Latest News

Showing posts with label Krisma. Show all posts
Showing posts with label Krisma. Show all posts

Saturday, March 10, 2012

Tiga Sakramen Inisiasi Kristen


Orang menjadi Kristen - sudah sejak zaman para Rasul - dengan mengikuti jalan inisiasi dalam beberapa tahap. Jalan ini dapat ditempuh cepat atau perlahan. Tetapi ia harus selalu mempunyai beberapa unsur hakiki: pewartaan bSabda, penerimaan Injil yang menuntut pertobatan, pengakuan iman, Pembaptisan itu sendiri, pemberian Roh Kudus, dan penerimaan ke dalam persekutuan Ekaristi. (KGK 1229)

Dalam Gereja Katolik, kita mengenal dan mengakui 3 sakramen inisiasi yang terdiri atas Sakramen Pembaptisan, Sakramen Penguatan (Krisma) dan Sakramen Ekaristi (bdk KGK 1533). Urutan yang benar dalam penerimaan oSakramen-sakramen inisiasi adalah pertama Sakramen Pembaptisan, kemudian Sakramen Krisma (Penguatan) barulah kemudiann dilengkapi dengan Sakramen Ekaristi, puncak inisiasi Kristen.


Setiap orang yang dibaptis, yang belum menerima Penguatan, dapat dan harus menerima Sakramen Penguatan. Oleh karena Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi membentuk satu kesatuan, maka "umat beriman... diwajibkan menerima Sakramen ituu tepat pada waktunya" karena tanpa Penguatan dan Ekaristi, Sakramen Pembaptisan itu memang sah dan berhasil guna, namun inisiasi Kristen masih belum lengkap. (KGK 1306)

Bersama dengan Pembaptisan dan Ekaristi, Sakramen Penguatan membentuk "Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen", yang kesatuannya harus dipertahankan. Jadi, perlu dijelaskan kepada umat beriman bahwa penerimaan Penguatan itu perlu untuk melengkapi rahmat Pembaptisan. (KGK 1285)

Sedangkan Sakramen Ekaristi menjadi sakramen yang mmenyempurnakan inisiasi Kristen. (bdk. KGK 1322)

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Sakramen Penguatan melengkapi Sakramen Pembaptisan dan Sakramen Ekaristi menyempurnakan Inisiasi Kristen. KGK 1275 memberikan analogi yang bagus mengenai tiga sakramen inisiasi ini:  Inisiasi Kristen terlaksana dalam tiga Sakramen: Pembaptisan, yang adalah awal kehidupan baru; Penguatan, yang menguatkan kehidupan ini; Ekaristi, yang mengenyangkan umat beriman dengan tubuh dan darah Kristus, untuk mengubahnya ke dalam Kristus.�

Salah satu kebiasaan yang kurang tepat yang terjadi di Indonesia adalah inisiasi Kristen justru berlangsung dalam urutan yang keliru. Kita terbiasa melihat seorang Katolik menerima inisiasi Kristen-nya dalam urutan Pembaptisan-Ekaristi-Krisma. Meskipun rahmat sakramen-sakramen tersebut tetap kita terima secara utuh sekalipun diberikan dalam urutan yang keliru, tetapi kebiasaan yang keliru ini dapat mengaburkan makna sakramen-sakramen inisiasi tersebut. Hal ini memang telah berlangsung dalam waktu lama dan tampaknya sulit untuk mengubah kebiasaan urutan yang keliru ini. Kebiasaan ini timbul karena adanya �kesalahan teologis� yang memandang Sakramen Krisma sebagai sakramen yang menunjukkan kedewasaan seorang Katolik. Tetapi, seorang uskup dapat berperan untuk mengubah kebiasaan ini dengan menginstruksikan penerimaan sakramen-sakramen inisiasi dalam urutan yang benar di wilayah keuskupannya.

Baru-baru ini di Uskup Samuel Aquila dari Keuskupan Fargo di AmerikaSerikat menerima pujian dari Paus Benediktus XVI karena mengembalikan penerimaan sakramen-sakramen inisiasi di wilayah keuskupannya seturut urutan misteri sakramental yang benar. Ketimbang memposisikan Sakramen Krisma dalam urutan ketiga dan diberikan pada usia dewasa, Uskup Aquila memilih menginstruksikan agar anak-anak yang telah menerima Sakramen pembaptisan diberikan Sakramen Penguatan terlebih dahulu ketimbang Sakramen Ekaristi.

Uskup Aquila melakukan usaha ini karena hendak menegaskan Sakramen Ekaristi sebagai sakramen yang melengkapi inisiasi Kristen dan Sakramen Krisma sebagai sakramen yang melengkapi sakramen pembaptisan. Menurut Beliau, penerimaan sakramen-sakramen inisiasi dalam urutan yang tepat akan memperjelas bahwa Pembaptisan dan Penguatan membawa umat beriman kepada Ekaristi.

Sebuah pertanyaan menarik dapat kita ajukan, apakah hierarki Gereja Katolik di Indonesia mau dan bersedia mengubah kebiasaan penerimaan sakramen-sakramen inisiasi yang keliru selama ini dan mengembalikannya seturut urutan misteri sakramental yang diajarkan Gereja Universal?

Artikel ini ditulis oleh Indonesian Papist untuk mendukung usaha restorasi pemberian sakramen-sakramen inisiasi dalam urutan yang benar. Pax et Bonum

Tuesday, July 12, 2011

Mengklarifikasi Kebingungan mengenai [Sakramen] Penguatan oleh Msgr. Charles Pope


Mengklarifikasi Kebingungan mengenai [Sakramen] Penguatan
Oleh: Msgr. Charles Pope

Seseorang pernah berkata bahwa Penguatan adalah Sakramen dalam pencarian sebuah teologi (Sacrament in search of theology). Meskipun tidak benar pernyataan itu, [saya] menangkap bahwa ada banyak pengajaran keliru dan terkadang konyol mengenai sakramen kepada orang-orang muda ini. [Saat] ini adalah masa bagi [penerimaan] Penguatan dan saya hendak mengekplorasi apa yang Katekismus ajarkan mengenai sakramen [Penguatan] tetapi pertama-tama [saya] mengecualikan gagasan umum namun tidak tepat mengenai Penguatan.

1. Penguatan bukanlah Sakramen Kedewasaan -  Kitab Hukum Kanonik (891) menyatakan bahwa Penguatan hendaknya diberikan pada sekitar usia dapat menggunakan akal, di mana usia tersebut dipahami [adalah] tujuh tahun (KHK 97;2). Penguatan dapat diberikan lebih awal bila ada �bahaya kematian� atau �alasan berat�. Kanon yang sama mengizinkan Konferensi Para Uskup untuk menentukan usia lain bagi penerimaan sakramen. Meskipun seseorang dapat berargumen bahwa usia lebih tua bagi sakramen disarankan secara pastoral (misalnya untuk menjaga orang-orang muda terikat pada instruksi katekisasi), seseorang tidak bisa beragumen bahwa Penguatan adalah sebuah Sakramen Kedewasaan ketika hukum Gereja mengandaikan perayaannya pada usia tujuh tahun. Hal ini diperjelas dengan fakta bahwa sebagian besar Gereja-gereja [Katolik] Timur dan Ortodoks memberi Penguatan pada kanak-kanak.

2. Penguatan bukanlah �menjadi seorang dewasa di dalam Gereja.� - Ini hanya kekonyolan sederhana. Saya diajari hal ini saat kelas tujuh dan [saya] menemukan hal ini bahkan kemudian menggelikan. [anak-anak] tujuh tahun bukanlah orang-orang dewasa. Mereka adalah anak-anak dan tetap begitu sekalipun setelah Penguatan.

3. Penguatan bukanlah sebuah sakramen dimana seseorang mengklaim atau menegaskan iman dirinya sendiri � Pembabtisan memberi iman. Untuk mengklaim bahwa Penguatan "membiarkan aku untuk berbicara kepada diriku sendiri" adalah menyatakan secara tidak langsung bahwa babtisan entah bagaimana, sebenarnya tidak memberikan iman yang sesungguhnya dan sekarang saya mendapatkannya dengan "berbicara kepada diri saya sendiri". Iman adalah anugerah, ini bukanlah sesuatu yang saya dapatkan dari berbicara kepada diri saya sendiri, ini sesuatu yang saya terima sebagai ketidakpantasan dan dengan bebas. Saya menerima iman pada saat dibabtis. Penguatan menguatkan iman yang sebenarnya sudah ada disana tetapi tidak menyebabkan hal itu. Lebih lanjut agak sedikit melebih-lebihkan untuk mengatakan bahwa tujuh atau delapan murid sesungguhnya "berbicara kepada dirinya sendiri".

4. Penguatan tidak �melengkapi Inisiasi Kristen� dan �membuat saya sepenuhnya Katolik.� � Salah satu dari masalah-masalah dengan penundaan Penguatan adalah bahwa tiga sakramen inisiasi dirayakan di luar urutan yang tepat. Urutan yang tepat dari perayaan adalah:  Pembabtisan, Penguatan dan Komuni Kudus. Oleh karena itu, adalah Komuni Kudus yang melengkapi inisiasi bukan penguatan. [Kenyataan] bahwa kita merayakannya keluar dari urutan [yang tepat] menyebabkan banyak kebingungan dan membuat inisiasi sedikit kabur. Ritus Inisiasi Kristen bagi orang-orang dewasa mengikuti urutan yang tepat. Beberapa keuskupan di negara ini (AS) telah kembali mengikuti [urutan] yang tepat ini bagi [perayaan sakramen] untuk anak-anak juga. Di sejumlah keuskupan yang saya ketahui, Uskup datang ke paroki dan menguatkan anak-anak usia tujuh tahun dan kemudian, pada Misa yang sama, memberi mereka Komuni Kudus Pertama.

Jadi apa itu Penguatan?

1. Penguatan adalah Pentakosta Pribadi orang Kristen � Katekismus Gereja Katolik berkata �Sakramen Penguatan menyebabkan curahan Roh Kudus dalam kelimpahan, seperti yang pernah dialami para Rasul pada hari Pentekosta.� (KGK 1302). Sebelum Pentakosta, Para Rasul takut, bingung, dan rahasiaan, berkumpul hanya di balik pintu-pintu yang terkunci. Tetapi, �Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.� (Kis 2:2-4) Perhatikan perubahan pada orang-orang ini! Mereka [dulu] merasa ketakutan dan kebingungan. Sekarang mereka berani, dengan gagah memproklamirkan Kristus dengan pengertian mendalam dan efektivitas begitu besar sehingga tiga ribu orang ditambahkan setiap hari kepada bilangan mereka. Hal ini adalah hal yang dapat terjadi ketika kita sungguh-sungguh berserah kepada daya kuasa Roh Kudus. Adalah di dalam Sakramen Penguatan bahwa kita dipanggil untuk mengalami pencurahan Roh Kudus untuk menguatkan kita bagi misi kita menyebarkan dan membela iman kita. The very word, Konfirmasi (Penguatan) berasal dari kata Confirma yang berarti untuk memperkuat.

2. Penguatan menguatkan dan mempercepat iman kita untuk bersaksi dan karya misi. � Rahmat (karunia) esensial Sakramen Penguatan adalah bahwa kita diperkuat diperlengkapi untuk karya misi. Dan apa misi itu? Lagi Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, Yesus Kristus telah menandai seorang Kristen dengan meterai Roh-Nya dan menganugerahkan kepadanya kekuatan dari atas, supaya ia menjadi saksi. (KGK 1304). Katekismus juga mengajarkan kita bagaimana sakramen [penguatan] menyempurnakan penguatan besar ini di dalam diri kita: Penguatan menyempurnakan rahmat Pembaptisan. Itu adalah Sakramen yang memberi Roh Kudus, supaya mengakarkan kita lebih kuat dalam persekutuan anak-anak Allah, menggabungkan kita lebih erat dengan Kristus, memperkuat hubungan kita dengan Gereja, membuat kita mengambil bagian yang lebih banyak dalam perutusannya, dan membantu kita, supaya memberi kesaksian iman Kristen dengan perkataan dan perbuatan.(KGK 1316)

Lihatlah juga bahwa sakramen ini memberikan kepada kita tidak hanya untuk kepentingan kita sendiri tetapi juga bagi dunia: �...diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman ..." (KGK 1285)

�Seorang penerima Penguatan yang telah mencapai usia yang dapat berpikir rasional, harus mengakui iman, berada dalam suasana rahmat, mempunyai maksud menerima Penguatan, dan harus siap menanggung tugasnya sebagai murid dan saksi Kristus dalam persekutuan Gereja dan dalam dunia.�KGK 1319

3. Akar-akar biblis sakramen [penguatan] � Yesus telah berjanji untuk mengutus Roh Kudus. Sebagai contoh Ia berkata,�
�Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. ... Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.� (Yoh 16:7,12,13)
Dia juga berkata kepada mereka, �Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.� (Kis 1:8) Dan lagi, �Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.� (Luk 24:49)

Dalam [beberapa] hari, sementara mereka berkumpul dalam doa, Roh Kudus turun atas mereka seperti lidah-lidah api (Lihat Kis 2:1-4). Para Rasul mulai berani menyatakan Injil sejak hari itu.
Mereka yang percaya pada khotbah apostolik dibabtis. Tetapi sebagai tambahan untuk pembabtisan, Para Rasul ini juga menumpangkan tangan kepada umat beriman sehingga mereka boleh menerima Roh Kudus. Terkadang hal ini dilakukan pada saat pembabtisan dan terkadang dilakukan kemudian. Perhatikan sebagai contoh dua teks ini.

Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. (Kis 8:14-17)
Teks ini menunjukkan beberapa pemisahan antara waktu pembabtisan dan waktu penguatan (Penerimaan Roh Kudus). Teks ini juga menerangkan tradisi Katolik kita pada umumnya mengenai pemesanan Sakramen bagi Uskup untuk merayakan karena, dalam Gereja Perdana, Para Rasul membuat hal ini menjadi bagian dari misi mereka untuk menumpangkan tangan bagi untuk pencurahan Roh Kudus. Filipus Sang Diakon telah melaksanakan pembabtisan di Samaria tetapi ia menunggu Para Rasul untuk menguatkan mereka dalam Roh.

Teks berikut ini menunjukkan Rasul Paulus membabtis. Karena dia, seorang Rasul yang hadir, tidak ada penundaan dalam menguatkan babtisan baru di dalam Roh.
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. (Kis 19:5-6)

Demikian kita melihat akar-akar biblis dari Sakramen Penguatan. Yesus menjanjikan Roh [Kudus] dan melakukannya secara nyata mengutus Dia (Roh Kudus) pada hari Pentakosta. Para Rasul memahami bahwa mereka tidak memelihara pengalaman ini untuk diri mereka sendiri. Jadi, seperti yang Katekismus ajarkan,
"Mulai dari saat ini para Rasul menyampaikan kepada mereka yang baru dibaptis, sesuai dengan kehendak Kristus, oleh peletakan tangan, karunia Roh demi penyempurnaan rahmat Pembaptisan. Dengan demikian, di dalam surat kepada umat Ibrani disebutkan di antara unsur-unsur pengajaran Kristen pertama adalah pengajaran mengenai Pembaptisan dan mengenai peletakan tangan. Peletakan tangan ini di dalam tradisi Katolik tepat sekali dipandang sebagai awal Sakramen Penguatan, yang melanjutkan rahmat Pentekosta di dalam Gereja atas satu cara tertentu" (KGK 1288)

4. Pentingnya Penguatan Kita � Lebih dari sebelumnya, kita perlu untuk mengambil kekuatan dari Allah yang diberikan dalam Sakramen ini dengan serius. Terlalu sering banyak orang Katolik terhalang oleh ketakutan dan kebingungan untuk menyatakan Injil ke dunia. Hal ini tidak perlu seperti itu. Ada terlalu banyak yang perlu dilakukan dalam menyatakan Kerajaan [Allah].   Kita harus berbicara dengan berani untuk Kristus dan mewartakan keselamatan-Nya dari hari ke hari.
Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. (2 Tim 1:7-8)

Dan karunia ini tidak hanya untuk beberapa [orang]; setiap anggota kaum beriman dipanggil untuk menerima pencurahan spesial Roh Kudus.
Kita memiliki sebuah misi untuk mewartakan Injil dalam persatuan dengan Gereja melalui apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan. Adalah sungguh tragis bahwa begitu banyak orang telah melihat kecocokan untuk meninggalkan tugas penting ini kepada orang lain (misalnya Misionaris). Ada sebuah pepatah benar yang menyedihkan: �Kejahatan berjaya ketika kebenaran tetap diam.� Bukankah ini yang telah terjadi pada masa kita? Bagaimana bisa sebuah negara dengan begitu banyak orang Kristen hidup ditengahnya mengalami kebingungan dan kehilangan domba? Jika Para Rasul dapat begitu diubah oleh Roh Kudus untuk misi mereka, kita pun juga bisa. Kita dipanggil untuk mewartakan iman itu yang diteruskan dari Para Rasul kepada keluarga kita, teman-teman kita, rekan kerja kita dan sesama kita. Dan kita harus melakukannya di musim dan di luar musim (artinya terus menerus, kapanpun dimanapun). Dalam Penguatan kita, Kristus menyatukan kita dengan lebih teguh kepada Diri-Nya sendiri dan Gereja-Nya, menambahkan karunia Roh Kudus di dalam diri kita dan memberi kita kekuatan spesial untuk menghidupi kehidupan kudus dan untuk mewartakan dan membela iman (lihat KGK 1303). Adalah terutama di dalam Penguatan, bahwa Kristus menumpangkan tangan-Nya di atas kita untuk menguatkan kita bagi misi evangelisasi ini. Tugas tersebut mungkin terlihat menakutkan, tapi inilah tepatnya mengapa Kristus sendiri menguatkan kita sehingga kita dapat dengan benar berkata :
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.� (Fil 4:13)


Msgr. Charles Pope adalah Pastor Paroki Holy Comforter St. Cyprian di Washington DC. Facebook: Msgr Charles Pope

Pax et Bonum

Recent Post