Latest News

Showing posts with label Bapa Gereja. Show all posts
Showing posts with label Bapa Gereja. Show all posts

Thursday, November 14, 2013

Pemerintah China Sambut Baik Peran Pelayanan Sosial Gereja

Pemerintah China Sambut Baik Peran Pelayanan Sosial Gereja


Pemerintah China menyambut baik peran gereja dalam memberikan pelayanan sosial bagi masyarakat. Rencananya, pemerintah China bakal memberi kepercayaan bagi gereja untuk terlibat di bidang ekonomi dan politik.

"Pemerintah menyambut baik dukungan gereja. Kita kekurangan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan, jadi kita memerlukan peranan gereja dalam hal itu," kata pejabat pemerintah Wang Xinhua dalam Konferensi Shanghai yang bertajuk "Peran Kristen di China" yang digelar pekan lalu.

Ia menyampaikan bahwa kondisi sektor amal Negeri tirai bambu ini sedang mengalami krisis kepercayaan akibat skandal korupsi. Sehingga gereja diminta untuk ambil bagian dalam pelayanan sosialnya.

"Banyak masalah timbul akibat ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan, kesenjangan sosial antara kaya dan miskin karena kesalahan manajemen sumber daya, korupsi dan suap," tutur Profesor Choong Chee Pang, seorang pemimpin akademi salah satu Universitas di China.

Ia menegaskan bahwa gereja sangat diperlukan untuk menangani kondisi sosial di China khususnya bagi kalangan lanjut usia dan masyarakat miskin. "Gereja perlu menjadi nabi dan hamba," ujarnya.

Dalam hal ini gereja berfokus dalam penanganan medis bagi lanjut usia, pencegahan dan rehabilitasi narkoba serta HIV bagi kaum muda. Tak dapat disangkali bahwa kehadiran gereja selama 40 tahun di China sangat berdampak. Termasuk dalam penanganan gempa bumi di Shicuan pada tahun 2008. Gereja berkontribusi menyumbangkan tenaga medis terhadap korban.

Menabur kasih tanpa jemu-jemu akan menghasilkan buah manis yang dirasakan oleh banyak orang. Demikianlah peranan gereja yang seharusnya baik bagi gereja, masyarakat dan bangsa.

Source : jawaban.com

Thursday, August 9, 2012

Pray, Pray, and Pray


"If you then, being evil, know how to give good gifts to your children, how much more shall your Father which is in heaven give good things to them that ask him?' (Mt. 7:11). He says good things, because God does not give all things to them that ask Him, but only good things." (St. Thomas Aquinas, Doctor of the Church)

"Above all I recommend to you always, recollection, that holy solitude, that inner sacred desert in which your soul ought always to be alone in the bosom of the heavenly Father, in the silence of faith and holy love." (St. Paul of the Cross)


"If He who was without sin prayed, how much more ought sinners to pray?" (St. Cyprian of Carthage)

"Do nothing at all unless you begin with prayer." (St. Ephraem the Syrian, Doctor of the Church)

"May prayer be our refuge in every necessity, and penance our safeguard against sin." (Gueranger)

"Pray, pray, pray; prayer is the key to the treasures of God. It is the weapon of combat and of victory in every battle for good over evil." (Pope Pius XII)

"The more a man is deficient in wisdom, weak in strength, borne down with trouble, prone to sin, so ought he the more to fly to Him who is the never-ceasing fount of light, strength, consolation, and holiness." (Pope Leo XIII, "Divinum Illud Munus", 1897)

"The spiritual life, however, is not limited solely to participation in the liturgy. The Christian is indeed called to pray with others, but he must also enter into his bedroom to pray to his Father in secret; furthermore, according to the teaching of the apostle, he must pray without ceasing." (Second Vatican Council)

"Redouble your prayers so that God might be with you in a greater abundance of grace, fighting and triumphing with you. Accompany your prayers with the practice of the Christian virtues, especially charity toward the needy. Seek God's mercies with humility and perseverance, renewing every day the promises of your baptism." (Pope Leo XIII, "Custodi Di Quella Fede", 1892)

"We beseech all again and again not to yield to the deceits of the old enemy, nor for any cause whatsoever to cease from the duty of prayer. Let their prayers be persevering, let them pray without intermission; let their first care be to supplicate for the sovereign good - the eternal salvation of the whole world, and the safety of the Church. Then they may ask from God other benefits for the use and comfort of life, returning thanks always, whether their desires are granted or refused, as to a most indulgent father. Finally, may they converse with God with the greatest piety and devotion according to the example of the Saints, and that of our Most Holy Master and Redeemer, with great cries and tears." (Pope Leo XIII, "Octobri Mense", 1891)

Tuesday, November 1, 2011

Paus Benediktus XVI Mengenai St. Hieronimus: Cinta pada Kitab Suci dan Taat pada Gereja


Pada tanggal 14 November 2007, Paus Benediktus XVI memberikan audiensi umum yang kedua mengenai St. Hieronimus. Dalam artikel ini, saya mengangkat bagian dari audiensi Bapa Suci yang berbicara mengenai Kecintaan St. Hieronimus terhadap Kitab Suci dan Ketaatannya kepada Gereja.

Cinta penuh gairah akan Kitab Suci oleh karena itu meresap ke seluruh hidup Hieronimus, sebuah cinta yang selalu ia cari untuk diperdalam pada orang beriman. Kepada salah seorang puteri rohaninya, ia menganjurkan, �Cintailah Kitab Suci, dan kebijaksanaan akan mencintai Engkau; cintailah dia dengan mesra, dan ia akan menjaga engkau; hormatilah dia, dan engkau akan dibelai olehnya. Semoga bagimu ia menjadi seperti kalung dan anting-anting�1 Dan lagi, �Cintailah ilmu tentang Kitab Suci dan engkau tidak akan mencintai sifat-sifat daging yang buruk.�2


Bagi Hieronimus, kriteria fundamental dalam menafsirkan Kitab Suci adalah keharmonisan dengan Magisterium (Kuasa Mengajar) Gereja. Kita tidak pernah dapat membaca Kitab Suci seorang diri karena kita akan menemukan terlalu banyak pintu tertutup dan akan terlalu mudah tergelincir ke dalam kesesatan.


Kitab Suci telah ditulis oleh umat Allah, untuk umat Allah, di bawah ilham Roh Kudus. Hanya dalam persatuan dengan umat Allah, kita dapat benar-benar masuk ke dalam �kita� itu, sampai ke dalam nukleus kebenaran yang mau diungkapkan Allah sendiri kepada kita.


Bagi Hieronimus, penafsiran Kitab Suci yang otentik selalu harus dalam keserasian yang harmonis dengan iman Gereja Katolik. Di situ tak ada sesuatu eksegese dari luar yang dipaksakan pada Kitab Suci. Kitab Suci itu benar-benar merupakan suara Umat Allah yang berziarah, dan hanya dalam iman Umat Allah ini dapat dikatakan bahwa kita telah menemukan gelombang yang tepat untuk memahami Kitab Suci.


Dengan tujuan ini, Hieronimus memperingatkan, �Tetaplah berpegang kuat pada ajaran tradisional yang telah diajarkan kepadamu agar kamu dapat mengajar sesuai dengan ajaran yang benar dan menolak mereka yang membantahnya.�3


Khususnya, karena Yesus telah mendirikan Gereja-Nya atas diri Petrus, setiap orang Kristiani, demikian kesimpulannya, harus tetap berada dalam persekutuan dengan Tahta St. Petrus. "Aku tahu bahwa  di atas batu karang ini Gereja telah didirikan.�4 Maka secara konsekuen ia menyatakan tanpa kompromi, �Aku bersama dengan siapa saja yang bersatu dengan ajaran Tahta St. Petrus.�5

[1] Epistle of St. Jerome 130,20
[2] Epistle of St. Jerome 125,11
[3] Epistle of St. Jerome 52,7
[4] Epistle of St. Jerome 15,2
[5] Epistle of St. Jerome 16

Pax et Bonum.

Monday, October 3, 2011

Santo Efrem dari Syria mengenai Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria

St. Efrem orang Syria

Santo Efrem orang Syria (St. Ephraim the Syrian) adalah salah seorang Bapa Gereja Timur yang berkarya di wilayah Persia (sekarang Iran). Ia lahir di Nisibis pada tahun 306 M dari keluarga Kristiani. Ia wafat di Edessa pada tahun 373 M  akibat penyakit pes.

Bersama Bapa Gereja Syria lain yaitu, Afrahat, St. Efrem menjadi Bapa Gereja terkemuka dari kalangan orang-orang Kristiani berbahasa Syria. St. Efrem sendiri adalah salah seorang Bapa Gereja Timur yang dengan cara unik mampu menggabungkan panggilan sebagai seorang teolog dan panggilan sebagai seorang penyair. Berikut ini adalah terjemahan bebas dari salah satu himnenya mengenai Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria.

Sang Tuhan datang ke dalam ia (Maria) dan menjadi hamba. Sang Sabda datang ke dalam ia dan membisu di dalam ia. Sang Petir datang ke dalam ia dan tidak bersuara. Sang Gembala segalanya datang ke dalam ia, menjadi Anak Domba di dalam ia dan keluar sambil menangis.

Rahim Ibu Maria mengubah peranan-peranan. Oh, Pengatur segalanya masuk kaya tapi lahir miskin. Sang Mahaagung masuk ke dalam ia, IA datang dengan rendah hati. Cahaya masuk ke dalam ia, namun dibungkus lampin hina.
IA yang memberi makan segala sesuatu mengenal rasa lapar. IA yang memuaskan segala dahaga mengenal kehausan. Telanjang dan tak berdaya. IA lahir daripada ia, IA yang mendandani segala sesuatu. (Ephraim, Hymn De Nativitate 11:6-8)
Pax et Bonum

Paus Benediktus XVI, St. Siprianus dari Kartago dan Extra Ecclesiam Nulla Salus

St. Siprianus

Dalam Audiensi Umum tanggal 6 Juni 2007, Bapa Suci Benediktus XVI berbicara mengenai salah seorang Bapa Gereja abad ke-3 yang sangat terkenal akan keteguhan imannya dan kesetiaannya pada Gereja Katolik. Bapa Gereja itu adalah Santo Siprianus dari Kartago. St. Siprianus dari Kartago ini adalah Uskup Afrika pertama yang mendapatkan mahkota kemartiran. Pada artikel kali ini, saya mengangkat pembicaraan Bapa Suci Benediktus XVI mengenai St. Siprianus berkaitan dengan pengajaran Sang Santo mengenai Gereja dan Extra Ecclesiam Nulla Salus. Perlu diketahui sebelumnya, kalimat yang terkenal "Extra Ecclesiam Nulla Salus" ini pertama kali diucapkan secara eksplisit oleh St. Siprianus sekalipun pengajaran ini sudah ada sejak awal Gereja berdiri. Mari kita baca pernyataan Bapa Suci Benediktus XVI berikut ini:


Sungguh, Gereja adalah subyek pembicaraan yang paling dia (St. Siprianus) sukai. Ia membedakan antara Gereja yang tampak, hierarkis dengan Gereja yang tidak tampak, mistik. Tetapi ia menegaskan dengan keras bahwa hanya ada Satu Gereja, [Gereja] yang didirikan di atas Petrus.


Dengan tak pernah lelah diulanginya bahwa, �orang yang meninggalkan Tahta Petrus, yang di atasnya Gereja telah dibangun, menipu diri kalau mengira mereka masih di dalam Gereja.�1

Siprianus tahu betul bahwa �Di Luar Gereja tidak ada keselamatan� dan mengungkapkannya dengan kata-kata yang tegas.2 Ia juga tahu bahwa �tak seorang pun dapat mempunyai Allah sebagai Bapa kalau tidak mempunyai Gereja sebagai Ibu�3

Suatu ciri Gereja yang mutlak perlu adalah kesatuan, yang dilambangkan oleh Jubah Kristus yang tidak berjahit.4 Menurut Siprianus, kesatuan itu berdasarkan Petrus5 dan diwujudkan dengan sempurna dalam Ekaristi.6

�Allah adalah satu, dan Kristus adalah satu, dan iman adalah satu dan ada satu umat Kristiani yang dipersatukan dengan kokoh oleh semen kerukunan. Persatuan tidak dapat diputuskan. Dan apa yang karena kodratnya adalah satu tidak dapat dipisahkan.�7

[1] De Unitate 4.
[2] Epistula 4,4 dan 73,21
[3] De Unitate 6.
[4] De Unitate 7.
[5] De Unitate 4.
[6] Epistula 63,13
[7] De Unitate 23

Pax et Bonum

Saturday, September 24, 2011

St. Yohanes Dari Damaskus Mengenai Islam

St. John of Damascus


St. Yohanes Damaskus adalah seorang saksi yang sangat penting atas permulaan [agama] Islam. Dia dilahirkan kepada sebuah keluarga yang berkedudukan di Damaskus (kakeknya merupakan seorang administrator kota ketika para Muslim merebut kota itu) dan dia tumbuh dan bekerja di pengadilan sang kalifah. Dia sangat mengenal Islam (sebuah nama yang pada saat itu belum dipunyai [ie. agama Islam dulu tidak disebut Islam, tidak ada sebutannya]), dan karenanya apa yang dikatakan {St. Yohanes Damaskus) tentang [Islam], dan konteks dimana dia menempatkannya, adalah sesuatu yang sangat penting [dalam bidang] sejarah. [Sebagai misal], [tulisan ini] adalah satu bab tersendiri dalam karyanya di On Heresies [Mengenai Bidaah], bagian dari karyanya yang lebih besar, The Fountain of Knowledge (Mata Air Pengetahuan). Karenanya, selama hidupnya, St. Yohanes [Damaskus] masih tidak memandang Islam sebagai sebuah agama yang terpisah, namun sebagai sebuah bidaah Kristen. In any case, dia menyebut beberapa surat dari Quran menurut nama-namanya, dan dengan sangat menarik, mengacu kepada satu [surat dari Quran] yang tidak ada lagi. St. Yohanes [Damaskus], di karya ini, sebagaimana karakternya, menahan tidak satupun tinjunya (perkataan di USA yang artinya tidak berkasihan).


~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~

Dan ada juga yang muncul sampai sekarang sebuah takhyul yang kuat dan menipu-orang dari para Ishmaelites, yang merupakan calon Antikristus. Dan [takhyul] ini lahir dari Ismael, yang lahir dari Hagar bagi Abraham, karena itu merekadipanggil Hagarenes dan Ishmaelites. Dan mereka memangilnya Saracens, yang berasal dari Sa??a? ?e??? (mereka yang kosong dari Sarah), karena apa yang dikatakan oleh Hagar kepada malaikat: "sarah telah mengusirku kosong." Dengan begitu, mereka [ie. Saracens] ini adalah pemuja berhala dan menghormati bintang pagi dan Aphrodite, yang mereka namai Khabar dalam bahasa mereka, yang artinya �agung.� Karenanya, sampai masa Heraclius, mereka hanyalah pemuja berhala. Sejak dari msa itu sampai sekarang datang diantara mereka seorang nabi palsu bernama Mamed, yang, setelah mengerti Perjanjian ama dan Baru, sepertinya, setelah berbincang dengan seorang Rahib Arian, dia [ie. Mamed] menyusunsendiri bidaahnya. Dan atas kesalehan sebagai sebuah pretext, menarik (?) orang-orang, dia melaporkan bahwa sebuah buku dikirimkan kepadanya dari Surga oleh Alah. Karenanya beberapa komposisi yang ditulisnya di sebuah buku, yang layak ditertawakan, yang dia serahkan kepada mereka [ie. Saracens] sebagai obyek untuk dihormati.

Dia [ie. Mamed] berkata bahwa ada satu Alah, Pencipta semua hal, yang tidak dilahirkan atau melahirkan. Dia berkata [bahwa] Kristus adalah Firman Allah dan RohNya, hanya sebuah ciptaan dan hamba, dan bahwa dia [ie. Kristus] dilahirkan tanpa bibit dari Maria saudara dari Musa dan Harun. Dia berkata bahwa Firman Allah dan sang Roh masuk ke dalam Maria dan dia melahirkan Yesus yang adalah seorang nabi dan hamba Allah. Dan bahwa para Yahudi, [yang] bertindak melawan hukum [Taurat], ingin menyalibkan dia [ie. Yesus] dan setelah menangkapnya, mereka menyalibkan bayangannya. Sebab Kristus sendiri, kata mereka, tidak disalib ataupun mati, karena Allah membawa dia kepada diriNya kedalam Surga karena Dia mencintaiNya.
Dan dia mengatakan ini, bahwa ketika Kristus naik ke Surga, Allah menanyainya, berkata, "Oh Yesus, apakah engkau berkata bahwa 'Aku adalah Putra Allah dan Allah?'Dan Yesus, kata mereka, menjawab, "Kasihanilah aku, Oh Tuhan; engkau tahu bahwa aku tidak mengatakan(nya), ataupun aku begitu membanggakan [diri] sebagai hambamu, tapi orang-orang telah berbalik dan menulis bahwa aku mengatakan perkataan ini dan berbohong mengenai aku, dan bertanya-tanya." Dan Allah, kata mereka, menjawabnya, "Aku tahu bahwa engkau tidak mengatakan perkataan ini." Dan banyak lagi perkataan-perkataan mengejutkan di tulisan yang sama, layak ditertawakan, [yang] dia [ie. Mamed] sombongkan telah dikirim Allah baginya.

Tapi kita berkata, "Dan siapa saksi bahwa Allah memberi tulisan kepadanya [ie. Mamed], atau nabi-nabi mana yang menubuatkan bahwa nabi seperti itu [ie. Mamed] akan muncul?" Dan mereka kehilangan kata-kata, karena Musa di Gunung Sinai menerima, dihadapan pandangan semua orang, Hukum Allah yang muncul dalam awan dan api dan kegelapan dan badai. Dan bahwa semua nabi-nabi, dari Musa dan seterusnya, menubuatkan kedatangan Kristus, dan bahwa Kristus adalah Allah, dan Putra Allah, sebagai daging, akan datang, dan akan disalib, dan akan mati, dan akan bangkit kembali, dan dia akan menghakimi yang hidup dan mati. Dan kita berkata, "Kenapa nabimu tidak datang dengan cara seperti ini, dengan orang-orang lain bersaksi mengenai dia, ataupun datang kepadamu sebagaimana Allah memberikan Hukum [Taurat] kepada Musa diatas sebuah gunung berasab dengan semua orang menyaksikan, dan seperti yang kau klaim, memberikan buku ini [ie. Quran], sehingga engkau juga bisa memiliki kepastian?" Mereka menjawab bahwa Allah bertindak seturut kehendakNya. Kita juga tahu ini, kita berkata. Tapi, kita bertanya, bagaimana tulisan itu turun kepada nabimu? Dan mereka menjawab bahwa sementara dia [ie. Mamed] tidur, dan tidak merasakan aktivitas apapun, karena dia [ie. Mamed] terpenuhilah perkataan populer ("Kau memutari aku mimpi-mimpi").

Sekali lagi kami bertanya, "Kenapa, ketika dia memerintahkan kita [ie. umat manusia] di tulisanmu [ie. Quran] untuk tidak melakukan apapun atau menerima apapun tanpa saksi-saksi, tidakkah kamu menanyakan kepadanya 'Pertama-tama engkau tunjukkan melalui saksi-saksi apakah engkau ini adalah seorang nabi, dan bahwa engkau datang dari Allah, dan Kitab Suci mana yang berkesaksian atas engkau?'" Mereka diam, merasa malu. Kepada mereka kita berkata, "[Sikap diam itu punya] alasan yang baik! Karena tidaklah diijinkan bagimu untuk menikahi seorang wanita tanpa saksi-saksi, ataupun untuk membeli, ataupun untuk memiliki barang-barang kepemilikan (?), ataupun kamu mengijinkan dirimu sendiri untuk memiliki seekor keledai atau seekor binatang tanpa disaksikan saksi. Karena kamu memang mempunyai istri-istri, dan barang-berang kepemilikan, dan keledai-keledai, dan semuanya melalui saksi-saksi, dan engkau hanya memiliki sebuah iman [ie. iman Islam] dan sebuah tulisan [ie. Quran] yang tak disaksikan saksi-saksi.. Karena dia yang menyerahkan ini kepadamu tidak memiliki jaminan, ataupun saksi-saksi sebelum dia [berkesaksian atasnya], tapi dia meneriman ini ketika tidur."

Dan mereka [ie. pengikut Mamed] memanggil kita Associators [catatan DeusVult: ini mungkin maksudnya "musryikin" atau "penyekutu"], karena, kata mereka, kita [ie. umat Kristen] memperkenalkan seorang associate [ie. sekutu] pada Allah dengan mengatakan bahwa Kristus adalah Putra Allah dan Allah. Kepada mereka kita berkata bahwa inilah apa yang disampaikan oleh Nabi-Nabi dan Kitab Suci. Dan kamu, dengan ngotot, menerima Nabi-Nabi tersebut. Karenanya, bila kita salah dalam mengatakan bahwa Kristus adalah Putra Allah, [maka] mereka yang mengajarkan dan menyampaikan pada kita, juga salah. Dan beberapa dari mereka [ie. pengikut Mamed] juga berkata bahwa kita meng-allegori-kan [tulisan] para Nabi, memasukkan [perkataan-perkataan] kepada mereka [ie. para Nabi]. Beberapa berkata bahwa orang Ibrani, membenci (kita [ie. orang Kristen]), [dan karenanya] menipu kita, dengan menulis [sesuatu yang tidak berasal dari Nabi-Nabi, sebagai sesuatu yang] berasal dari Nabi-Nabi, sehingga kita [ie. umat Kristen] menjadi hancur.

Dan sekali lagi kita berkata kepada mereka, "Kamu berkata bahwa Kristus adalah Firman Allah dan Roh. Kalau begitu bagaimana [mungkin] kamu menegur kami sebagai 'Associators' [ie. 'penyekutu']? Karena Firman dan Roh masing-masing tidak terpisahkan dari Dia [dan] didalamNya mereka [ie. Firman dan Roh] dilahirkan. Karenanya, kalau di dalam Allah adalah FirmanNya, adalah jelas bahwa dia juga adalah Alah. Tapi kalau dia berada diluar Allah, seperti menurut kamu, [berarti] Allah irasional (a?????) dan tak berkehidupan (ap????). Karenanya, untuk menghindari asosiasi [ie. penyekutuan] dengan Allah, kamu telah memotongNya. Tapi akan lebih baik bagimu untuk mengatakan bahwa Dia punya sekutu daripada memotongNya, dan mewakilkan Dia seperti sebuah batu, atau kayu, atau benda-benda tak bernyawa lain. Maka, memang, [dengan] menuduh kita [ie. umat Kristen] denmgan keliru, kamu memanggil kami 'Associators' [ie. 'penyekutu']. Tapi kami memanggilmu 'mutilator Allah.'"

Mereka juga menuduh kita sebagai penyembah berhala karena menghormati Salib, yang mereka jijiki. Dan kita berkata kepada mereka, "Kenapa, memangnya, kamu menggosokkan dirimu pada sebuah batu di Khabatan-mu, dan suka mencium batu?" Dan beberapa dari mereka berkata bahwa Abraham mempunyai hubungan [suami-istri] dengan Hagar diatasnya, dan yang lain [mengatakan] bahwa dia [ie. Abraham] mengikat unta disekelilingnya ketika [Abraham] hendak mengorbankan Ishak. Dan kami menjawab kepada mereka, "Kitab Suci berkata bahwa ada sebuah gunung seperti sekumpulan pohon, dan kayu-kayu yang dari situ Abraham memotongnya untuk korban bakaran yang nantinya dia letakkan [dengan] Ishak, dan dia meninggalkan keledainya dengan hamba-hamba[nya]. Karenanya, dari sumber mana perkataanmu yang bodoh [itu]? Karena tidak ada kayu hutan yang ada di tempat itu [ie. Khabatan], atau perjalanan dengan keledai-keledai [catatan DeusVult: mungkin maksudnya didaerah Khabatan tidak bisa dijangkau dengan keledai]." Mereka memang malu [atas argumen tersebut]. Namun, mereka berkata bahwa batu itu berasal dari Abraham. Lalu kami [ie. umat Kristen] berkata, "Kalau [batu itu] berasal dari Abraham, seperti yang dengan bodoh kamu katakan, lalu apakah kamu tidak malu, mencium benda ini hanya karena Abraham berhubungan [suami-istri] dengan seorang wanita diatasnya, atau [hanya karena] dia mengikat seekor unta? Tapi kamu menegur kami [ie. umat Kristen] karena kami menunjukkan penghormatan kepada salib Kristus yang melaluinya kekuatan iblis dan tipuan sang Pendakwa [ie. Setan] dihancurkan?" Dan benda ini yang mereka katakan adalah sebuah batu adalah Aphrodite yang mereka hormati, yang juga mereka sebut Khabar, diamana diatasnya bahkan sampai sekarang bayangan sebuah ukiran masih muncul bagi pemerhati yang teliti [catatan DeusVult: mungkin maksudnya tulisan "Aphrodite" atau yang berkenaan dengannya masih ada secara samar di Khabar].

Seperti yang kita telah katakan, Mamed ini menulis banyak perkataan-perkataan bodoh, an dia memberikan masing-masing [tulisan itu] sebuah judul, seperti tulisan "Sang Wanita [ie. Al-Neesa, surat keempat di Quran]," dimana dia dengan gamblang meng-undang-undangkan (bagi laki-laki) untuk mengambil empat istri dan seribu selir jika dia mampu, sebanyak apapun [si laki-laki] ingin miliki, diluar empat istri tersebut. Dan dia [ie. Mamed] men-sah-kan peerceraian yang manapun yang dia [ie. Mamed] inginkan, atau kalau dia [ie. Mamed] ingin, juga mengambil [istri] orang lain, atas alasan [sebagai berikut]: Mamed mempunyai seorang sahabat bernama Ze�d. [Sahabat] ini mempunyai seorang istri yang cantik, yang dicintai Mamed. Karenanya, ketika mereka duduk bersama [ie. Mamed dan Ze�d], Mamed berkata, "Oh, sambil lalu, Allah memerintahkanku untuk mengambil istrimu." Atau, supaya kita bisa menceritakannya dari awal-awalnya, dia [Mamed] berkata kepadanya [ie. Ze�d], "Allah telah memerintahkan kepadaku, bagi engkau untuk menceraikan istrimu" Dan dia [ie. Ze�d] bercerai. Dan setelah beberapa hari, dia [ie. Mamed] berkata, "Tapi Allah telah memerintahkanku bahwa aku juga mengambilnya [ie. istri Ze�d]." Lalu dia mengambil(nya) dan melakukan perzinahan dengannya (dan) membuat hukum ini: "Dia yang berkehendak boleh menceraikan istrinya, tapi jika setelah perceraian, dia [ie. si suami] ingin kembali kepadanya [ie. si istri], orang lain harus menikahinya [si istri]; karena tidaklah diijinkan untuk mengambil[nya kembali] kalau dia belum dinikahkan dengan orang lain. Dan bahkan jika seorang saudara mencerai [istrinya], biarlah saudaranya menikahi [istri yang dicerai saudaranya tersebut], kalau dia berkehendak." Dan didalam tulisan yang sama, dia menyampaikan pesan ini: "Garaplah tanah yang telah diberikan Allah kepadamu, dan perindah [tanah itu]" dan [Mamed juga mengatakan untuk] lakukan ini, dan dengan cara ini�supaya aku [ie. penulis, St. Yohanes Damaskus] tidak mengatakan semua hal-hal yang kotor yang dilakukannya.

Kemudian lagi, ada tulisan Unta Allah [Camel of God], yang tentangnya dia [ie. Mamed] berkata bahwa dulu ada seekor Unta dari Allah, dan dia ["she," betina] meminum satu sungai utuh, dan dia [ie. Unta betina itu] tidak dapat lewat diantara dua gunung yang mana dia tidak cukup [untuk melewatinya]. Karenanya, dia [ie. Mamed] berkata, sekumpulan orang dulu berada dalam posisi seperti itu, dan memang pada suatu hari mereka akan meminum air dan Unta itu berikutnya. Dan sementara meminum air, dia [ie. si Unta betina] memelihara (?) orang-orang itu dengan menyediakan susu, bukannya air. Karenanya orang-orang itu, karena [mereka] fasik, bangkit, kata dia [ie. Mamed], dan membunuh Unta itu. Tapi ada Unta kecil yang merupakan keturunannya [ie. si Unta betina] yang, kata dia [ie. Mamed], ketika induknya dibereskan [ie. dibunuh], berteriak kepada Allah, dan Dia mengambilnya [ie. si Unta kecil]. Kepada mereka [ie. pengikut Mamed] kita berkata, "Darimana Unta [betina] itu?" Dan mereka berkata bahwa Unta [betina] itu berasal dari Allah. Dan kita berkata, "Apakah ada yang lain yang menggauli Unta [betina] ini?" Dan mereka berkata, "Tidak." Kita berkata, "Karenanya, bagaimana dia [ie. si Unta betina] melahirkan? Karena kami lihat Untamu tanpa bapak, tanpa ibu, tanpa ada garis keturunan. Dan setelah melahirkan, dia [ie. si Unta betina] menderita [perlakuan] jahat. Tapi tidak ada si peng-gaul [ie. yang meng-gauli si Unta betina itu] muncul, dan si Unta kecil diambil keatas [oleh Allah]. Karenanya, kenapa nabimu, kepada siapa Allah berbicara, sesuai perkataanmu, tidak mencari tahu mengenai Unta itu: dimana dia [si Unta kecil yang jenis kelaminnya ternyata betina] merumput, dan apakah ada yang meminum susu (?) dengan memerah dari dia ini? Atau tidakkah dia pada satu waktu, seperti induknya yang menemui orang fasik, dihancurkan? Ataukah dia masuk ke Firdaus, sebagai pendahulu-mu, [dan] dari [susu] dialah, sungaimu [yang] kamu katakan dengan bodoh itu [menjadi berisikan] susu? Karena kamu mengatakan tiga sungai mengalir bagimu di Firdaus: berisi air, anggur dan susu. Kalau Unta pendahulumu berada diluar Firdaus, jelaslah bahwa dia telah kering karena kelaparan dan kehausan, atau karena yang lain menikmati susunya. Dan nabimu menyombongkan dengan bodoh telah berbicara kepada Allah, karena misteri Unta tidak diwahyukan kepadanya. Dan kalau dia [si Unta betina kecil] di Firdaus, dia lagi-lagi meminum air, dan [Firdaus akan] tanpa air, kamu akan mengering di tengah suka cita Firdaus. Tapi kalau kamu menginginkan anggur dari sungai [anggur] yang mengalir, karena tidak ada air yang mengalir, karena si Unta meminum habis semuanya, engkau akan terbakar (?) meminum anggur yang tidak dicampur [catatan DeusVult: adat jaman dahulu adalah mencampur anggur dengan air supaya tidak terlalu keras], dan pingsan (?) dalam kemabukan, dan tertidur. Dan juga, karena kepala menjadi berat setelah tertidur, dan karena menderita pusing kepala karena anggur, engkau akan melupakan kenikmatan Firdaus. Karenanya, kenapa nabimu tidak berpikir mengenai hal-hal ini yang mungkin terjadi di Firdaus-sukacita-mu? [Mengapa nabimu juga tidak] mempertimbangkan mengenai si Unta, dimana sekarang dia hidup. Tapi tidak satupun kamu tanyakan kepadanya [ie. Mamed], sebagaimana sang pencerita-mimpi [ie. si Mamed] menceritakan kepadamu mengenai tiga sungai. Tapi kami mengatakan kepadamu dengan pasti, untamu yang bagus itu telah berlari mendahuluimu kedalam jiwa-jiwa keledai-keledai, dimana kamu akan sesegeranya hidup seperti binatang-binatang. Dan di tempat itu adalah kegelapan luar, dan hukuman tak berkesudahan, api yang berkobar-kobar, cacing-cacing yang tak tidur dan iblis-iblis Tartarus.

Mamed berbicara lagi (di) tulisan Sang Meja [ie. Al-Maedah, surat kelima di Quran]. Dan dia berkata bahwa Kristus meminta pada Allah sebuah meja, dan Dia memberikannya kepadanya. Karena Allah, katanya [ie. Mamed], berkata kepadanya [ie. Kristus] bahwa "Aku telah memberimu dan kepadamu sebuah meja yang tak-terusakkan." [catatan DeusVult: bandingkan Quran surat 5:114-115]

Kemudian lagi, tulisan Sang Sapi [ie. Al-Baqarrah atau disebut juga Al-Tauwbat, surat kedua di Quran], dan beberapa perkataan bodoh lainnya yang layak ditertawai, aku pikir aku harus melewatkannya karena jumlah tulisan-tulisan itu yang banyak. Dia [ie. Mamed] meng-undang-undangkan bahwa mereka [ie. pengikut Mamed] untuk disunat, termasuk para wanita, dan juga memerintahkan untuk tidak mentaati [hari] Sabat, atau dibaptis, dan [tidak] memakan beberapa [makanan] yang dilarang dalam Hukum [Taurat], dan [juga] untuk menghindari (beberapa) [makanan] yang [sebenarnya] diijinkan [Hukum Taurat]. Dan dia secara total melarang minum anggur.

sumber: ekaristi.org

Tuesday, September 13, 2011

Tiga Pokok Pandangan Mengenai Tradisi Para Rasul


Bapa Suci Benediktus XVI dalam Audiensi Umum 28 Maret 2007 berbicara mengenai Bapa Gereja dari kota Lyon (Prancis), St. Ireneus. St. Ireneus adalah murid dari St. Polikarpus dari Smirna di mana St. Polikarpus ini sendiri adalah murid St. Yohanes Penulis Injil. Bapa Suci Benediktus XVI sendiri menganggap St. Ireneus dari Lyon sebagai jawara dalam melawan berbagai bidaah (ajaran sesat) yang menyerang Gereja Katolik.

Dalam Audiensi Umum ini, Bapa Suci Benediktus XVI menyampaikan tiga pokok pandangan mengenai Tradisi Para Rasul yang diterangkan oleh St. Ireneus dari Lyon. Tiga pokok pandangan asli itu adalah:


1. Tradisi Para Rasul adalah publik, bukan pribadi atau rahasia. Ireneus tidak ragu bahwa intisari iman yang diteruskan oleh Gereja adalah [intisari iman] yang telah diterimanya dari Para Rasul dan dari Yesus Putera Allah. Tidak ada pengajaran apapun selain ini. Maka dari itu, kalau orang mau mengetahui pengajaran yang benar, cukuplah mengenal �Tradisi yang datang dari Para Rasul dan iman yang telah diwartakan kepada manusia�: yaitu Tradisi dan Iman �yang telah sampai pada kita melalui suksesi Para Uskup.�1 Karena itu, suksesi para Uskup, yaitu prinsip personal, sesuai dengan Tradisi Para Rasul, yaitu prinsip doktrinal.
2.Tradisi Para Rasul adalah unik. Sedang, dalam kenyataannya, Gnostisisme terbagi dalam banyak sekte. Tradisi Gereja adalah unik dalam isi pokoknya. Justru itulah � seperti sudah kita lihat � yang oleh Ireneus dengan persis disebut regula fidei atau regula veritatis: dan dengan demikian, karena Tradisi Gereja adalah satu, Tradisi Gereja menciptakan kesatuan melintasi bangsa-bangsa, melintasi peradaban yang berbeda-beda, melintasi bangsa yang berbeda-beda. Tradisi Gereja merupakan isi yang dimiliki bersama sebagai kebenaran, betapapun bahasa dan peradaban berbeda-beda.
Suatu ungkapan amat berharga dari Ireneus ditemukan dalam bukunya Adversus Haereses (Melawan bidaah-bidaah): �Gereja, walaupun tersebar di seluruh dunia menerima dengan cermat [iman Para Rasul] seakan-akan hanya mendiami satu rumah. Demikian pula Gereja percaya akan kebenaran-kebenaran ini seperti memiliki satu jiwa dan satu hati: Gereja mewartakan kebenaran-kebenaran ini dalam kesatuan, mengajarkannya dan meneruskannya seakan-akan dengan satu mulut saja. Bahasa di dunia berbeda-beda, tetapi kekuasaan tradisi adalah satu dan sama. Gereja-gereja yang telah didirikan di Jerman tidak menerima dan tidak meneruskan iman yang berbeda, atau Gereja yang telah didirikan di Spanyol, atau di antara orang-orang Kelt, atau di daerah Timur, atau di Mesir atau di Libya, atau di daerah pusat dunia pun tidak.�2
Sudah pada saat itu, berarti dalam tahun 200, orang dapat melihat universalitas Gereja, kekatolikannya, serta daya kebenaran untuk mempersatukan kenyataan-kenyataan yang berbeda-beda  dari Jerman sampai Spanyol, sampai Italia, sampai Mesir, sampai Libya, dalam kebenaran umum yang telah diwahyukan Kristus kepada kita.
3. Akhirnya, Tradisi Para Rasul adalah pneumatik, menurut istilah Yunani yang dipakai Ireneus, sebab dengan bahasa itu bukunya ditulis. Pneumatik berarti rohani, dituntun oleh Roh Kudus. Dalam bahasa Yunani, roh disebut pneuma. Yang dimaksudkan ialah bahwa transmisi, penerusan kebenaran dipercayakan bukan kepada kemampuan manusia yang sedikit banyak terpelajar, melainkan kepada Roh Allah yang menjamin kesetiaan kepada transmisi iman.
Demikianlah �hidup� Gereja yang selalu menyegarkan dan mempermuda Gereja, menjadikannya subur dengan aneka kharisma.
Gereja dan Roh, bagi Ireneus, tak terpisahkan satu sama lain. Seperti kita baca dalam buku ketiga Adversus Haereses, �iman itu telah kita terima dari Gereja dan kita pelihara: iman itu, oleh karya Roh Allah, adalah hal yang dipercayakan kepada kita (depositum), yang dijaga dalam suatu bejana yang memuatnya .... Di mana Gereja ada, di situ ada Roh Allah, dan di mana Roh Allah ada, di situ ada Gereja serta segala kasih karunia.�3

Demikianlah pengajaran Ireneus menjadi konsep dasar bagi ajaran Gereja Katolik mengenai Tradisi Para Rasul.  Ia dengan cerdas mampu menerangkan ciri-ciri khas (T)radisi yang membedakannya dari (t)radisi. Untuk mengetahui hubungan antara Tradisi Suci dengan Kitab Suci, silahkan klik artikel �Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium.

Catatan Kaki:
[1] Adversus Haereses 3, 3, 3-4
[2] Adversus Haereses 1, 10, 1-2
[3] Adversus Haereses 3, 24, 1

Pax et Bonum

Thursday, July 28, 2011

St. Petrus atau St. Paulus yang lebih dahulu tiba di Roma?

SS. Petrus dan Paulus


Banyak orang-orang Protestan dan Ortodoks menyatakan bahwa St. Paulus adalah yang pertama kali tiba di Roma dan yang pertama kali juga mengajarkan doktrin iman di sana. Tetapi beberapa fakta dari Para Bapa Gereja dan sejarah sendiri menunjukkan hal lain, yaitu bahwa St. Petrus adalah yang pertama kali tiba di Roma dan mengajarkan doktrin iman di sana. Mari kita sejenak membaca artikel ini.

Kapan St. Paulus tiba di Roma?

Tulisan dari agapebiblestudy.com menyebutkan demikian:
�Paul was still imprisoned in Caesarea when Felix was recalled to Rome and Porcius Festus was appointed procurator of Judea by the Emperor Nero in 60 AD (Kis 24:27). Appearing before Festus and his distinguished visitors, Paul preached the Gospel to the Roman governor, to King Agrippa II to and his sister Bernice (Acts 25-26).  Fearing the Jews were going to demand he be returned for trial in Jerusalem, Paul appealed to Caesar, his right as a Roman citizen.  Festus granted the request and Paul was send to Rome in 60 AD.

Dan dari situs biblestudy.org disebutkan:

"In the Autumn of 60 A.D. Paul, along with other prisoners, boards a boat for Rome. Paul's travel to Rome is considered to be his fourth missionary journey. The prisoners are escorted on their journey to Rome by a Roman Centurion named Julius (Acts 27:1-2). After stopping in several cities along the way, Paul and company make their way to the Isle of Crete (Acts 27:7). Although Paul warns Julius not to sail the Mediterranean during a dangerous time of the year (September to October), the Centurion disregards his advice and sets sail from Crete (Acts 27:9-12). The ship encounters a fierce storm along the way and is shipwrecked near the island of Malta (Acts 27:14 - 28:1). All those on the ship either swim or grab boards from the wreck and successfully make their way to the island. After staying three months Paul and company set sail again for Rome. He eventually arrives in the Italian port city of Puteoli (Acts 28:13), where he stays for one week with Christians in the area. Paul is then taken to Rome via the well-known Appian Way Road (Acts 28:14-16)."

Hal ini membuktikan bahwa St. Paulus baru tiba di Roma sekitar tahun 60 M.


Kapan St. Petrus tiba di Roma?

Sejarahwan Gereja, Eusebius dari Caesarea menyebutkan bahwa:
"[In the second] year of the two hundredth and fifth Olympiad [A.D. 42]: The apostle Peter, after he has established the church in Antioch, is sent to Rome, where he remains as a bishop of that city, preaching the gospel for twenty-five years" (The Chronicle [A.D. 303]).
St. Hieronimus juga menyebutkan bahwa:
"Simon Peter, the son of John, from the village of Bethsaida in the province of Galilee, brother of Andrew the apostle, and himself chief of the apostles, after having been bishop of the church of Antioch and having preached to the Dispersion . . . pushed on to Rome in the second year of Claudius to overthrow Simon Magus, and held the sacerdotal chair there for twenty-five years until the last, that is the fourteenth, year of Nero. At his hands he received the crown of martyrdom being nailed to the cross with his head towards the ground and his feet raised on high, asserting that he was unworthy to be crucified in the same manner as his Lord" (Lives of Illustrious Men 1 [A.D. 396]).
Sedangkan, St. Optatus dari Milevis menyatakan demikian:
"You cannot deny that you are aware that in the city of Rome the episcopal chair was given first to Peter; the chair in which Peter sat, the same who was head�that is why he is also called Cephas [�Rock�]�of all the apostles; the one chair in which unity is maintained by all" (The Schism of the Donatists 2:2 [A.D. 367]).
Dari sumber-sumber di atas, dapat kita ketahui bahwa St. Petrus tiba di Roma pada tahun 42 M dan menjadi Uskup di Roma selama 25 tahun sampai pada wafatnya sebagai martir pada tahun 67 M pada masa pemerintahan Kaisar Nero.

Satu hal lain, St. Petrus menulis surat pertamanya dari Roma (yang kala itu dijuluki sebagai Babilonia).
�Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang�. Dengan perantaraan Silwanus, yang kuanggap sebagai seorang saudara yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu,� Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku." (1 Pet 1:1, 5:12-13)
Babilon di sini merupakan sebutan bagi kota Roma. Sebab Roma telah menganiaya Gereja, sebagaimana Babilon telah menganiaya umat Allah di jaman PL (2 Raj 24). Umat Yahudi saat itu menyebut kota Roma sebagai Babilon, karena melihat kesamaan ciri- ciri antara Babilon [kota dunia yang tak bermoral, sombong, tak ber-Tuhan] yang disebut oleh para nabi (Yes 13; 43:14; Yer 50:29; 51:1-58) dengan kota Roma pada saat itu. [dikutip dari katolisitas.org]

St. Papias (60-130), murid St. Yohanes Penulis Injil, berkesaksian seperti yang dikutip oleh Eusebius dari Caesarea :
And they say that Peter when he had learned, through a revelation of the Spirit, of that which had been done, was pleased with the zeal of the men, and that the work obtained the sanction of his authority for the purpose of being used in the churches. Clement in the eighth book of his Hypotyposes gives this account, and with him agrees the bishop of Hierapolis named Papias. And Peter makes mention of Mark in his first epistle which they say that he wrote in Rome itself, as is indicated by him, when he calls the city, by a figure, Babylon, as he does in the following words: "The church that is at Babylon, elected together with you, greets you; and so does Mark my son." -Ecclesiastical History 2.15.1-2
Dengan membandingkan waktu tibanya kedua rasul ini, kita dapat menyatakan bahwa St. Petruslah yang tiba lebih dahulu dan mendirikan Tahta Apostolik Roma. Dari Roma, St. Petrus menulis surat pertamanya.

Bapa Gereja Theodoret dari Cyrus (393-457), seperti yang dikutip oleh Uskup Agung Kenrick dari Baltimore, memberi komentar demikian terhadap surat dari St. Paulus kepada umat di Roma:
Theodoret, commenting on the passage of St. Paul, in which he expresses, his desire to confirm the Romans in the faith, observes : "Because the great Peter was the first to instruct them in the evangelical doctrine, he necessarily said ' to confirm you ;' for he says : I do not mean to propose to you a new doctrine, but to confirm that which has been already delivered, and to water the trees that have been planted. " (Theodoret of Cyrus, Com. in c. 1, ad Rom) [1]
St. Paulus sendiri menyatakan hal demikian dalam surat kepada umat di Roma 15:20.
Rom 15:20 Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain. 
Dari berbagai sumber di atas, dapat disimpulkan bahwa ketika St. Paulus datang, telah ada Tahta Apostolik di Roma. Tahta Apostolik di Roma itu sendiri didirikan oleh St. Petrus jauh sebelum St. Paulus tiba di Roma. Dengan demikian St. Petrus-lah yang lebih dahulu tiba di Roma daripada St. Paulus.

[1] Archbishop Kenrick of Baltimore, The  Primacy Of The Apostolic See Vindicated p. 81.

Pax et Bonum


Saturday, July 23, 2011

Apakah Kaisar Konstantinus pendiri Gereja Katolik?

Hosius of Cordoba
Gereja Katolik selalu meyakini dan mengimani bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Tetapi, sejumlah orang anti-Katolik mengklaim bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kaisar Konstantinus. Tentunya, tidak ada seorang pun sejarahwan dari universitas yang kredibel menerima klaim ini. Mereka yang mengklaim demikian mendasarkan klaim mereka pada pernyataan bahwa Kaisar Konstantinus mengadakan dan memimpin Konsili Nicea serta menentukan keputusan yang diambil oleh Konsili Nicea. Mereka juga menyatakan bahwa pada Konsili Nicea I inilah Gereja Katolik didirikan oleh Kaisar Konstantinus. Dasar dari klaim ini sendiri sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Konsili Nicea 325 M sendiri memang merupakan Konsili Ekumenis pertama dalam Gereja Katolik. Kaisar Konstantinus juga memang memanggil Para Uskup untuk mengadakan Konsili Nicea pada tahun 325 M menanggapi bidaah Arianisme. Tetapi, Kaisar Konstantinus sama sekali tidak memimpin konsili ini atau campur tangan dalam keputusan konsili ini. Konsili ini sendiri dipimpin oleh Uskup Hosius dari Cordoba sebagai utusan Paus St. Silvester bersama dengan dua orang Imam utusan Paus St. Silvester yaitu, Pater Vitus dan Pater Vinsensius. Hosius sendiri adalah orang yang pertama menandatangani seluruh dekrit Konsili Nicea. Ia menandatanganinya dalam nama, �Gereja Roma dan Gereja-gereja seluruh Italia, Spanyol dan seluruh Barat� lalu disusul oleh Vitus dan Vinsensius. [1] Hosius sendiri adalah seorang Uskup yang sangat anti terhadap campur tangan kekaisaran dalam urusan Gereja. Jadi, sulit bagi kita untuk menerima bahwa Konstantinus campur tangan dalam pengambilan keputusan Konsili Nicea. Pandangan Hosius sendiri tercermin dalam kutipannya berikut ini.

Cease these proceedings, I beseech you, and remember that you are a mortal man. Be afraid of the day of judgment, and keep yourself pure thereunto. Intrude not yourself into Ecclesiastical matters, neither give commands unto us concerning them; but learn them from us. God has put into your hands the kingdom; to us He has entrusted the affairs of His Church; and as he who would steal the empire from you would resist the ordinance of God, so likewise fear on your part lest by taking upon yourself the government of the Church, you become guilty of a great offense. It is written, "Render unto Caesar the things that are Caesar's, and unto God the things that are God's" [Mt 22:21]. Neither therefore is it permitted unto us to exercise an earthly rule, nor have you, Sire, any authority to burn incense . These things I write unto you out of a concern for your salvation. With regard to the subject of your letters, this is my determination; I will not unite myself to the Arians; I anathematize their heresy. Neither will I subscribe against Athanasius, whom both we and the Church of the Romans and the whole Council pronounced to be guiltless. Hosius of Cordova, Letter to Emperor Constantius II.

Perlu dipahami bahwa otoritas untuk memimpin suatu Konsili Ekumenis pertama-tama berasal dari Paus Roma bukan dari kekaisaran atau penguasa sekuler. Juga, ekumenis atau tidaknya suatu konsili, ditentukan oleh partisipasi Paus Roma baik ia sendiri atau melalui Para Legatus (Utusan) Paus serta penerimaan oleh Paus Roma terhadap konsili tersebut.

Melihat fakta bahwa otoritas gerejawi dalam Konsili Nicea tidak dipegang oleh Kaisar Konstantinus dan Konsili Nicea sendiri dipimpin oleh seorang Uskup yang anti dengan campur tangan kekaisaran, maka kita tidak dapat menerima klaim bahwa Konstantinus memimpin dan menetapkan keputusan Konsili Nicea. Dengan demikian klaim anti-Katolik bahwa Konstantinus adalah pendiri Gereja Katolik sendiri sudah gugur karena dasar klaim ini telah gugur juga.

Lagipula, mau kita kemanakan bukti-bukti eksplisit dari Bapa Gereja berikut yang telah hidup beberapa ratus tahun sebelum Kaisar Konstantinus?

"See that ye all follow the bishop, even as Christ Jesus does the Father, and the presbytery as ye would the apostles. Do ye also reverence the deacons, as those that carry out the appointment of God. Let no man do anything connected with the Church without the bishop. Let that be deemed a proper Eucharist, which is [administered] either by the bishop, or by one to whom he has entrusted it. Wherever the bishop shall appear, there let the multitude also be; by the bishop, or by one to whom he has entrusted it. Wherever the bishop shall appear, there let the multitude also be; even as, wherever Jesus Christ is, there is the Catholic Church."Ignatius of Antioch, Epistle to the Smyrneans, 8:2 (c. A.D. 110). 
"[A]ll the people wondered that there should be such a difference between the unbelievers and the elect, of whom this most admirable Polycarp was one, having in our own times been an apostolic and prophetic teacher, and bishop of the Catholic Church which is in Smyrna. For every word that went out of his mouth either has been or shall yet be accomplished."Martyrdom of Polycarp, 16:2 (A.D. 155)

"[N]or does it consist in this, that he should again falsely imagine, as being above this [fancied being], a Pleroma at one time supposed to contain thirty, and at another time an innumerable tribe of Aeons, as these teachers who are destitute of truly divine wisdom maintain; while the Catholic Church possesses one and the same faith throughout the whole world, as we have already said." Irenaeus, Against Heresies, 1:10,3 (A.D. 180).

Pernyataan bahwa Kaisar Konstantinus yang mendirikan Gereja Katolik merupakan klaim yang melecehkan fakta-fakta sejarah yang ada. Sekali lagi, sejarah berada di pihak Gereja Katolik.

Pax et Bonum

[1] Mansi, ii. 692, 697, 882, 927.

Saturday, June 25, 2011

Penjelasan dan Refleksi tentang Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi



Gereja Katolik secara konsisten meyakini dan mengajarkan Dogma Transubstansiasi. Dogma ini menyatakan bahwa dalam Perayaan Ekaristi �oleh konsekrasi roti dan anggur terjadilah perubahan seluruh substansi roti ke dalam substansi tubuh Kristus, Tuhan kita, dan seluruh substansi anggur ke dalam substansi darah-Nya. �[1]
Dengan demikian, �Kristus hadir di dalam Sakramen (Ekaristi) ini oleh perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah-Nya.� [2]
Dalam Sakramen Mahakudus tercakuplah "dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus" (Konsili Trente: DS 1651).[3]


Gereja Katolik menolak pernyataan Calvinis dan beberapa denominasi Protestan lain yang menganggap bahwa roti dan anggur yang telah dikonsekrasi itu hanya sekadar lambang Tubuh dan Darah Yesus Kristus.

Saudara-saudari sekalian, dogma ini bersumber dari pengajaran Yesus Kristus yang diteruskan dalam Magisterium Gereja Katolik, Kitab Suci dan Tradisi Suci.
Sekarang, mari kita melihat ke dalam Kitab Suci dan Pengajaran Para Bapa Gereja mengenai Kehadiran Nyata (Real Presence) Yesus Kristus dalam Sakramen Ekaristi.

Kitab Suci memberi kita pernyataan Yesus sendiri yang secara literal berkata:

Mat 26:26-28
26:26. Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku."
26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
Mrk 14:22-24
14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Ambillah, inilah tubuh-Ku."
14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.
14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: "Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.
Luk 22:19-20
22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."
22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus mengulang kembali dengan kata-kata yang diucapkan Yesus pada perjamuan terakhir.
1 Kor 11:23-25
11:23. Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"

Kita telah melihat sendiri bahwa Tuhan kita Yesus Kristus berkata dengan jelas bahwa roti dan anggur yang dikonsekrasi tersebut adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah-Nya. Yesus tidak berkata �inilah lambang Tubuh-Ku� juga tidak berkata �Inilah lambang Darah-Ku�. Tetapi Ia dengan tegas dan to the point  berkata �Inilah Tubuh-Ku� dan �Inilah Darah-Ku�.

Injil Yohanes juga memberikan kita bukti dan pengajaran yang sungguh eksplisit mengenai ajaran iman ini.
6:48 Akulah roti hidup.
6:49 Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati.
6:50 Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati.
6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."
6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

Kita tidak dapat menolak kenyataan bahwa Yesus meminta kita untuk memakan daging-Nya dan darah-Nya yang tersamar dalam rupa roti dan anggur yang sudah dikonsekrasi. Sulit bagi saya pribadi  (dan semoga juga anda, para umat Katolik sekalian) untuk memahami pernyataan Yesus seluruhnya dalam perikop-perikop di atas, terutama Yoh 6:48-58, sebagai suatu pernyataan yang metafora atau simbolik belaka. Beberapa alasan mengapa kita tidak dapat memahami pernyataan Yesus dalam Yoh 6:48-58 sebagai pernyataan yang metafora atau simbolik adalah sbb:
1. Peristiwa pada perikop Yoh 6:48-58 merupakan satu-satunya peristiwa dalam Kitab Suci di mana ada begitu banyak murid yang meninggalkan Yesus terkait sebuah doktrin iman (Yoh 6:66).
2. Dari ayat yang lain di bab yang sama, kita juga menemukan bahwa ketidakpercayaan Yudas akan Ekaristi adalah akar dari pengkhianatannya kepada Kristus (Yoh 6:64, 70-71).
3. Yesus Kristus sama sekali tidak mengoreksi pernyataan-Nya atau memberikan penjelasan lebih lanjut bila pernyataannya itu adalah pernyataan simbolis. Malah, Yesus bertanya kepada Para Rasul, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67).
4. Fakta lain yang kita temukan dalam perikop Yoh 6:48-58 adalah pada Yoh 6:58 kata �makan� di sini memiliki kata asli dalam bahasa Yunani �t?????� (baca: tro'-go) yang secara literal bermakna �mengunyah�. [4]

PENGAJARAN PARA BAPA GEREJA
Surat kepada Gereja di Roma: �Saya tidak mengambil kesenangan akan makanan yang dapat rusak atau kesenangan hidup. Saya ingin roti dari Allah yaitu Daging Kristus (Flesh of Christ)  yang adalah keturunan Daud dan untuk minuman, saya ingin Darah-Nya yang adalah cinta yang tak dapat rusak.� (St. Ignasius dari Antiokia, murid Rasul Yohanes Penulis Injil, dalam suratnya kepada umat di Roma). [5]
Tomas Aquinas mengatakan: "Bahwa tubuh Kristus yang sebenarnya dan darah Kristus yang sebenarnya hadir dalam Sakramen ini, tidak dapat ditangkap oleh indera ..., tetapi hanya oleh iman, yang bersandar pada otoritas ilahi. Karena itu berkatalah Sirilus tentang kalimat Kitab Suci 'Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu' (Luk 22:19): 'jangan ragu-ragu apakah itu benar, melainkan terimalah kata-kata Penebus itu dalam iman. Karena Ia adalah kebenaran, jadi Ia tidak menipu'" (s.th. 3,75,1; dikutip oleh [Paus] Paulus VI, MF 18). [6]
Sesudah membaca penjelasan di atas, saya mengajukan beberapa pertanyaan reflektif untuk anda dan diri saya sendiri:
1. Apakah kita selama ini menyadari dan percaya bahwa yang setiap hari Minggu kita sambut dalam perayaan Ekaristi adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Tuhan kita Yesus Kristus? Atau kita masih menganggap sekadar lambang saja?
2. Apakah kita sudah mempersiapkan jiwa dan raga kita semaksimal mungkin untuk menyambut Dia yang hadir dalam Ekaristi? Atau kita hanya sekadar mempersiapkan seadanya?
3. Apakah kita, dalam menyambut Tubuh dan Darah Kristus pada saat Perayaan Ekaristi, menggunakan pakaian yang sopan dan pantas? Atau kita masih memilih secara asal-asalan pakaian yang hendak digunakan dalam menyambut-Nya, Sang Raja kita?
4. Dalam 1 Korintus 11:27, Paulus mengajarkan, �Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.� Apakah kita telah memeriksa batin, merenung dan menyadari apakah kita sedang berada dalam keadaan berdosa berat atau tidak? Sebab, jikalau kita berada dalam berdosa berat, kita tidak boleh dan tidak layak menyambut Tubuh dan Darah-Nya. [7]
5. Apakah kita mengikuti Perayaan Ekaristi dengan khusuk dan fokus? Atau, karena merasa bosan,  kita memilih untuk bermain handphone, facebook-an, sms-an, berbicara dengan teman di sebelah, lirik-lirik tidak jelas dan sebagainya?
6. Apakah kita mengucapkan teks-teks dalam Perayaan Ekaristi dengan penuh penghayatan dan tenang? Atau kita sekadar mengucapkannya secara asal-asalan?
7. Apakah kita menghadiri Perayaan Ekaristi karena kita memang membutuhkan makanan rohani kita? Atau sekadar memenuhi kewajiban dan rutinitas?

Menutup penjelasan dan refleksi dari saya ini, saya cantumkan sebagian lirik himne �Adoro Te Devote� karya St. Thomas Aquinas berikut ini.

Aku sembah sujud di hadapan-Mu
Tuhan yang tersamar hadir di sini
Hanya rupa roti tertampak kini
Namun aku yakin akan Sabda-Mu

Pancainderaku tak menangkapnya
Namun aku yakin akan Sabda-Mu
Sebab hanya Sabda Allah Putera
Kebenaran mutlak tak tersangkalkan. [8]

[1] Katekismus Gereja Katolik 1376
[2] Katekismus Gereja Katolik 1375
[3] Katekismus Gereja Katolik 1374
[5] The Apostolic Fathers, diterjemahkan oleh J.B. Lightfoot dan J.R. Harmer, disunting dan direvisi oleh Michael W. Holmes. Grand Rapids: Baker Book House, c. 1989, hlm. 105
Lihat ketiga kutipan St. Ignasius di artikel ini: Ignasius dari Antiokia dan Ekaristi
[6] Katekismus Gereja Katolik 1381
[7] Katekismus Gereja Katolik 1415. Lihat pula penjelasan tentang Dosa Berat dan Dosa Ringan.
[8] Katekismus Gereja Katolik 1381. Teks himne Adoro Te Devote dalam Bahasa Indonesia dapat dilihat di Puji Syukur no. 560 dengan judul �Allah yang Tersamar�. Lihat juga Teks Latindan Inggris beserta link videonya.

By Pax et Bonum,
Administrator Page Gereja Katolik, awam dan mahasiswa (19 tahun).

Recent Post