk Kyrie (Tuhan kasihanilah), Kemuliaan, Kredo, Kudus-Kudus, dan Anak domba Allah.

Musik praise and worship menghindari opsi pertama dari  perintah hukum liturgi Gereja untuk musik saat Misa, yaitu Proper dan Ordinari Misa seperti yang terdapat pada buku-buku liturgi dan musikal Gereja. Musik praise and worship mengganti himne, yang bukan bagian dari Misa Romawi, atau membahasakan ulang Ordinari. Jika teks biblis digunakan, teks tersebut hampir atau sama sekali tidak berhubungan dengan teks yang ditunjuk oleh Gereja dalam Missal atau Gradual.

Dalam melakukan ini, Musik praise and worship membuat situasi dimana umat tidak menyanyikan msa (yaitu teks pada Missal dan Gradual), tapi mereka menyanyikan lagu saat misa yang dipilih dengan kriteria yang merusak, agar lagu-lagu yang dipilih �sejalan dengan bacan dan tema hari ini�. Musik praise and worship memisahkan musik Misa dari Misa dan menggantikannya dengan teks yang tidak Biblis atau liturgis.

7.Musik praise and worship mengasumsikan bahwa terdapat inti ajaran katolik yang terpisah/independen dari hukum liturgi Gereja dan tradisi

Banyak pendukung musik praise and worship mengasumsikan bahwa, selama mereka tetap percaya pada apa yang Gereja ajarkan dalam Katekismus tentang iman dan moral, bahwa liturgi bisa diadaptasi menjadi sebagaimana yang mereka pikirkan, bahwa sebuah ajaran harus diinkarnasikan ke dalam lagu. Ada beberapa orang yang tidak pernah berpikir untuk menyangkal artikel Kredo atau mendukung tindakan immoral yang dihukum oleh Magisterium. Tapi pendukung yang sama melihat liturgi sebagai area yang lain. Tuntutan apapun pada hukum liturgis atau tradisi ditolak menurut prinsip relevansi dan partisipasi aktif orang muda.

Ortodoksi kemudian dipisahkan dari Ortopraksis, kepercayaan yang benar dipisahkan dari penyembahan yang benar. Kekuatan Gereja untuk berbicara tentang iman dan moral dipertahankan namun kekuatan Gereja untuk menjaga liturgi melalui rubrik, hukum dan tradisi, dilupakan seperti legalisme buatan manusia. Dengan berbuat demikian, musik praise and worship mendukung sikap pasif, atau kadang-kadang mendukung perlawanan yang aktif terhadap kewajiban hirarki untuk menjaga karakter kekudusan dari ritus Gereja. Kesan diciptakan agar ada sesuatu seperti kepercayaan yang benar, tapi gagasan penyembahan yang benar bertentangan dengan Semangat Injil.

Hal ini menciptakan masalah persatuan antara imam dan umatnya, ketika imam berupaya untuk mereformasi liturgi dalam tempat yang diberikan, untuk membawa liturgi sejalan dengan hukum dan tradisi liturgis Gereja.

8. Musik praise and worship memanipulasi emosi untuk menghasilkan katarsis yang dilihat sebagai hal yang perlu bagi pertobatan spiritual.

Pertobatan terutama dilihat sebagai peristiwa dramatis emosional yang diikuti oleh perasaan yang kuat. Menyadari bahwa musik bisa menstimulasi perasaan, musik praise and worship bertujuan untuk menghasilkan peristiwa liturgis yang mengeluarkan perasaan yang selanjutnya bisa membawa katarsis emosional sebagai keharusan dalam pertobatan, Cara liturgi direncanakan dan musik dikembangkan dilakukan dengan tujuan untuk membantu proses pertobatan ini.

Namun ini bukanlah pertobatan yang sebenarnya. Pertobatan adalah pembentukan suara hati dalam rahmat Roh Kudus untuk memberitahu intelek dan menguatkan kehendak untuk menghidupi kehidupan supernatural yang berkeutamaan dalam persatuan dengan Kristus. Walaupun emosi terlibat dalam perziarahan pertobatan seumur hidup, manipulasi bebas, bahkan untuk akhir yang baik, merupakan suatu pelecehan. Manipulasi ini tidak melihat manusia siap untuk menanggapi panggilan ilahi, tapi sebagai sesuatu yang diutamakan demi pengalaman. Kenyataannya, kehidupan rahmat yang dibawa melalui pertobatan bukanlah pengalaman pada tingkat emosi, tapi sebuah pergerakan jiwa yang melampui emosi tersebut.

9. Musik praise and worship mencampurkan antara transendensi dengan perasaan

Manipulasi emosi yang dengan bebas dilakukan sering menghasilkan sentiment/emosi yang berlebihan. Kekuatan perasaan bisa membujuk seseorang untuk berpikir bahwa perbuatan seperti ini adalah karya Allah yang transenden dalam diri mereka. Bentuk-bentuk musikal yang sungguh transenden, di dalamnya mereka membebaskan diri dari emosi dan membawa pribadi melampaui emosi mereka, seperti lagu Gregorian, ditolak karena [lagu Gregorian/Gregorian Chant] tidak menyebabkan peristiwa emosional, yang dilihat sebagai bukti tindakan ilahi.

Tradisi spiritual Gereja telah mengajarkan kita untuk tidak mempercayai perasaan dan menghargai kekudusan Allah yang transenden. Tradisi spiritual Gereja juga mengajarkan bahwa manipulasi manusia terhadap intelek dan kehendak merupakan pelanggaran terhadap kebebasan manusia. Ketika hal ini dilakukan dalam nama Allah, ini juga pelanggaran terhadap kedaulatan Allah terhadap intelek dan kehendak manusia, karena hal ini menggantikan tindakan bebas Allah dalam jiwa dengan tipu muslihat untuk memunculkan tindakan manipulasi yang bisa terjadi secara teoritis.

10. Musik praise and worship menyangkal kekuatan hukum liturgis dan musikal dalam Gereja untuk mendukung interpretasi terhadap penyembahan yang sewenang-wenang dan individualis

Musik praise and worship mengabaikan hukum liturgis dan gereja dalam membuat relevansi dan mereduksi gagasan partisipasi prinsip fundamental demi mengatur peristiwa liturgis/emosional menuju katarsis emosional yang perlu bagi pertobatan. Seringkali pendukung musik praise and worship tidak pernah membaca dokumen Magisterium Gereja tentang liturgi dan musik, atau mereka membacanya dalam hermeneutic of rupture.

Hukum liturgis dan musikal gereja bertujuan untuk menjaga kesatuan, kemurnian dan kejelasan penyembahan Gereja. Musik praise and worship menawarkan kriteria lain bagaimana seharusnya Gereja menyembah. Pertama, ia memasukkan penyembahan liturgis yang sejati ke dalam rubrik pujian. Kedua, mereka yang bertanggung jawab terhadap pujian sering mengatur ritus dan musik berdasarkan prinsip yang asing terhadap [prinsip] yang mengatur hukum liturgis dan musikal Gereja. Ketiga, opini individual, kelompok kecil dan komite, yang sering kali tidak diikuti oleh edukasi teologis, liturgis dan musikal, lebih disukai daripada warisan musikal, teologis dan liturgis Gereja yang ditemukan dalam dokumen Gereja dan Missal serta Gradual.

11.Musik praise and worship mengutamakan kesegeraan pemahaman dan kemudahan artistik daripada makna berlapis dalam liturgi dan keunggulan artistik liturgi

Musik praise and worship lebih menyukai musik sederhana yang siapapun bisa memahami dan berpartisipasi dengan mudah. Ia juga lebih menyukai apa yang bisa dinyayikan atau dimainkan dengan latihan , instruksi, atau bakat yang minim.

Diet musik praise and worship yang konstan sepanjang tahun liturgis [maksudnya upaya untuk tidak mengambil makna liturgis yang berlapis serta keunggulan artistiknya secara konstan] memisahkan orang-orang dari doa aktual liturgis Gereja, seperti yang ditemukan dalam Missal dan Gradual. Ia juga menyangkal akses kepada karya seni yang dihasilkan Gereja sendiri, Lagu Gregorian, dan kepada transendensi. Ia juga memberi kesan bahwa Gereja tidak serius terhadap musik. Gagasan  keunggulan dalam gerak, suara dan pandangan liturgis dan bahwa Gereja adalah pelindung bentuk tertinggi dari ekspresi tersebut, diabaikan dalam mendukung apa yang paling mudah [dipahami].  Dalam melakukan ini, musik praise and worship tidak menginspirasi kaum muda dan orang tua untuk mengungkapkan kekayaan liturgi dan musik Romawi.

Ada banyak hal yang bisa dibahas. Dan aku juga yakin bahwa banyak temanku dari musik praise and worship akan menanggapi isu ini terhadap beberapa hal yang aku tulis. Berikut ini adalah hal penting untuk diingat bagi mereka yang terlibat dalam pelayanan Gereja :

?1.?Tradisi liturgis dan musikal Gereja adalah bagian integral dari penyembahan, dan bukan tambahan yang diciptakan.

?2.?Pujian adalah bentuk yang tinggi dari doa individu dan kelompok kecil, tapi bukan penyembahan seperti yang dipahami Gereja dalam doa publik liturgi

?3.?Penyembahan terutama bukan sesuatu yang kita lakukan : penyembahan adalah persembahan diri Yesus Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus, yang buah-buahnya kita terima dalam Komuni Kudus. Penyembahan adalah Kurban dan Sakramen, bukan Pujian


?4.?Relevansi adalah hal yang tidak berhubungan dengan liturgi yang bertujuan membawa manusia keluar dari ruang dan waktu untuk masuk dalam Keabadian


?5.?Partisipasi dalam liturgi terutama adalah partisipasi batin, melalui persatuan jiwa dengan Kristus yang merayakan liturgi. Eksternalisasi apapun dari partisipasi batin tidak bermakna kecuali terdapat partisipasi batin disana


?6.?Harta karun musik suci Gereja tidak terbatas pata usia, budaya, status sosial ekonomi atau bahkan kelompok religius. Ia adalah warisan umum bagi kemanusiaan dan sejarah


?7.?Gereja harus menyanyikan Misa, yaitu teks biblis dan liturgis yang terdapat dalam Missal dan Gradual, bila sebuah nyayian disatukan dalam Penyembahan Gereja dan bukan hanya Pujian yang dirancang oleh sekelompok orang


?8.?Ajaran katolik tentang iman dan moral harus selalu disertai oleh rasa hormat terhadap ajaran dan hukum liturgi dan musikal Gereja


?9.?Dengan sengaja memanipulasi emosi manusia untuk menghasilkan dampak religius merupakan pelanggaran, ketidak tulusan dan rasa tidak hormat terhadap kuasa Allah untuk membawa pertobatan dalam hati manusia


?10.?Sementara musik mempengaruhi emosi, musik suci harus selalu berhati-hati untuk lebih memilih kekudusan transenden Allah daripada kebutuhan emosional manusia yang imanen.


?11.?Harta karun musik suci Gereja menginspirasi dan mengharuskan adanya perhatian tertinggi pada keunggulan artistiknya. Ini juga hadiah yang tidak dapat diukur bagi Gereja, dan harus selalu dihadirkan kepada umat beriman agar mereka menikmati kekayaan hadiah tersebut.


Apakah aku berpikir bahwa musik praise and worship memiliki tempat dalam kehidupan Gereja? Tentu. Musik adalah pujian, musik adalah doa, musik membantu umat mengarahkan pikiran dan hati mereka kepada Allah. Tentu ada tempat bagi musik tersebut didalam Gereja. Tapi musik ini bukan Penyembahan dan doa liturgi komunal, yang olehnya Allah menyatukan diri-Nya dengan kita, harus diijinkan untuk menjadi dirinya. Kita tidak boleh menjadi sinis untuk berpikir bahwa umat katolik terlalu muda atau tua, atau terlalu bodoh dan pintar, dan terlalu lemah secara spiritual ataupun acuh, untuk mendoakan liturgi Gereja seperti yang ditunjukkan pada Missal dan Gradual. Musik tradisi Gereja merupakan hadiah Gereja kepada manusia. Mari mendoakan Misa, mari menyanyikan Misa sebagai penyembahan. Maka pujian kita akan menjadi pantas oleh nafas Roh, karena Kristus melalui Tubuh Mistik-Nya akan menyanyikan pujian Bapa didalam kita.



In Spiritu Domini

Recent Post